Sukses

Lifestyle

Apa Itu Savior Complex? Ketika Perempuan Terlalu Sibuk Menyelamatkan Orang Lain hingga Lupa Diri Sendiri

Fimela.com, Jakarta - Kamu mungkin pernah berada di situasi ini: merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, selalu ingin menolong, memperbaiki, bahkan “menyelamatkan” pasangan, keluarga, atau teman—meski itu membuatmu lelah secara emosional. Jika iya, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan yang disebut savior complex.

Savior complex adalah kondisi psikologis ketika seseorang memiliki dorongan kuat untuk menjadi “penyelamat” bagi orang lain. Sekilas terdengar mulia, tapi dalam jangka panjang, pola ini justru bisa menguras energi, emosi, dan harga diri—terutama bagi perempuan yang sejak lama dibentuk oleh ekspektasi untuk selalu peduli dan mengalah.

Mengapa Savior Complex Banyak Dialami Perempuan?

Sebagai perempuan, kamu tumbuh dengan narasi bahwa menjadi baik berarti berkorban. Perempuan kerap dipuji ketika sabar, pengertian, dan rela mendahulukan kebutuhan orang lain. Tanpa disadari, nilai-nilai ini bisa berkembang menjadi keyakinan bahwa kamu hanya berharga jika mampu membantu atau menyelamatkan orang lain.

Dalam hubungan romantis, savior complex sering muncul saat kamu merasa harus “memperbaiki” pasangan yang terluka, bermasalah, atau belum siap secara emosional. Kamu bertahan bukan karena bahagia, tapi karena merasa ia membutuhkanmu. Di sinilah cinta berubah menjadi proyek, bukan relasi yang setara.

Tanda Kamu Mengalami Savior Complex

Ada beberapa sinyal yang patut kamu sadari. Misalnya, kamu merasa bersalah saat mengatakan “tidak”, sulit menetapkan batasan, dan merasa gagal jika tidak bisa membantu orang lain. Kamu juga cenderung tertarik pada orang-orang yang penuh masalah, dengan harapan kehadiranmu bisa mengubah hidup mereka.

Lebih jauh lagi, kamu mungkin menomorsatukan kebutuhan orang lain, sementara kebutuhan emosionalmu sendiri terabaikan. Kamu tetap memberi, bahkan ketika hatimu sudah lelah.

Dampak Emosional yang Sering Tak Disadari

Memiliki savior complex bukan hanya membuatmu kelelahan, tapi juga berisiko menjerumuskanmu ke hubungan yang tidak sehat. Kamu bisa kehilangan identitas, merasa kosong, dan perlahan mempertanyakan nilai dirimu sendiri. Ironisnya, semakin kamu berusaha menyelamatkan orang lain, semakin kamu merasa tidak pernah cukup.

Perempuan dengan savior complex juga rentan mengalami burnout emosional. Kamu tampak kuat di luar, tapi rapuh di dalam karena tidak memberi ruang bagi diri sendiri untuk dirawat.

Belajar Mencintai tanpa Menyelamatkan

Penting untuk kamu ingat: membantu itu baik, tapi menyelamatkan bukan tanggung jawabmu. Setiap orang bertanggung jawab atas proses penyembuhannya sendiri. Kamu boleh peduli, tapi tetap perlu batasan agar tidak kehilangan diri sendiri.

Mencintai dengan sehat berarti berdiri sejajar, bukan di posisi lebih tinggi sebagai penyelamat. Kamu berhak memilih hubungan yang saling mendukung, bukan hubungan yang membuatmu merasa harus terus berjuang sendirian. Pada akhirnya, perempuan tidak diciptakan untuk menjadi penyelamat dunia. Kamu adalah manusia utuh yang juga layak ditolong, didengar, dan dicintai—tanpa harus berkorban berlebihan. 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading