Sukses

Lifestyle

Tinggal Serumah dengan Ibu Mertua, Kesabaranku Harus Berlipat Ganda

Fimela.com, Jakarta Selalu banyak cinta dan hal istimewa dalam hubungan seorang anak dan ibu. Mungkin tak semuanya penuh suka cita, sebab ada juga yang mengandung duka lara. Masing-masing dari kita pun selalu punya cerita, seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela untuk mengikuti Lomba Ungkapkan Rasa rindu pada Ibu di Share Your Stories Bulan Desember ini.

***

Oleh: V

Aku adalah seorang perempuan yang mencari sosok ibu yang kudambakan. Pernah aku memiliki sosok dua ibu dalam hidupku. Sosok yang pertama adalah ibu kandungku, yang melahirkan ku ke dunia ini. Namun waktu aku masih kecil sekitar umur 7 tahun, ibuku telah meninggalkanku untuk selamanya.

Kenanganku bersama ibu kandungku, terasa hanya sedikit yang bisa aku ingat, yang aku tahu ibuku tidak begitu menyukai memasak dan mengurus anak. Aku sering terlambat makan, dan jarang makan di rumah. Akibatnya aku sering sakit tifus dan sakit tenggorokan karena jajan di luar. Ayahku yang lebih memberi perhatian padaku. Ayahku selalu mengajakku untuk makan di luar, menyuapiku, dan mengajakku untuk mengikuti aktivitas pekerjaan dan kegiatan sosialnya.

Ibuku seperti punya dunianya sendiri, yang tidak begitu peka dengan keadaan di sekitarnya dan tidak peduli anaknya sudah makan atau belum, bagaimana keseharian anaknya di sekolah, menanyakan PR atau membantu mengerjakan tugas anaknya pun tidak pernah. Entah apa yang dilakukan ibuku hingga seperti terlalu sibuk di dapur akan tetapi semuanya tidak selesai hingga malam.

Aku yang masih anak-anak pun belum paham dan belum bisa menganalisa sifat dan karakter ibuku. Waktu kecil walaupun aku bisa melihatnya setiap hari, akan tetapi aku sangat merindukannya. Karena beliau tidak punya banyak waktu untuk meluangkan kebersamaannya denganku.

Apabila aku mengajaknya bermain, beliau selalu menolak. Katanya masih sibuk mengurus rumah. Ketika aku sakit pun, ibuku hanya menengok sebentar lalu pergi lagi. Aku tidak pernah dibacakan dongeng sebelum tidur, dam aku sering berangkat ke sekolah sendiri ke sekolah taman kanak-kanak.

Pulangnya ayahku yang lebih sering menjemputku daripada ibu. Jika tidak ada yang menjemput, aku cepat-cepat pulang sendiri ke rumah. Itulah kenangan yang paling banyak ku ingat bersama ibu kandungku.

Namun, ada juga hal- hal yang menunjukkan perhatiannya padaku, seperti memintakan hadiah ke ayahku jika aku mendapat peringkat 5 besar, memaksaku untuk ke dokter gigi untuk segera mencabut gigi gigisku, membelaku jika aku dipermalukan guru SD-ku karena aku kurang pintar di sekolah, dan lamban dalam menangkap informasi pembelajaran. Terima kasih ibu atas kasih sayangmu padaku walaupun cara penyampaiannya tidak sama seperti ibu-ibu yang lain. Semoga tenang kau di sana.

Sosok ibu yang kedua adalah ibu mertuaku. Pada awalnya kukira ibu mertuaku menyukaiku dan menyayangiku seperti kepada anak sendiri. Karena aku juga menyayanginya ketika aku masih berpacaran dengan suamiku dulu.

Aku harap ibu mertuaku bisa mengisi kekosongan hatiku. Ternyata aku salah, ternyata aku menyimpan banyak kekurangan, tidak bisa menjadi menantu yang beliau idamkan. Aku dianggap tidak bisa mengimbangi kemampuannya dalam mengurus rumah tangga.

 

 

Ingin Lebih Mandiri Lagi

Aku dianggap tidak bisa menjadi menantu yang baik. Beliau terbiasa kerja otot, sedangkan aku terbiasa kerja otak. Sehingga kami sering berbeda pendapat karena perbedaan wawasan.

Dalam hal pengalaman, kami juga berbeda, adat istiadat daerah juga berbeda. Perbedaan bahasa daerah juga sering membuat kami sulit berkomunikasi. Apa saja yang aku lakukan , banyak yang salah di matanya. Memang aku masih belajar dan adaptasi mengikuti kebiasaan keluarga suamiku.

Berikanlah aku waktu untuk mengenal semuanya, memahami dan mengakulturasi semuanya. Aku sudah 5 tahun tinggal bersama dengan mertuaku sejak pernikahanku. Memang banyak hikmah yang bisa diambil bila kita tinggal bersama dengan mertua, apalagi jika suami kita pengangguran, atau berpenghasilan rendah di bawah UMR. Menjadi wanita seperti diriku, haruslah memiliki kesabaran yang berlipat ganda, karena masih berada di posisi yang belum bisa mandiri secara total dalam mengatur perekonomian rumah tangga.

Memang aku sadar diri bila ingin merasakan kemerdekaan dalam berumah tangga, aku harus keluar dari zona nyaman. Zona nyamanku adalah bisa melihat dan membesarkan anak-anakku sendiri di rumah. Jika ingin menjadi wanita yang tidak disepelekan oleh mertua atau keluarga dari suami, kita harus bisa memiliki pekerjaan yang bisa meningkatkan derajat kita sebagai wanita.

Aku ingin bekerja banting tulang untuk masa depanku dan anak-anak. Aku tidak mau terlena berharap dan hanya  mengandalkan suamiku, karena suamiku saja berharap dan mengandalkan orang tuanya sepenuhnya. Sudah terlihat jelas bagiku, dia tidak bisa diandalkan. Sudah belasan tahun aku menanti perubahannya menjadi suami yang ulet dan bertanggung jawab.

Aku dituntut mertuaku untuk bisa mengubah anaknya menjadi lebih baik. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin sebagai istri, untuk mendukung, menyemangati, memberi dorongan dan menasehati suamiku untuk bisa menjadi pria yang bertanggung jawab. Akan tetapi usahaku seperti tidak terlihat sama sekali di mata mertuaku.

Mertuaku tidak pernah tahu bagaimana perjuangan dan pengorbananku selama ini, memberikan contoh yang baik  untuk suami dan mencarikan peluang, dan jalan keluar bagi kami menutupi kekurangan kami berdua. Ya, memang perubahan yang telah dilakukan oleh suamiku sudah terlihat sekarang, walaupun tidak banyak. Alhamdulillah, memang semuanya butuh proses. Sekali lagi harus dengan sabar, ikhtiar, dan doa.

Menghadapi semua ini aku butuh sosok ibu yang pengertian, yang bisa menguatkan dan memberikanku pengarahan, petunjuk yang benar, yang mau menjadi pendengar setia  mendengarkan semua curahan hai ini. Akan tetapi ke mana aku harus mencari dan menemukannya. Apakah aku harus bercermin dan menemukan sosok itu di diriku sendiri yang sekarang telah menjadi seorang ibu?

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading