Sukses

Lifestyle

Keluargaku Sumber Kebahagiaanku, Aku Jadi Perempuan Dewasa Berkat Mereka

Fimela.com, Jakarta Di bulan Juni ini, Fimela mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

***

Oleh: Gloria Fharida Angelia

Membaca sebuah topik tentang keluarga, seketika aku tertegun. Mungkin karena banyaknya hal yang telah terjadi dalam kehidupan keluarga kami. Sekumpulan memori itu kembali berputar dalam kepalaku saat ini.

Usiaku sekarang menginjak di angka tiga puluh satu tahun. Aku lupa kapan tepatnya pernah bertanya kepada Tuhan, Sang Pencipta, mengapa aku ditempatkan di tengah-tengah keluarga yang “kapalnya” dinahkodai oleh seorang pria yang memiliki sifat cenderung keras. Satu sisi, aku sangat bersyukur karena di samping pria tersebut, ada sosok wanita yang setia mendampingi hingga “kapal” keluarga kami bisa terus berlayar di tengah derasnya ombak yang menghantam. 

Hidup bersama keluarga yang memiliki karakter berbeda-beda  bukanlah hal yang mudah. Ada ego yang harus diturunkan, ada maaf yang semestinya terucap, dan tak jarang mengalir deras air mata demi meluapkan sesak dalam dada.

Sedikit dari yang bisa ‘ku uraikan melalui kata-kata mengenai sosok mereka yang telah Tuhan dan semesta izinkan untuk hadir dalam kehidupan ini. Seiring berjalannya waktu, mereka sudah membuat aku menjadi pribadi seperti sekarang ini. Mereka adalah bapak, ibu, kakak, dan dua orang adikku.

 

 

 

 

Ayah dan Ibu Tercinta

Bapak adalah sosok pekerja keras, tidak pernah sekalipun dibiarkan istri dan anak-anaknya merasakan kelaparan. Bukan karena mewahnya makanan yang harus tersedia di meja makan, namun karena kami masih bisa menikmati berbagai menu sederhana dengan varian empat sehat dan lima sempurna, menurutku itu sudah lebih dari cukup untuk kesehatan tubuh walau terkadang ada juga keinginan menikmati makanan di dalam restoran/mall.

Segelas jus wortel tak pernah absen diberikan saat keempat anaknya masih duduk di bangku sekolah. Aku ingat betul rasa jahil itu muncul sesekali tatkala merasa bosan dengan rutinitas tersebut.

Suatu ketika ‘ku lihat bapak sedang lengah, kedua kaki ini melangkah cepat menuju dapur dan buru-buru menuang isi jus ke dalam wastafel lalu segera nyalakan kran air supaya  bersih dari noda-noda wortelnya, batinku. “Seandainya bapak mengetahui bahwa aku pernah membuang jus yang sudah dibuatnya, pasti bapak akan marah sekali. Maafkan kelakuan anakmu ini dulu ya Pak." Mataku jika bisa berbicara pasti akan mengatakan terima kasih karena sudah berusaha menjaganya dengan cara yang bapak bisa lakukan sebagai orang tua.

Tingkat pendidikan hanya sampai bangku sekolah menengah atas membuat bapak bercita-cita untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai meraih gelar sarjana. Aku sadar jika dalam pikiran bapak, mungkin ijazah yang kami miliki kelak akan membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik.

Beliau selalu mengingatkan untuk sekolah setinggi mungkin selagi masih ada kesempatan. Raut kecewa pernah tersirat dari wajahnya ketika aku menolak untuk langsung melanjutkan studi S2 sesuai arahannya.

Tak jarang kami berdebat akan sesuatu, terlihat sepele namun bisa menjadi besar jika sudah berhadapan dengan sosok bapakku. Bapak yang suka keras kepala tetapi sayangku padanya takkan memudar sedikitpun.

Tergelitik jika mengingat bahwa salah satu hobi bapak adalah menelepon saudara atau rekan kerjanya selama berjam-jam. Kadang aku berpikir lawan bicaranya mungkin ingin menyudahi apa yang mereka bicarakan tapi tak diberikan titik di ujung kalimat sehingga terus berlanjut koma atau tanda tanya dalam percakapan mereka. Bahkan sambil melakukan aktivitas lainnya, bapak tetap bisa melanjutkan perbincangannya. Semua pembicaraan akan berhenti jika bapak yang memintanya.

Aku percaya jika ada pepatah yang mengatakan bahwa sosok malaikat tanpa sayap itu nyata adanya. Ternyata sosok itu tidak jauh, ya dia berada di dekatku.

Ibu, begitu aku menyebutnya. Dengan perjuangan segenap hati yang telah membawa kakak, aku, dan kedua adikku lahir ke dalam dunia ini, mengurus kami dari yang tidak bisa apa-apa hingga mampu berdiri di atas kaki sendiri. Mendidik dengan cara yang bisa diberikannya demi membentuk generasi keturunan menjadi pribadi yang lebih baik.

Ibu selalu betah berlama-lama berada di dapur. Memasak dan bersih-bersih adalah sebagian dari kegiatan yang disukainya. Entah kenapa kesukaan ibu yang seperti itu juga menurun padaku. Kadang aku merasa beberapa hal yang ibu senangi juga menjadi kesenanganku. Masakan ibu sangat enak.

Bukan hanya aku yang mengakuinya tetapi saudara dan teman-teman yang pernah main ke rumah juga mengatakan hal yang sama. Apa yang dibuatnya seperti memiliki cita rasa tersendiri sehingga akan muncul rasa ingin menikmati hidangannya lagi. Cita-citanya memiliki sebuah rumah makan dimana ibu adalah kokinya. "Ibu, semoga masih ada waktu untuk kita membuat apa yang engkau impikan ya."

Selama dua puluh delapan tahun tinggal dalam satu atap bersama bapak dan ibu, aku melihat sendiri perjuangan ibu yang luar biasa untuk kami. Ibuku dulu bercita-cita menjadi seorang guru, namun takdir menggiring langkah hidupnya menjadi seorang ibu rumah tangga.

Mungkin ibu tidak memiliki kesempatan mendidik dalam gedung sekolah tetapi beliau berhasil mendidik kami dari dalam rumah. Mengabdi pada keluarganya. Karena keluarga adalah lingkup paling pertama untuk mendidik manusia menjadi makhluk yang hebat, itu menjadi salah satu prinsip hidupnya.

Ibu adalah sosok yang sangat sabar. Sifat itulah yang ditunjukkannya saat menghadapi keras kepalanya seorang bapak. Ibu selalu berusaha hadir menjadi sosok yang kuat padahal aku tau betul ada masa dimana ia ingin menyerah apalagi saat bapak sedang dalam kondisi meledak-ledak.

Suatu ketika aku melihat sikap berlebihan bapak terhadap ibuku sampai aku mengumpat dalam hati. Hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai seorang anak, menangis dalam kamar sambil menaikkan doa pada Sang Pencipta supaya ibu diberikan kekuatan untuk selalu menjadi tiang doa bagi kami.

Ibu bilang jika memang sudah pilihannya untuk memiliki “teman hidup” seperti bapakku dan yang berhak memisahkan mereka hanya kematian saja. Ah ibu, aku masih harus belajar banyak hal darimu.

Kakak dan Adik Tercinta

Terlahir dengan posisi anak kedua, aku beruntung memiliki sosok kakak perempuan dimana aku bisa belajar banyak hal darinya. Aku pernah berfikir beruntungnya menjadi anak pertama, pasti kehadirannya ditunggu-tunggu oleh sepasang suami istri yang disatukan dalam bahtera rumah tangga. Semua hal baru diberikan untuknya. Dengan harapan dari bapak dan ibu kelak pribadi seorang kakak akan menjadi contoh yang tepat untuk adik-adiknya.

Kami bisa sharing dalam situasi apa pun. Usia kami terpaut jarak empat tahun membuat aku merasa menjadi adik yang bisa meminta apapun darinya. Saat dia sudah memiliki uang jajan dari bapak, aku minta dijajani juga.

Pulang dari toko buku, membawa komik atau majalah yang hits saat itu, aku juga tak segan untuk meminjamnya. Baju dan celana yang sudah tidak muat lagi dikenakan tubuhnya, dihibahkan juga padaku. Aku akui di balik sifat galaknya pada kami, namun dialah yang memiliki tanggungjawab paling besar atas ketiga adiknya.

Secara fisik wajah kami berbeda. Kakak dan kedua adikku lebih mendominasi wajah bapak sedangkan aku adalah satu-satunya anak yang sangat mirip dengan wajah ibu. Kakak termasuk orang yang bisa ‘ku sebut fashionable, karena apa yang dikenakannya selalu terlihat cantik dan pas.

Pernah aku merasa minder dengan tubuh yang kurus, lalu kakak membelikan beberapa jenis pakaian yang membuatku terlihat lebih berisi saat memakainya. Dia berusaha membangkitkan rasa percaya diriku. Jika kalimat “aku sayang kalian” tidak selalu diucapkan, namun terlihat jelas bahwa dia sangat menyayangi aku dan dua saudaraku dengan cara yang bisa dia lakukan. 

Keluarga kami berasal dari Suku Batak di mana setiap orang tua berharap memiliki anak laki-laki dengan harapan keturunannya tersebut akan meneruskan marga dari bapaknya. Aku, kakak, dan adikku memanggilnya dengan sebutan ito.

Berada di tengah-tengah saudara perempuan tidak membuatnya merasa harus paling disayangi karena sesungguhnya orang tua kami merawat, menyayangi, dan mendidik kami dengan perlakuan yang adil dan sama. Setidaknya itulah yang kami rasakan saat kami masih kecil.

Itoku adalah sosok adik yang bisa dijadikan contoh tak hanya untuk adik bungsu kami tetapi juga untuk kakak dan diriku sendiri. Sedari lulus sekolah SMA, dia sudah berjauhan jarak dengan kami karena menempuh pendidikan jenjang perkuliahan di sebuah universitas daerah Jawa Tengah. Hingga kini Tuhan mempercayakannya untuk bekerja di Kalimantan, tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh keluarga bahwa dia akan ditempatkan bekerja begitu jauh dari kami.

Bapak selalu mengingatkan ketiga anak perempuannya untuk “menghormati” ito kami karena dialah yang akan menjadi “pengganti” sosok bapak saat beliau sudah tidak ada lagi dalam dunia ini. Setiap bapak berkata seperti itu aku merasa bergetir seperti dari jauh-jauh hari kami sudah disiapkan sosok sebagai pengganti dirinya kelak.

Adik lelakiku ini termasuk orang yang sangat tertata hidupnya. Segala sesuatu disiapkan secara matang. Dia termasuk anak yang pintar dalam keluarga kami. Masuk kuliah dengan jalur bebas tes dan selepas lulus kuliah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan bumn ternama. Sekarang dia memilih melepaskan pekerjaan sebelumnya dan menjalani peran sebagai seorang pegawai negeri sipil.

Ada perasaan haru dan bangga dengan apa yang dicapainya dalam hidup. Kami memiliki kesamaan ketika mengatur detail pengeluaran, kami suka sharing banyak hal entah cerita ringan atau yang menyangkut ranah lebih pribadi seperti bahasan tentang pasangan hidup. Ketika hati merasa sedang tidak dalam kondisi baik, seringkali aku memilih untuk diam sejenak. Sebenarnya ini kurang etis, karena masalah tidak akan pernah selesai jika mulut tertutup untuk jujur tentang apa yang dirasakan.

Itoku beberapa kali mengingatkan supaya aku mengomunikasikan saat ada masalah dibanding memendam lebih lama, dia juga suka menguraikan apa yang terjadi sehingga dapat ditemukan solusi dari permasalahan yang sedang aku hadapi. Kadang aku merenung, umur secara angka bisa saja lebih tua namun dari segi pemikiran jauh lebih dewasa dia ternyata.

Adik bungsu adalah “kejutan” terbaik dari Tuhan. Ketika kakak dan adik laki-lakiku sudah besar, tidak pernah ada yang menyangka jika ibu akan diberikan kepercayaan lagi untuk mengandung dan melahirkan  di usia tak lagi muda.

Beda usiaku dengan adik bungsu sekitar empat belas tahun. Perasaan bercampur aduk ketika mengetahui ibu sedang mengandung janin yang sudah berusia empat bulan dalam rahimnya. Antara senang karena akan bertambah anggota dalam keluarga, tetapi juga mencemaskan kondisi ibu nanti yang sudah berusia empat puluh tahun saat itu.

Tetapi manusia tidak akan pernah bisa menyelami rancangan Tuhan, bukan? ya, Tuhan begitu baik. Tanggal cantik di 7 Juli 2005, lahirlah bayi kecil perempuan yang resmi menjadi anak terakhir bapak dan ibu. Kakakku memberikan ide nama Aurora, untuk adik bungsu kami. Dengan harapan dia akan tumbuh menjadi bintang yang bersinar dalam kehidupannya kelak.

Menduduki posisi sebagai anak paling kecil, adik kami saat menapaki usia remaja kadang diberikan perhatian berlebihan. Aku menyebutnya dengan kata dimanja. Terlihat jelas bagaimana bapak menuruti semua hal yang dimintanya. Pernah terucap dari mulutku supaya bapak tidak mudah memberikan apa yang dia pinta, supaya dia belajar untuk berjuang lebih dulu atas keinginan yang ingin diraihnya.

Dibanding dengan dua saudaraku lainnya, adik bungsu selalu mengatakan bahwa aku adalah kakak yang paling dekat dengannya. Dalam kontak handphone, dia menyimpan namaku dengan sebutan “bunda”. Dia merasa aku juga bisa menjadi sosok ibu baginya.

Tidak mudah untuk membuat adikku disiplin karena kebiasaannya saat dinasehati, dia suka memasang raut wajah yang kesal. Aku pikir di jaman sekarang, pendekatan antara orang tua dan saudara terdekat mampu menopang jalannya supaya tetap aman dan terkendali, tidak mudah goyah terbawa dengan arus pertemanan. 

Adakah yang lebih indah dari kebersamaan bersama keluarga terkasih? Aku rasa belum ada yang dapat menyaingi. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku.

Genggaman tangan bapak seakan memberitahukan bahwa ketika apa yang terjadi di depan tak sesuai dengan rencana yang aku susun, ada keberadaannya yang siap menguatkan. Pelukan hangat ibu, menyadarkan bahwa dalam pijakan yang aku lewati akan selalu ada doa teriring dari kehangatan hatinya.

Bersama ketiga saudara sedarahku, sekalipun kami pernah berbeda pendapat satu sama lain dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada keluarga, mementingkan ego masing-masing, tetapi kami sadar bahwasanya akan selalu ada rasa saling membuthkan satu sama lain.

Memaknai Keluarga

Kini, saat aku sudah berada di atap yang berbeda dengan bapak dan ibu, kerinduan itu muncul walau hanya sekedar mendengar bapak bercerita berjam-jam, ibu memasak menu kesukaan kami, ayam pinadar khas Batak yang disajikan dengan nasi panas dan beberapa timun segar, mendengar kakak berbicara apa pun dengan nada heboh, bernyanyi diiringi gitar oleh adik laki-lakiku, serta menjawab guyonan dari gadis yang selalu ‘ku anggap masih kecil padahal sudah mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah.

Keluarga adalah tempat aku belajar. Diriku saat ini adalah hasil dari perjuangan yang dilakukan orang tuaku sejak aku lahir hingga sampai aku menyandang gelar seorang ibu.

Diriku yang sekarang adalah buah dari kerjasama kakak dan adik-adikku untuk kami saling menopang. Aku tidak akan pernah bisa membangun sebuah keluarga bersama pria pilihanku jika aku tidak memiliki cinta dan kepercayaan pada keluarga intiku sendiri.

Seberapa jauh pun aku dari rumah ibu dan bapak, sepahit apa pun masa yang pernah kami jalani kehidupan, tempat terbaik untuk menceritakan semua rasa adalah pada keluarga sendiri.

Aku sangat bersyukur di tengah perkembangan zaman era digital, kami yang terpisah ribuan kilometer selalu bisa merasa dekat. Jika rasa rindu itu datang, kami saling bertegur sapa lewat media zoom atau video call.

Jika aku rindu dengan masakan buatan ibu, aku suka memintanya agar dibuatkan saat akan datang ke rumah. Jika dulu kami bercengkerama memikirkan cara agar diizinkan bapak berkumpul dengan teman-teman di suatu mall, kini kami berbicara mengenai perkembangan anak-anakku dan ketiga anak kakakku. Pada akhirnya, waktu juga yang akan mengambil segala sesuatu. Selama masih ada kesempatan, maka tugas kita adalah melakukan yang terbaik dari dan untuk keluarga. 

Ada beberapa hal  tidak bisa diungkapkan namun bapak dan ibu mengetahui apa yang sedang menjadi beban pikiran,

Ada banyak tanya yang terkadang hanya sosok kakak  mampu nyatakan jawabannya,

Ada kecemasan dalam diri yang teratasi dengan berbagi cerita pada adik laki-laki,

Ada canda tawa muncul di pipi yang merona saat melihat adik perempuan membuat lelucon,

Tatkala sempat aku membandingkan keluargaku dengan keluarga orang lain, mungkin aku lupa jika di dunia ini tidak akan pernah ada keluarga yang sempurna.

Terima kasihku pada Tuhan yang memberikan kalian dalam kehidupan yang fana ini.

Mencintai bapak, ibu, kakak, dan adikku dengan cinta yang lebih dahulu diberikan Pencipta padaku.

 

#WomenforWomen

Loading