Fimela.com, Jakarta - Di tengah riuhnya media sosial dan budaya "kepo" yang kadang meresahkan, menemukan ketenangan batin rasanya menjadi kemewahan tersendiri. Banyak dari kita mungkin pernah merasa lelah dengan drama yang sebenarnya bukan bagian dari hidup kita, namun tanpa sadar kita terseret ke dalamnya. Menariknya, ada tipe kepribadian orang yang jarang ikut campur urusan orang lain yang justru terlihat lebih bahagia dan damai. Sahabat Fimela, mereka ini bukanlah orang yang tidak peduli, melainkan individu yang paham betul seni menjaga energi mental agar tetap waras di era yang serba berisik ini.
Melansir dari buku bestseller psikologi "Working with Emotional Intelligence" karya Daniel Goleman (1998), kemampuan untuk fokus dan mengelola diri sendiri adalah tanda kecerdasan emosional yang matang. Orang-orang ini memilih untuk tidak membiarkan atensi mereka terpecah oleh hal-hal di luar kendali mereka. Sebuah sikap yang di Indonesia mungkin sering disalahartikan sebagai "cuek" atau "sombong", padahal sejatinya adalah bentuk perlindungan diri yang elegan.
Berikut ulasan Liputan6.com tentang kepribadian orang yang jarang ikut campur urusan orang lain dari berbagai sumber Minggu (30/8/2026).
Advertisement
Advertisement
1. Memiliki Dispositional Autonomy yang Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335830/original/091547700_1788067600-pexels-artempodrez-5715856.jpg)
Orang yang jarang mencampuri urusan orang lain biasanya memiliki apa yang disebut dalam psikologi sebagai dispositional autonomy. Ini adalah kemampuan untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai dan keinginan diri sendiri, bukan karena tekanan sosial atau rasa takut ketinggalan berita (FOMO). Mereka merasa cukup dengan kehidupan mereka sendiri sehingga tidak merasa perlu mencari validasi atau hiburan dengan mengulik masalah orang lain.
- Hidup dengan Kompas Sendiri: Mereka punya tujuan hidup yang jelas dan sibuk mengejarnya.
- Bukan Pengikut Arus: Ketika orang lain sibuk bergunjing, mereka lebih memilih menepi dan mengerjakan apa yang bermakna bagi mereka.
2. Menjunjung Tinggi Healthy Boundaries
Salah satu ciri paling menonjol adalah kemampuan mereka menetapkan batasan yang sehat. Mengutip jurnal penelitian dari Baumeister, R. F. et al. (2003) dalam Psychological Science in the Public Interest, individu dengan harga diri (self-esteem) yang sehat cenderung lebih mampu menjaga batasan personal. Mereka tahu bahwa setiap orang punya "pagar" rumah tangganya masing-masing yang tidak boleh sembarangan dilompati.
Sahabat Fimela, bagi mereka, menghormati privasi orang lain adalah cerminan dari menghormati diri sendiri. Mereka paham bahwa memberikan saran tanpa diminta (unsolicited advice) seringkali bukan bentuk kepedulian, melainkan intrusi yang bisa melukai perasaan.
3. Fokus pada Circle of Control
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3991622/original/083182400_1649658057-jason-goodman-0K7GgiA8lVE-unsplash.jpg)
Kepribadian ini sangat paham konsep Circle of Control atau Lingkaran Kendali. Mereka sadar sepenuhnya bahwa mereka tidak bisa mengubah perilaku, keputusan, atau nasib orang lain.
Daripada membuang energi untuk mengomentari atau mencoba "memperbaiki" hidup teman yang penuh drama, mereka memilih mengalihkan energi tersebut untuk hal-hal yang bisa mereka kendalikan: respons mereka sendiri, pekerjaan mereka, dan kebahagiaan mereka. Sikap ini membuat mereka terhindar dari stres yang tidak perlu.
4. Punya Empati Kognitif, Bukan Sekadar Reaktif
Jangan salah sangka, mereka bukan orang yang dingin. Justru, mereka memiliki empati kognitif yang tinggi—kemampuan memahami perspektif orang lain secara intelektual tanpa harus larut secara emosional (tenggelam dalam drama).
- Pendengar yang Baik: Saat teman curhat, mereka mendengarkan untuk memahami, bukan untuk "kepo" atau menghakimi.
- Tahan Lidah: Mereka tahu kapan harus diam. Jika tidak diminta pendapat, mereka percaya bahwa orang tersebut mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Advertisement
5. Selective Socializer (Bersosialisasi dengan Selektif)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4717897/original/046756200_1705410794-Ilustrasi_ngobrol__nongkrong__kumpul_bareng_teman.jpg)
Dalam pergaulan, mereka lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Susan Cain dalam bukunya "Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking" (2012) menyebutkan bahwa banyak orang dengan tipe kepribadian yang tenang lebih menyukai interaksi yang bermakna dan mendalam (deep talk) ketimbang basa-basi permukaan yang seringkali berujung pada gosip.
Mereka mungkin tidak hadir di setiap arisan atau kumpul-kumpul yang isinya hanya membicarakan keburukan orang lain. Namun, saat Sahabat Fimela butuh teman yang tulus dan bisa dipercaya menjaga rahasia, merekalah orang yang tepat.
6. Berorientasi pada Tujuan (Goal-Oriented)
Orang yang sibuk membangun "istana" masa depannya tidak punya waktu untuk melempar batu ke rumah orang lain. Sifat conscientiousness atau kehati-hatian membuat mereka sangat terorganisir dan fokus pada pencapaian pribadi.
Waktu 24 jam bagi mereka sangat berharga. Menghabiskan 1 jam saja untuk mengurusi drama orang lain dianggap sebagai kerugian investasi waktu yang besar. Pola pikir ini membuat mereka sangat produktif dan seringkali sukses di bidang yang mereka tekuni.
7. Memiliki Toleransi Tinggi Terhadap Perbedaan (Openness)
Terakhir, mereka adalah tipe yang sangat terbuka (open-minded) dan tidak mudah menghakimi. Mereka sadar bahwa "benar" menurut mereka belum tentu "benar" untuk orang lain.
Sikap "biarkan saja" yang mereka miliki bukan karena apatis, melainkan karena mereka menerima bahwa setiap orang punya jalan hidup yang unik. Mereka tidak merasa punya otoritas moral untuk mendikte bagaimana orang lain harus menjalani hidupnya.
Tes Kepribadian Selesai dalam 1 Menit, Kamu Tipe "Kepo" atau "Peduli"?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4733308/original/029389800_1706884495-priscilla-du-preez-4BABC9tmbjc-unsplash.jpg)
Sahabat Fimela, terkadang batasan antara rasa peduli dan ingin tahu urusan orang lain memang terasa sangat tipis. Untuk membantu kamu mengenali kecenderungan diri sendiri, mari kita lakukan tes psikologi mandiri yang super sederhana ini. Cukup jawab pertanyaan di bawah ini dengan jujur di dalam hati: Saat seorang teman dekat tiba-tiba mengunggah status galau di media sosial tanpa penjelasan, apa tindakan pertama yang akan kamu lakukan?
- Pilihan A: Langsung mengirim pesan singkat berisi, "Kamu tidak apa-apa? Kalau butuh teman cerita, aku ada di sini ya," tanpa bertanya lebih lanjut tentang apa masalahnya.
- Pilihan B: Segera berselancar ke kolom komentar, lalu beralih menghubungi teman-teman yang lain untuk mencari tahu dan mencocokkan cerita tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya.
Jika jawabanmu dominan Pilihan A, selamat! Kamu adalah tipe individu yang memiliki kepedulian sehat (healthy empathy). Kamu mampu memberikan ruang aman bagi orang lain tanpa harus menginvasi privasi mereka. Namun, jika jawabanmu cenderung Pilihan B, bisa jadi kamu masih terjebak dalam budaya "kepo" yang reaktif. Belajar menahan diri untuk tidak mengulik detail masalah orang lain adalah langkah awal yang sangat baik untuk melatih kepribadian yang tenang dan minim drama.
Mengapa Sikap Ini Menyehatkan Mental Kita?
Sangat penting untuk ditambahkan bahwa sikap jarang ikut campur ini adalah salah satu kunci kesehatan mental di era digital. Dengan tidak membebani pikiran dengan masalah orang lain, kita mengurangi risiko compassion fatigue (kelelahan berempati) dan kecemasan.
Otak kita menjadi lebih jernih, tidur lebih nyenyak, dan hubungan dengan orang-orang terdekat justru menjadi lebih harmonis karena minim konflik. Sahabat Fimela, menjadi "penonton" yang tenang seringkali lebih baik daripada menjadi "pemain" dalam drama yang melelahkan.
Apakah bersikap jarang ikut campur urusan orang lain membuat kita terlihat sombong?
Sama sekali tidak, asalkan disampaikan dengan bahasa tubuh dan komunikasi yang santun. Justru, orang akan lebih segan dan menghormati Anda karena Anda dianggap sebagai pribadi yang netral, tidak memihak, dan bisa dipercaya. Kuncinya ada pada empati; Anda tetap bisa peduli dan membantu saat diminta, tanpa harus proaktif mengorek masalah pribadi mereka.
Bagaimana cara mulai berhenti "kepo" jika lingkungan sekitar sangat suka bergosip?
Mulailah dengan teknik "Grey Rock" atau menjadi sebatang batu yang membosankan saat diajak bergosip. Berikan respons datar seperti "Oh, begitu ya," atau "Wah, aku kurang paham soal itu," lalu segera alihkan topik ke hal yang lebih positif atau netral. Lama-kelamaan, lingkungan akan paham bahwa Anda bukanlah teman yang asyik untuk diajak bergunjing, dan mereka akan berhenti dengan sendirinya.
Apakah sikap ini hanya dimiliki oleh seorang introvert?
Tidak selalu. Meskipun introvert secara alami lebih fokus ke dalam diri, seorang ekstrovert yang memiliki kecerdasan emosional matang juga bisa memiliki kepribadian ini. Ini bukan soal seberapa banyak Anda bicara, tapi soal kualitas apa yang Anda bicarakan dan seberapa bijak Anda menempatkan diri dalam privasi orang lain. Banyak ekstrovert sukses yang sangat menjaga batasan karena mereka menghargai waktu dan energi mereka.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335829/original/035979500_1788067600-pexels-cottonbro-9068392.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771397/original/035966600_1710335712-pexels-andrea-piacquadio-3808057.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5682615/original/069282200_1778554818-cropped-395dcd03-c5e1-4262-bebb-9b073ee8529d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183397/original/018243600_1744182724-positive-woman-cowboy-hat-walking-bakota-area.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334890/original/013333800_1787903559-3984c7af-a82b-4128-82b6-1a07b19f38ad.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5232966/original/016507200_1748256610-steptodown.com918044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7603723/original/024514100_1780387722-pexels-mehmet-altintas-392989477-31486443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7826343/original/031913400_1780645907-pexels-cottonbro-6181839.jpg)
![Bikin anak makin sehat, ini rahasia trik stimulasi grounding. [Dok/Pexels.com/Ron Lach].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/cgstAcTvTYUIV7GNtQsuPEOVcXU=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7955671/original/027065700_1780791938-pexels-ron-lach-10033218.jpg)
![Jadwal screen time anak perlu dijadwalkan oleh orangtua. [Dok/Pexels.com/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/LK86RnhAWzlG7K1ijIgo3wL9INw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8051043/original/064727300_1780894473-pexels-thepaintedsquare-4200824.jpg)
![Sahabat Fimela, foto keluarga yang terlihat spontan justru sering terasa lebih natural dan penuh cerita dibanding pose yang terlalu formal. f[Dok/freepik.com/pchvector]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/dvcaFlLD52L-XiJszSMZSwrQzQY=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5631062/original/040957100_1778229336-12873.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5934075/original/055087900_1778831527-pexels-maksgelatin-4775196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570303/original/045253200_1777521902-mom-daughter-making-high-five_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542574/original/034170700_1774946838-medium-shot-people-yoga-mat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5436169/original/033702700_1765164894-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294924/original/059949500_1753424920-aditya-romansa-5zp0jym2w9M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331472/original/000237400_1787545626-katsia-jazwinska-mPCaVEv-pqs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326201/original/003720900_1786965126-gem3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335646/original/011346500_1788009959-IMG-20260829-WA0049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335626/original/080018000_1788008067-1000118220.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292222/original/022875000_1753247405-efee62e2-84c3-4d97-89c6-32bf7b5f099d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335594/original/051360000_1788001267-f88a50f6-f3e5-4260-8d0d-80e85f511f82.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335585/original/092679400_1787999956-WhatsApp_Image_2026-08-29_at_16.53.49.jpeg)
![Terlalu sering mengonsumsi makanan yang sangat diproses dan tinggi gula bukan hanya berdampak pada kesehatan dari dalam, tetapi juga bisa terlihat dari luar. [Dok/Freepik.com/Jane T D.].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/rIRFYw62dfsxTK4IezD0r_jOk1I=/260x125/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515714/original/067262900_1772186483-pexels-janetrangdoan-793759.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5462967/original/076809000_1767596357-beautiful-woman-listening-music.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568610/original/049652300_1777364543-attractive-young-woman-basket-fruits-vegetables-kitchen.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7420526/original/057972800_1780197853-pexels-miriam-alonso-7622586.jpg)