Sukses

Lifestyle

Lady Boss: Silvia Halim, Srikandi Pemimpin Konstruksi MRT Jakarta

Fimela.com, Jakarta Banyak nama dan cerita yang menggambarkan kehebatan perempuan Indonesia dalam berbagai bidang. Salah satunya Silvia Halim, tokoh yang membanggakan dari dunia konstruksi dan transportasi.

Silvia dipercaya menjabat sebagai Direktur Konstruksi MRT Jakarta, moda transportasi yang kerap dibilang menjadi tolok ukur kemajuan pembangunan di Indonesia. Lulusan Teknik Sipil di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura ini mendedikasikan diri di dunia konstruksi dengan mindset dan tujuan mulia.

"Saya ingin sekali memberikan transportasi yang baik di Indonesia karena saya sendiri merasakan di Singapura, orang hidup di sana, transportasi publik sangat efisien, nyaman, bersih, kehidupan sehari-hari dan jadi lebih mudah, and for us women, kita merasa punya freedom, kita tidak merasa terlimitasi dalam bermobilitas. Itu sendiri sense of freedom untuk kita mengembangkan diri setiap harinya," kata Silvia Halim saat memperkenalkan 'dunia'-nya kepada FIMELA.

Mengerjakan project besar yang dipercayakan padanya, Silvia sadar akan menghadapi begitu banyak tantangan, baik teknis maupun non-teknis. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya karena ia memiliki perspektif menarik dalam bidang yang ia geluti.

"Dunia konstruksi itu seperti petualangan, karena setiap hari tidak ada yang sama, karena kita kerja di lapangan yang setiap hari gerak. Namanya juga proyek, no day is the same, jadi tantangannya selalu berbeda, akan menemukan challenge antara proyek satu dengan yang lain," lanjut perempuan kelahiran 18 Juni 1982 tersebut.

Tak bisa dipungkiri publik melihat dunia konstruksi cenderung identik dengan laki-laki. Akan tetapi Silvia Halim menegaskan jika bidangnya juga bisa didalami oleh perempuan. Yang ia tekankan adalah bagaimana perempuan melihat ke dalam diri untuk melihat kekuatan yang kadang tertutup oleh keraguan sendiri.

"Di dunia konstruksi ini tidak cuma laki-laki saja, tapi bisa dijalankan oleh laki-laki dan perempuan. Ternyata ilmu yang dibutuhkan untuk di dunia ini adalah ilmu yang tak kenal gender. Dari pengalaman pribadi, kita lihat dari dalam diri sendiri dulu, untuk tidak memberikan limitasi ke diri sendiri. Kadang-kadang our biggest enemy is ourself," tuturnya.

Lebih lanjut, Silvia Halim juga menyampaikan cita-citanya untuk Indonesia. Tak hanya soal infrastruktur, tapi juga sumber daya manusia yang bisa bersaing. Apa harapan tersebut? Berikut kutipan wawancara lengkap FIMELA dengan Srikandi yang berjasa mengembangkan transportasi sebagai sendi penggerak masyarakat.

Bertualang di Dunia Konstruksi

Apa yang membuat Anda tertarik menggeluti dunia konstruksi?

Yang buat saya tertarik menggeluti dunia konstruksi adalah bagaimana saya bisa melihat apa yang saya kerjakan itu hasilnya bisa dinikmati orang banyak. Saya menyadari ketika memulai kerja di dunia konstruksi. Kalau dulu mau masuk ke dunia konstruksi itu sebenarnya nggak ada yang khusus, everything falls into place, hanya ikuti takdir saja. Kemudian menjalani teknik sipil dan konstruksi, tadinya ngejalanin saja project management, intinya kayak menjalani saja.

Tetapi setelah saya menjalani, saya melihat apa yang saya kerjakan khususnya infrastruktur publik, seperti jalanan, jembatan, terowongan. Saya melihat ini dipakai setiap orang setiap harinya. Sehingga saya merasa impact-nya besar sekali, Itulah kenapa saya memutuskan tetap di jalur ini.

Hal menyenangkan apa yang nggak banyak orang tahu di dunia konstruksi ini?

Di dunia konstruksi ini tidak cuma laki-laki saja, tapi bisa dijalankan oleh laki-laki dan perempuan. Ternyata ilmu yang dibutuhkan untuk di dunia ini adalah ilmu yang tak kenal gender. Bisa dilakukan siapapun asal mau dan siap mengerjakannya, itu yang pertama. Yang Kedua bahwa dunia konstruksi itu saya merasa seperti petualangan, karena setiap hari tidak ada yang sama, karena kita kerja di lapangan, setiap hari gerak. Namanya juga proyek, no day is the same, jadi tantangannya selalu berbeda, akan menemukan challenge antara proyek satu dan lain, Mungkin sama-sama bangun jembatan, tapi akan selalu ada yang berbeda, jadi ini saya rasa sebagai petualangan yang exciting.

Bagaimana cara anda membuktikan bahwa perempuan bisa berkarier di dunia konstruksi?

Kalau saya melihat dari pengalaman pribadi, dari dalam diri sendiri dulu, untuk tidak memberikan limitasi ke diri sendiri. Kadang-kadang our biggest enemy is ourself. Sebelum kita mau mencoba sesuatu, kita sudah underestimate diri sendiri, mengedepankan keragu-raguan. Akhirnya kita membiarkan diri kita terpengaruhi orang lain dengan hal negatif. Kita jadi tidak memulai dan mengerjakan. Nah, jadi semua harus dimulai dari diri sendiri bahwa kita bisa dengan segala pembelajaran yang telah dilakukan, dengan segala persiapan yang telah kita lakukan juga, kita percaya bahwa kita bisa. Kedua, percaya bahwa we deserve it. Kita layak berada di posisi itu, dipercaya memegang peran tersebut. Jadi dengan modal itu yang bisa kita pakai untuk memulai. Setelah dimulai, dan kita lakukan secara konsisten menunjukkan kemampuan kita, akhirnya orang melihat bahwa perempuan bisa mengerjakan pekerjaan yang biasanya dulu dikerjakan laki-laki. Dunia didominasi laki-laki, dimulai duluan aja. Kalau kita sama-sama mulainya bareng, nggak ada yang kayak gini ya.

Mengawali karier di Singapura, apa yang jadi alasan mau pulang untuk berkarier di Indonesia?

Yang pasti, saya merasa di comfort zone banget dengan pekerjaan saya di sana dan ingin mencari tantangan baru. Situasi juga beda, di dunia transportasi jadi cukup critical lah, kalau bahas transportasi darat, we know, Jakarta itu punya nomor satu problem yaitu macet, dan Singapura terkenal sebagai salah satu negara yang yang punya transportasi terbaik di dunia. Dan saya bekerja itu di Singapura.

Jadi saya pikir juga aneh ya, bagi orang Indonesia berkarya di bidang transportasi di negara lain, padahal negara sendiri butuh banyak dukungan. Begitu saya mendengar kesempatan itu, saya ambil, saya coba, dan puji Tuhan kesempatan itu diberikan kepercayaan. Dan yaudah, the rest is history, I took it up and here I am.

Ada satu hal lagi yang membuat saya pengin banget memberikan transporasi yang baik di indonesia karena saya sendiri merasakan di Singapura, orang hidup di sana, transportasi publik sangat efisien, nyaman, bersih, kehidupan sehari-hari dan jadi lebih mudah, and for us women, kita merasa punya freedom, kita tidak merasa terlimitasi dalam bermobilitas. Itu sendiri sense of freedom untuk kita mengembangkan diri setiap harinya. So I just find that it would be wonderful masyarakat Jakarta juga bisa punya public transportation yang sangat bagus digunakan untuk semua.

Perasaan Anda melihat masyarakat Jakarta beralih menggunakan MRT, seperti apa?

Perasaan euforia masyarakat dengan hadirnya MRT ini, pastinya senang banget karena jujur, saat launching peresmian MRT 24 maret 2019, semua orang nanya 'gimana rasanya proyek selesai?' pasti happy banget. Awalnya biasa aja waktu peresmian itu, lebih banyak leganya karena pekerjaan selesai, jadi juga dan akhirnya bisa holiday ya. The realisation of the impact MRT itu, baru berasa beberapa hari kemudian, di mana masyarakat sudah menggunakan dan sharing-nya masyarakat di sosmed, maupun di berbagai forum, bagaimana dengan MRT dia bisa pulang lebih cepat. Dengan MRT ada yang cerita dia bisa juggling , antara kantornya yang di Sudirman dan merawat ibunya yang sakit di RS Fatmawati, atau ada yang bisa tiap pagi punya waktu sama anaknya makan pagi sebelum berangkat kerja, jadi nggak perlu buru-buru lagi karena MRTnya memendekkan journey-nya, itu sharing yang nyata banget, baru tuh rasa happy, bangga dan merasa bahwa this is why I do what I do gitu. Bahwa apa yang saya kerjakan, all the sweat and blood, it's totally worth it. Itu jadi motivasi saya membangun MRT, dan pembangunan lainnya yang bisa memberikan dampak bagi masyarakat.

Perbedaan karier di Singapore dan Indonesia, apa yang paling terasa bedanya?

Kalau dalam kerjaannya, dalam keseharian saya, bahwa tadi itu di Singapura itu punya mobilitas sangat baik, jadi kalau pergi kerja, kita bisa gausah mikir susah dari rumah buat ke kantor. Itu sudah memudahkan sekali, jadi kalau ke kantor sudah good mood buat kerja, siap untuk bekerja. Dan setelah kerja, lanjut dengan kehidupan sosial ketemu teman, olahraga, atau mau mengerjakan hobi tertentu bisa dilakukan dengan mudah dilakukan. Kayak pulang kantor, tinggal langsung naik MRT untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya. Dari situ merasa dalam satu hari so many things that can be done. efisien sekali dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau di sini masih tergantung pakai kendaraan pribadi dan jadi ke mana mana kena macet juga. Yang saya rasakan, di sana cara kerja sangat efisien, nggak ada basa basi dalam bekerja. Itu juga mungkin saking efisien jadi lebih cepat gtu. Tapi dengan begitu kadang jadi terasa dingin, dan sesuatu yang beda di sini, di Indonesia, yaitu bagaimana relasi antar kolega kerja lebih warm, we say hello to each other more, we smile more to each other. Dan itu sesuatu memberikan rasa berbeda, lebih warm aja dan jadi nilai tambah buat saya. 

Hal berharga yang didapatkan selama pembangunan MRT di tahap 1?

Banyak banget yah, pelajaran yang saya dapatkan itu bukan technical-nya. Pengalaman berharga yang aya dapat dalam menjalankan MRT pertama kemarin adalah bahwa perseverance itu sangat penting. Karena ketika saat melakukan sesuatu yang penting, Anda pasti dihadapkan dengan banyak tangan. Pasti ada aja sesuatu yang harus diselesaikan, besok malah ada lagi yang baru. Jadi itu penting sekali untuk bisa menghadapinya dan butuh semangat pantang menyerah. You can lose one day, but don't stop. Harus bangkit dan jalanin lagi, jadi harus mencapai goal itu.

Lalu yang kedua pentingnya kolaborasi dan teamwork, pembangunan MRT infrastruktur yang besar dibangun di tengah kota, banyak sekali yang terlibat dalam pembangunannya dan itu juga sistem yang baru ya MRT pertama, banyak yang belum tertata, kalau kita mikirnya mau kerja sendiri saja, kita nggak akan bisa menyelesaikan itu. Perlu bantuan dari seluruh kota dan negara bisa menyelesaikan satu proyek ini. Kita didukung banyak sekali, dari sisi pemerintah daerah, pusat, ikutan semua membantu MRT agar jadi, dan masyarakat juga. Kalau masyarakat nggak sabar dan pengertian saat kita melaksanakan pekerjaan, kayak gali-gali di depan, geser-geser jalan kanan kiri, kalau mereka ga dukung, ya kita juga ga akan selesai. Lalu ketiga, menyadari bahwa yang kita bangun di sini itu bukan sekedar prasarana transportasi aja tapi adalah masa depan kota ini. Apa yang kita bangun sekarang ini keputusan untuk membangun MRT ini impact-nya 5 sampai berapa tahun ke depan sampai selesai. Jadi hal itu membuat kita sadar, ambil keputusan jangan sembarangan. Apa yang kita lakukan akan dirasakan masyarakat 5-6 tahun kemudian. Yang akan merasakan masyarakat luas. Jadi rasa tanggung jawabnya jadi bersa banget.

Mengembangkan Diri sebagai Perempuan

Bagaimana cara Anda memberikan ruang untuk diri sendiri?

Sebenarnya dengan pekerjaan yang sebegitu banyaknya, saya sudah tidak lagi membagi, justru jadi integrasi. Saya tahu ini banyak diperdebatkan, karena ada yang bilang harusnya work life balance dong. Kalau kita balance biasanya ada sesuatu yang dikorbankan. Daripada sepetri itu, kenapa tidak diintegrasi saja. Sekarang konektivitas kan sudah 24 jam non-stop.

Tapi bukan berarti kerja terus selama 24 jam, tapi mensyukuri waktu singkat yang bisa kita enjoy untuk diri sendiri. Kalau punya 30 menit, gunakan untuk nonton satu seri atau jalan-jalan ke taman. Yang penting memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin dan menysukurinya.

Menjalani pekerjaan yang disukai apakah ini menjadi salah satu bentuk mencintai diri sendiri?

Menurut saya iya, bahwa menjalankan sebuah pekerjaan yang disukai adalah bentuk self love, karena waktu kita sebagian besar dihabiskan di pekerjaan. Kalau kerja 5 hari dalam seminggu, setiap hari 8,5 jam sampai 12 jam kerjakita melakukan hal yang kita suka. Setidaknya yang disukai, kalau belum dicintai, se-enggaknya disukai lah. Kita semua ingin berikan yang terbaik dalam pekerjaan kita, itu sesuatu yang sangat manusiawi. Bukan soal gaji besar, tapi kepuasan dengan apa yang kita kerjakan.

Menyukai pekerjaan untuk salah satu mencintai diri sendiri. Ada ga cara anda self love selain kerja?

Hmmm, versi self love saya ya, kayaknya adalah bisa menerima diri kita apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan. It's okay that you're not perfect. Mungkin orang mudah bilangnya, tapi tidak mudah untuk menjadi diri sendiri, di mana kita harus mengakui kita punya kekurangan ini dan kelebihan itu, dan kita nggak harus mengikuti ekspektasi orang terhadap diri kita. 

Pesan apa yang bisa Anda berikan untuk perempuan yang tengah mengejar mimpinya?

Tipe orang yang dibilangin malah nggak bisa, saya malah makin ingin menunjukkan kalau saya bisa. Jadi kalau ditantang, justru ingin membuktikan kalau kita tuh kuat. Pesan saya gini, ketika dihadapkan dengan sebuah tantangan jangan malah mundur. Kita justru harus maju. Maksudnya saya bukan berarti kita nggak boleh salah, nggak boleh capek. Pasti kok kita melakukan kesalahan, di tengah jalan merasa jenuh, capek. Ga selalu hi. But it's ok. Kalau kita mengalami kekalahan kita jangan nyerah. Kalau capek, istirahat dulu, atau bahkan menangis dulu. Tapi setelah itu bangkit lagi dan jalan lagi. Kalau kita terus melakukannya, kita akan bisa meraihnya.

Keberanian itu tidak muncul begitu saja, harus dibangun dan diasah seiring waktu melalui pengalaman, perjuangan dan kegagalan. Dari situ kita tahu bahwa kita harus memacu diri lebih baik lagi. Dan kita nggak bisa sendiri, makanya butuh support system yang bisa menguatkan kita juga. Jadi keberanian itu sesuatu yang harus diusahakan juga. Semakin banyak pengalaman yang dihadapi di luar sana, kamu akan menjadi lebih kuat dan berani.

Adakah cita-cita yang Anda harapkan untuk Indonesia ke depan?

Saya melihat Indonesia negaranya besar, bangsanya juga besar. Dan masih banyak pembangunan yang perlu kita lakukan. Masih banyak perlu pembangunan yang dilakukan dalam segala aspek, infrastruktur, edukasi, komunikasi dsb, semua perlu dijalani. Dan ini pasti banyak tantangannya, nggak gampang. Tapi tantangan itu sebuah kesempatan untuk kita membangun kapabilitas kita. Kalau saya melihat bagaimana sebenernya Indonesia itu mungkin bisa memimpin di Science, Technology, Economy and Math (STEM). Karena kalau kita melakukan pembangunan kita butuh itu semua dan kita berharap Indonesia bisa menjadi jadi leading country, bukan lagi negara Eropa, Amerika. Kenapa tidak kita saja? Mengingat kita punya kesempatan dan setiap potensi untuk mewujudkannya.

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Lady Boss: Franka Franklin, Berbisnis dan Berdayakan Perempuan Lewat Tulola