Sukses

Lifestyle

Perjalanan Panjang Deece Dewayani Menemukan Diri Sendiri, Keputusan Pensiun Dini dari Dunia PR Marketing untuk Hidup yang Lebih Tenang

Fimela.com, Jakarta Deece Dewayani membuat keputusan besar dalam hidupnya untuk pensiun dini dari dunia PR Marketing, dunia yang digelutinya selama 20 tahun. Perjalanan panjang perempuan yang akrab dipanggil Deece untuk menemukan diri sendiri, dimulai di tahun 2015.

Tahun 2015, Deece menerima ajakan seorang teman untuk melakukan perjalanan retret yoga. Jauh dari Jakarta.

Ternyata, perjalanan ini mengubah hidup Deece, secara tidak langsung. Dua tahun yang lalu, Deece akhirnya mantap untuk pensiun dini dari dunia yang digelutinya selama 20 tahun, yaitu PR Marketing.

"Banyak hal yang kurasakan mungkin akan terdengar aneh di orang lain, tapi aku benar-benar mengalami itu. Mungkin seperti orang depresi, aku nggak tahu ini apa (yang kurasakan) dan harus bagaimana," cerita Deece.

Di interview khusus yang dilakukan Tim FIMELA melalui Fimela Talks, Deece juga menceritakan bagaimana perasaan tidak tenangnya tersebut membuat tubuhnya sakit. Akhirnya ia memutuskan untuk mulai mendalami gaya hidup holistik.

Istilah holistik berasal dari bahasa Inggris, yang akar katanya adalah 'whole,' yang berarti keseluruhan. Istilah holistik juga diambil dari kata dasar heal atau penyembuhan dan health atau kesehatan.

"Badanku sampai sakit semua. Kalau istilah medisnya itu psikosomatis."

 

 

Deece pernah mengalami tubuhnya kesakitan

Psikosomatis adalah hubungan antara pemikiran atau psikis yang bisa memengaruhi kondisi tubuh atau sebaliknya. Saat itu, Deece merasa tubuhnya kesakitan.

"Aku sampai periksa ke dokter, check up dan ternyata tubuhku baik-baik aja. Akhirnya, 2 tahun lalu aku mantap untuk pensiun dini."

Gaya hidup holistik seperti yoga dan meditasi memang sudah dekat dengan Deece sejak lama, tapi tak didalaminya, hingga 2 tahun yang lalu. Deece percaya bahwa tidak ada hal yang terjadi dalam hidup itu sebuah kebetulan, seperti perjalanan retret yoganya di 2015 silam.

"Aku percaya itu bukan sebuah kebetulan. Mungkin sudah diingatkan sejak itu, tapi kan kita manusia, wajar kalau suka nggak sadar. Sekarang rasanya aku lebih tenang, jauh lebih tenang."

Deece Dewayani sekarang mendalami Sound Healing Therapy, sebagai seorang Practitioner. Sound Healing Therapy adalah terapi yang menggabungkan berbagai suara, musik, dan instrumen penyembuhan untuk meningkatkan kesejahteraan multidimensi.

Terapi ini biasanya disampaikan menggunakan instrumen, seperti mangkuk, kristal, gong, drum, atau garpu tala selama sesi berlangsung. Walaupun telah menjadi seorang Practitioner atau Fasilitator, Deece juga masih menjalani terapi bersama kawan seprofesi.

"Aku kalau sedang ke-trigger, biasanya cari air. Elemenku adalah air, jadi kalau ada trigger, biasanya cari tempat-tempat yang alam dan ada air di situ, seperti pantai. Kalau nggak, mandi air garam, untuk membersihkan energi. Kalau terapi, aku akan datang ke temanku yang lain. Bisa dilakukan sendiri, tapi aku lebih prefer untuk terapi ke orang lain."

Tips Deece untuk memulai hidup yang lebih mindfull

Satu hal yang cukup menarik diceritakan oleh Deece kepada FIMELA adalah ketakutannya untuk bicara. Berkecimpung di dunia PR Marketing selama 20 tahun, Deece baru menyadari bahwa dirinya memiliki ketakutan untuk bicara dan dinilai negatif oleh orang lain.

"Ini adalah PR aku di tahun ini yang harus aku beresin. Aku tuh takut banget buat ngomong, takut di-judge orang, karena dulu Papaku galak banget."

Deece memberikan tips dan trik bagi para Sahabat FIMELA untuk bisa memiliki hidup yang lebih tenang dan mindfull. Bagi Deece, penting bagi seseorang untuk lebih mengenali diri sendiri.

"Kenali diri sendiri dulu dengan baik. Apa yang harus dibenahi. Dari situ, kita bisa cari cara harus ngapain. Kalau aku, karena ketakutanku adalah bicara, walaupun pernah jadi PR selama 20 tahun, aku biasanya melatih diriku untuk happy humming. Cara ini seperti ngasih tahu ke diriku sendiri bahwa nggak papa untuk mengekspresikan diri."

Deece juga menegaskan bahwa tidak masalah untuk 'merasakan.' Bagi Deece, adalah normal bagi seorang manusia untuk memiliki masalah.

"Bohong kalau nggak ada trigger, kita kan manusia normal, kecuali kita mau jadi monk. Bedanya, kalau dulu ketriggernya cepet, kalau sekarang, 10 menit balik deh," tutup Deece di akhir wawancara.

Sahabat FIMELA, kamu juga bisa mengikuti keseharian dan perjalanan Deece Dewayani melalui akun Instagramnya @deceedewayani. Apakah kamu juga tertarik untuk memiliki hidup yang lebih tenang?

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading