Sukses

Lifestyle

Diary Fimela: Alamanda Shantika, Sosok Perempuan Mencetak Talenta Digital Indonesia

Fimela.com, Jakarta Berbicara mengenai perempuan dan teknologi digital di Indonesia pasti kamu tidak asing lagi dengan nama Alamanda Shantika Santoso atau yang kerap disapa Alamanda. Bersama Nadiem Makarim, Alamanda merintis Gojek dari nol hingga menjadi digital startup paling besar di Indonesia.

Namun di saat Gojek mulai stabil, Alamanda Santoso justru memilih hengkang dan fokus membangun ekosistem digital startup di nusantara. Kini, Alamanda berhasil mewujudkan impiannya untuk mencetak talenta digital Indonesia dengan mendirikan Binar Academy, sekolah teknologi informasi dengan biaya terjangkau maupun gratis yang terbuka bagi siapa saja.

Sejak kecil, Alamanda memang menyukai dunia teknologi digital. Ia bercerita saat duduk dibangku SMP tepatnya umur 13 tahun, ia kerap kali bolos sekolah. Di waktu tersebut, Alamanda lebih memilih untuk mengeksplor dunia lewat internet.

“Waktu di usia 13 tahun, internet masih eksklusif dan aku punya kesempatan itu di rumah. Melihat sesuatu yang baru rasa penasaranku timbul. Berangkat dari rasa penasaran itu, sampai akhirnya aku belajar coding, programming, dan desain,” ujar Founder Binar Academy, Alamanda Shantika dalam webinar iStyle, Jumat (15/10/2021).

Alamanda mengaku waktu kecil dirinya tidak suka sekolah, meski demikian ia tetap cinta dengan belajar. Dari internet itulah dia menemukan belajar itu menyenangkan.

“Ada banyak sekali pertanyaan saat aku pergi ke sekolah, salah satunya kenapa ya kalau anak mendapat nilai jelek harus dipermalukan yang akhirnya menimbulkan trauma-trauma. Padahal yang aku pelajari dari hidup secara natural kita belajar dari kesalahan yang kita buat,” kata Alamanda.

“Jadi buat aku sekolah bukan tempat yang aman untuk kita melakukan kesalahan. Padahal kita belajar dari kesalahan,” lanjutnya.

 

Awal mula perjalanan karier

Alamanda memiliki mimpi berkarier di bidang edukasi. Namun ternyata jalan hidup berkata lain. Saat dirinya ingin melanjutkan kuliah, ayahnya jatuh sakit dan terkena stroke.

Akibatnya, Alamanda harus memutuskan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ia harus bekerja keras demi bertahan hidup.

“Orangtua aku tidak bisa membiayai aku kuliah, akhirnya aku harus bekerja keras demi bertahan hidup dan kuliah. Mulai dari jualan DVD bajakan hingga jaket replica,” kenang Alamanda.

Memiliki perusahaan sendiri di usia 21 tahun

Dengan keahliannya dalam teknik coding dan programing yang pernah ia lakukan saat berusia 13 tahun. Pada tahun 2011, ia pun berhasil memiliki perusahaan sendiri di usia 21 tahun. Perusahaan tersebut bergerak untuk mendesain website fashion brand lokal di Indonesia.

Di tengah perjalanannya mengembangkan startup, Alamanda merasa masih terlalu muda untuk menjadi entrepreneur di usia 21 tahun. Akhirnya, dirinya memilih banting setir dan mulai lagi dari nol. Ia pun bergabung dengan beberapa perusahaan teknologi, salah satunya Gojek.

“Aku merasa masih terlalu muda untuk menjadi entrepreneur di usia 21 tahun. Aku ingin bekerja dulu sama orang, akhirnya aku banting setir dan mulai lagi dari nol. Dari sinilah aku bertemu Nadiem Makarim dan membangun Gojek dari aplikasinya belum ada,” kata Alamanda.

“Aku membangun timnya dan setelah gojek cukup besar dan menjadi first unicorn, aku memutuskan hengkang dan melanjutkan mimpiku di bidang education. Jadi disitulah turning pointnya akhirnya aku banting setir di education. Ternyata jalan aku yang masuk dunia digital itu membekali aku sampai ke titik yang aku inginkan,” imbuhnya.

Perempuan di industri teknologi

Alamanda sendiri mengaku tak pernah merasa canggung berkarier di industri teknologi yang kerap distereotipkan sebagai “ladang”-nya pria. Menurut dia, rasa minder, terdiskriminasi dan terkucilkan, pada dasarnya timbul dari buah pemikiran alias mindset masing-masing individu.

“Aku tidak pernah mengkotakkan diriku sendiri. Buat aku, stereotip tentang pemisahan dunia pria dan perempuan itu jangan diomongin terus. Karena semakin terus kita omongin, stereotipnya semakin besar. Jadi let’s stop talking about this, karena terkadang kita sendiri yang menciptakan pemikiran ini,”

“Di Binar pun kita tidak melakukan program khusus perempuan. Kenyataannya kita sekarang punya 50% Women students jadi udah balance, tanpa melakukan program-program perempuan. Orang-orang mungkin tidak sadar, kita banyakin role model perempuan agar orang mikir teknologi bukan tempatnya pria saja,” tandasnya.

 

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Brand Sepatu asal Bandung Buka Ratusan Lapangan Kerja Baru
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Kisah Haru Perjuangan Bisnis Essential Oil yang Membawa Berkah