Sukses

Lifestyle

Ujian sebelum Menikah Itu Berat, Masalah Bisa Datang dari Arah Tak Disangka-sangka

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Raistamala Nediasani

Aku Lala, gadis 29 tahun yang baru saja ditinggal pergi oleh ayah tercinta untuk selama-lamanya. Duniaku rasanya runtuh seketika saat itu. Tapi aku tidak sendiri. Aku punya teman, keluarga, sahabat yang selalu mendukungku untuk bangkit. Sahabatku, namanya Aldi.

Kami kenal sejak 14 tahun lalu dan mulai dekat sebagai sahabat sejak 12 tahun yang lalu. Selama 12 tahun kami bersahabat, kami tidak punya perasaan tertarik satu sama lain. Bahkan kami punya pacar masing-masing sepanjang 12 tahun itu, meskipun pada akhirnya hubungan kami kandas semua.

Setelah peristiwa putusnya kami berdua dengan pasangan kami masing-masing, banyak sekali yang menyarankan agar kami menjalin hubungan. Kami menolak mentah-mentah saran itu. Bagi kami, kami cukup bersahabat saja, tidak perlu menumbuhkan bibit cinta diantara kami. Namun sepertinya Tuhan punya rencana lain untuk kami.

Tanggal 29 Agustus 2020, ketika kami sedang pergi berdua, dia menyetir dan aku sudah setengah mati menahan kantuk, tiba-tiba dia mengucapkan kalimat yang sebelum-sebelumnya tidak pernah kupikirkan. “Ayo nikah, yuk," ucapnya dengan wajah tanpa keseriusan sama sekali. Ah sudahlah, dia mungkin cuma bercanda, aku pun menanggapi dengan bercanda pula. 

Dua hari kemudian dia lagi-lagi mengutarakan niat dia untuk menikahiku. Namun kali ini aku melihat sebuah keseriusan dari nada bicaranya. Entah ada apa denganku, aku tiba-tiba yakin 100% kalau dia jodohku. Aku menerima pinangannya tanpa perlu waktu berhari-hari untuk berpikir. Tuhan yang membuat kami ada di situasi ini, maka aku percayakan keputusanku pada Tuhan.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk tunangan tanggal 16 November 2020. Sejak memutuskan untuk menikah, kukira aku adalah pribadi yang akan tetap santai saat menyiapkan segala sesuatu tentang pernikahan.

Seminggu sebelum tunangan aku bahkan masih roadtrip Malang – Kudus – Yogyakarta – Kediri – Malang. Aku memasak sendiri semua hidangan saat acara tunangan itu. Aku masih tetap jadi Lala yang santai. Setelah acara tunangan selesai, disepakati kami akan menikah tanggal 8 Agustus 2021. Kenapa pilih tanggal itu? Ya karena lucu, bukan karena perhitungan apa pun. Selanjutnya, tugas kami adalah mempersiapkan acara pernikahan tersebut. Aku bukan orang awam di dunia wedding event, aku paham alur-alurnya, jadi kupikir ini akan lebih mudah, hanya sedikit terhambat karena pandemi.

“Gimana persiapan nikahanmu? Nggak mau pake WO aja?" ucap temanku yang mengetahui aku akan segera menikah. Setelah kujelaskan aku akan mengurus semuanya sendiri, dia mendukungku. “Ah tapi kan gampang, yang penting gedung, catering, dokumentasi, dekorasi, rias, itu yang gede-gede."

Aku hanya tersenyum namun pikiranku melayang tak tentu arah. Semua orang di sekitarku selalu memberi semangat dan memberi energi positif karena aku pun juga melakukan hal yang sama. Aku masih jadi Lala yang terlihat santai untuk segala hal. Namun tidak sedikit juga yang mengkritik keputusan-keputusanku. Salah satunya saat aku memutuskan untuk menyewa sebuah gedung di salah satu rumah makan di daerah kabupaten, yang jaraknya sekitar 15 km dari pusat kota. Hampir semua orang yang kuberi tahu akan mengkritik, “Kenapa jauh banget? Kenapa nggak ambil yang di kota aja?”

Semuanya Kuurus Sendiri

Sesungguhnya, semua yang kujalani tidak semulus ekspektasiku. Kupikir ini hal yang akan mudah karena aku terbiasa mengurus pernikahan orang lain, ternyata aku keliru. Aku menyiapkan segala sesuatunya sendiri, aku tidak punya sosok ayah yang selama 29 tahun selalu jadi teman diskusiku dalam segala hal. Ibuku dalam keadaan sakit jantung dan kondisinya cukup lemah. Kakak laki-lakiku sedang sibuk dengan persiapan kelahiran anak keduanya. Aldi, calon suamiku, tidak terlalu bisa banyak membantu karena hanya dapat libur di hari Minggu.

Menyiapkan pernikahan di era pandemi sungguh menguras tenaga, emosi, juga dana. Ujian pertama datang satu bulan setelah kami tunangan. Aku dan ibuku terinfeksi virus Corona yang mengharuskanku isolasi mandiri selama 21 hari pada saat itu. Tapi aku yakin aku bisa meskipun dengan banyak drama yang harus dilalui. Aku yakin aku tidak akan jadi bridezilla.

Siang itu aku bertemu dengan temanku, dia bertanya banyak tentang pernikahanku. Aku pun menjelaskan sudah di tahap membayar DP untuk semua vendor besar. Gedung, dekorasi, catering, MC, make up, dokumentasi, band, jas dan gaun semuanya sudah aku booking. “Wah, udah 50% lebih, enak deh tinggal ngurus yang kecil-kecil. Kamu pengantin yang santai banget ya," ucapnya. Iya, sampai siang itu hidupku masih baik-baik saja. Masalah demi masalah belum muncul.

Banyak hal yang seolah-olah jadi pengganjal mulusnya persiapan pernikahanku. Di bagian ini aku sadar, menyiapkan pernikahan tidak cuma urusan vendor-vendor. Satu per satu masalah muncul.

Awal Mei 2021 kami sudah mulai mengurus dokumen pengantar pernikahan karena ingin segera selesai agar beban pikiran sedikit berkurang. FYI, aku harus pindah nikah ke kabupaten karena akad nikahku diselenggarakan di kabupaten sedangkan domisiliku dan Aldi di Kota.

Baru saja kami melangkah sampai tahap kelurahan, masalah muncul. Dokumen-dokumennya Aldi banyak yang salah penulisan nama ibunya. Dari KK, Akta, buku nikah ibunya pun semua salah penulisan nama ibu. Seketika dapat berita itu aku menangis sejadi-jadinya, karena aku tahu memperbaiki semuanya itu tidak mudah dan butuh waktu lama.

Aku hanya takut kami tidak bisa menikah tanggal 8 agustus jam 8.30 pagi karena slot penghulu sudah terisi. Kami tidak bisa mengubah rundown karena semuanya sudah tertata rapi dan waktu kita sangat mepet. Mengganti nama dalam dokumen diri harus melalui sidang di Pengadilan Negeri, dan harus berdasarkan buku nikah orang tua. Namun yang menjadi masalah lagi, buku nikah orang tuanya pun ada salah penulisan nama, jadi kami harus ke Trenggalek dulu untuk memperbaiki buku nikah tersebut.

Akhirnya kami mencoba menjalani dengan tenang, kami urai permasalahan dokumen ini pelan-pelan, meskipun masih dengan ketakutan tentang slot penghulu. Namun, di saat kami berada di titik ikhlas dan tenang serta pasrah, Tuhan menurunkan kuasa-Nya.

Tetap Tegar Hadapi setiap Permasalahan yang Ada

Salah seorang sahabat ayahku ternyata kepala KUA tempatku menikah, dan bersedia membantu kelancaran pengurusan pengantar pernikahan, bahkan jika dokumen-dokumen kami baru selesai H-1 pun beliau bersedia membantu. Sungguh aku terharu dengan pertolongan Tuhan yang sungguh luar biasa.

Setelah itu aku bisa kembali konsentrasi dengan persiapan yang lainnya. Aku adalah pengantin mandiri yang kemana-mana sendiri, mengerjakan segala sesuatunya sendiri, termasuk memasukkan undangan ke plastiknya, menamainya, membuat paket souvenir sendiri. Bukan karena apa, tapi aku adalah tipe orang yang perfeksionis, aku ingin semuanya terlihat sempurna meskipun dengan keterbatasan dana karena aku sudah tidak punya ayah yang akan membiayai segala persiapan pernikahanku.

Satu masalah terurai, muncul masalah berikutnya. Dua bulan sebelum pernikahanku, kasus covid-19 kembali meroket. Salah satu kota yang paling parah adalah Kudus, Jawa Tengah. Seketika ibuku panik luar biasa karena Kudus merupakan kampung halamanku, tempat  hampir semua keluargaku ada disana.

Jujur, aku sudah jauh lebih tenang dalam menghadapi situasi apapun, namun beda hal dengan ibuku. Jika kami mengundang keluarga dari Kudus, kami salah karena kami tahu Kudus sedang tidak baik-baik saja. Ibu merasa serba salah. Namun setelah diskusi panjang lebar, akhirnya kami memutuskan untuk melarang semua keluarga dari Kudus untuk datang di acara pernikahanku.

Kami siap dengan segala cemoohan, kami siap dengan segala kalimat negatif yang kemungkinan akan kami dengar. Sudah berakhir kah masalah? Tentu tidak. Dua bulan sebelum acara, mobilku dipinjam kakakku. Jam 1 malam dia pergi dan mungkin sedang sial, mobilku ditabrak pemotor yang sepertinya sedang dalam pengaruh alkohol. Mobilku hancur. Saat diberi tahu pagi harinya, aku refleks menangis sejadi jadinya. Di saat aku menghemat segala sesuatunya demi membayar biaya pernikahan, datang masalah yang justru mengharuskanku mengeluarkan uang banyak sekali. Seketika aku merasa Tuhan sayang banget denganku, mentalku diuji berkali-kali.  

Kini 1,5 bulan menjelang acara, masih banyak sekali hal yang belum selesai, masih banyak hal yang harus diurus. Stres? Pasti. Kalau di awal aku merasa akan menjadi Lala yang terus santai menyiapkan ini, ternyata aku benar-benar menjadi bridezilla saat ini.

Aku tidak tahu kejutan apa yang akan diberi Tuhan ke aku. Aku sudah siap dengan segala kejutan yang akan datang selanjutnya. Orang bilang ujian sebelum menikah itu berat. Banyak orang yang mewanti-wantiku untuk selalu rukun dengan Aldi. Tapi ketahuilah wahai para calon pengantin, ujian sebelum menikah tidak melulu dari kalian dan pasangan kalian, ujian sebelum menikah bisa datang dari segala arah.

Tapi aku sadar, Tuhan mungkin mengujiku untuk membentuk pribadi yang lebih kuat nantinya, karena akad dan resepsi pernikahan adalah gerbang dari kehidupan yang selanjutnya. Tapi bagaimana pun, aku sudah menjadi bridezilla saat ini, yang sangat sering menangis kalau ingat semuanya, yang sudah tidak bisa menceritakan satu per satu kendala kami sejak awal sampai nanti hari H, terlalu banyak cerita yang mengandung tangisan.

Doaku setiap malam hanya ingin acara berjalan lancar. Jika ada kendala, datangkan sepaket dengan solusinya, karena cuma itu satu-satunya cara untuk keluar dari sosok bridezilla. 

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading