Fimela.com, Jakarta - Di dunia yang serba cepat dan terkadang terasa individualis, memiliki kepekaan emosional adalah sebuah kekuatan super yang menyejukkan. Tidak heran jika kebiasaan orang yang menunjukkan dirinya punya empati tinggi selalu berhasil menarik perhatian dan membuat siapa saja merasa nyaman berada di dekat mereka.
Sahabat Fimela, empati sejatinya jauh lebih dalam daripada sekadar rasa kasihan atau simpati semata. Menurut pakar psikologi dari berbagai studi internasional, empati adalah kemampuan kognitif dan emosional untuk benar-benar menempatkan diri pada posisi orang lain, ikut merasakan apa yang mereka rasakan, tanpa kehilangan batasan diri sendiri.
Lalu, seperti apa sebenarnya pola perilaku yang membedakan mereka dari orang kebanyakan? Apakah kamu sendiri secara tidak sadar sudah memiliki kualitas langka ini di dalam dirimu? Mari bersama selami lebih dalam delapan kebiasaan sehari-hari yang menjadi tanda nyata bahwa seseorang memiliki kecerdasan emosional dan tingkat empati yang jauh di atas rata-rata.
Advertisement
Advertisement
1. Mendengarkan Secara Aktif Tanpa Menghakimi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5449333/original/012084300_1766054356-pexels-freestockpro-344102.jpg)
Orang dengan empati tinggi tidak pernah mendengarkan hanya untuk sekadar membalas ucapan. Mereka mempraktikkan apa yang disebut sebagai active listening atau mendengarkan secara aktif, di mana seluruh perhatian mereka tertuju pada lawan bicara. Mereka akan menyingkirkan ponsel, menjaga kontak mata, dan sesekali mengangguk untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar hadir secara penuh di momen tersebut.
Lebih dari itu, mereka selalu berusaha menahan diri dari dorongan untuk memberikan penilaian atau nasihat instan kecuali jika diminta. Sahabat Fimela pasti tahu rasanya betapa leganya saat kita bercerita dan lawan bicara kita hanya mendengarkan, memvalidasi perasaan kita, tanpa langsung menyalahkan keadaan. Itulah kenyamanan yang selalu ditawarkan oleh seorang empath sejati.
2. Mahir Membaca Bahasa Tubuh dan Ekspresi Tersirat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5368871/original/059824300_1759395826-pexels-karolina-grabowska-6135041.jpg)
Sebagian besar komunikasi manusia sebenarnya terjadi secara non-verbal, dan orang yang berempati tinggi sangat menyadari hal ini. Mereka sangat peka terhadap perubahan kecil pada ekspresi wajah, nada suara yang sedikit bergetar, hingga postur tubuh yang menunjukkan ketidaknyamanan. Saat seseorang berkata "aku baik-baik saja" namun matanya menyiratkan kesedihan, si pemilik empati tinggi akan tahu kebenarannya.
Kemampuan intuitif ini membuat mereka mampu menjangkau orang-orang yang mungkin terlalu gengsi atau takut untuk meminta tolong secara langsung. Mereka sering kali menjadi orang pertama yang akan menepuk bahumu dan bertanya, "Kamu beneran nggak apa-apa? Kalau mau cerita, aku ada di sini ya," tepat di saat kamu sedang berusaha menutupi masalahmu dari dunia.
Advertisement
3. Menunjukkan Rasa Ingin Tahu yang Tulus pada Orang Asing
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254223/original/005052300_1750080445-front-view-young-beautiful-businesswoman-black-shirt-black-jacket-along-with-young-man-discussing-work-issues-inside-her-office-work-job-building.jpg)
Berbeda dengan kebanyakan orang yang cenderung pasif di lingkungan baru, individu yang empatik memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap kehidupan orang lain, termasuk mereka yang berada di luar lingkaran sosialnya. Mereka suka mengobrol dengan siapa saja, mulai dari rekan kerja beda divisi hingga ibu-ibu yang duduk di sebelahnya saat berada di transportasi umum.
Rasa ingin tahu ini bukan bertujuan untuk bergosip, melainkan berasal dari keinginan murni untuk memahami berbagai perspektif kehidupan manusia. Berbagai literatur psikologi global menyebutkan bahwa rasa ingin tahu (curiosity) adalah pendorong utama empati, karena hal itu menghancurkan prasangka dan memperluas pandangan kita terhadap dunia yang beragam.
4. Tidak Takut Menunjukkan Kerentanan Dirinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4589361/original/021590800_1695725399-pexels-anna-shvets-3727564.jpg)
Pakar kerentanan (vulnerability) asal Amerika Serikat, Brené Brown, sering menekankan bahwa empati tidak bisa tumbuh tanpa adanya keberanian untuk menjadi rentan. Orang yang empati tidak mencoba tampil sempurna di depan orang lain. Mereka sadar bahwa untuk membangun koneksi yang nyata, mereka juga harus berani membuka diri tentang kegagalan, ketakutan, dan luka mereka sendiri.
Dengan menunjukkan sisi manusianya, mereka menciptakan ruang aman (safe space) bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Ketika kamu melihat seseorang yang tidak malu mengakui kelemahannya demi membuat lawan bicaranya merasa tidak sendirian, kamu sedang berhadapan dengan seseorang yang tingkat empatinya sangat matang.
Advertisement
5. Selalu Menempatkan Diri pada Posisi Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940199/original/064410800_1725871357-mimi-thian-lp1AKIUV3yo-unsplash.jpg)
Sebelum bereaksi dengan amarah saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, orang yang empatik akan mengambil jeda sejenak untuk "berjalan memakai sepatu orang lain". Jika ada pelayan kafe yang salah mencatat pesanan atau rekan kerja yang terlambat membalas pesan, mereka tidak terburu-buru menghakimi dan melabeli orang tersebut tidak profesional.
Mereka cenderung berpikir, "Mungkin dia sedang kelelahan melayani banyak pelanggan," atau "Mungkin dia sedang menghadapi masalah keluarga yang berat." Pola pikir semacam ini bukan berarti mereka menoleransi kesalahan secara membabi buta, melainkan sebuah pendekatan manusiawi yang mengedepankan kebijaksanaan daripada ego semata.
6. Memberikan Ruang Penuh bagi Orang Lain untuk Bersinar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5213160/original/032061100_1746679492-Empati_dan_pengertian.jpg)
Dalam sebuah diskusi atau percakapan kelompok, orang berempati tinggi tidak memiliki dorongan untuk mendominasi pembicaraan (conversational narcissism). Mereka tidak merasa terancam saat orang lain menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, mereka justru sering menjadi pihak yang menyoroti pencapaian orang lain dan memberikan pujian yang tulus.
Jika ada seseorang di dalam grup yang terlihat kesulitan untuk bersuara atau terus-menerus disela, si pemilik empati inilah yang biasanya akan turun tangan. Mereka dengan halus akan memandu percakapan kembali kepada orang tersebut dengan berkata, "Oh ya, tadi kamu mau bilang apa sebelum kita ganti topik?"
Advertisement
7. Mengingat Detail-Detail Kecil yang Diucapkan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4733308/original/029389800_1706884495-priscilla-du-preez-4BABC9tmbjc-unsplash.jpg)
Salah satu ciri paling manis dari seseorang yang memiliki empati tinggi adalah kemampuannya mengingat hal-hal kecil yang pernah kamu ceritakan kepadanya. Mereka ingat nama hewan peliharaanmu, makanan yang membuatmu alergi, atau tanggal wawancara kerja yang sempat kamu sebutkan sambil lalu beberapa minggu yang lalu.
Kebiasaan ini membuktikan bahwa mereka benar-benar berinvestasi secara emosional dalam hubungan yang mereka jalin. Ketika seseorang bertanya, "Gimana hasil wawancara minggu lalu? Berjalan lancar kan?", hal itu memberikan efek emosional yang sangat positif dan membuat lawan bicara merasa benar-benar dihargai eksistensinya.
8. Menawarkan Bantuan Proaktif, Bukan Sekadar Basa-Basi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477619/original/081959200_1768877156-van-tay-media-Cdmm49zqIbw-unsplash.jpg)
Orang biasa mungkin akan berkata, "Beri tahu aku ya kalau butuh bantuan," saat melihat temannya kesusahan. Meski niatnya baik, kalimat ini sering kali membebani pihak yang sedang kesulitan karena mereka harus meminta. Namun, orang yang sangat empatik menawarkan bantuan dalam bentuk tindakan yang proaktif dan spesifik.
Alih-alih menunggu diminta, mereka akan datang membawakan makanan, mengambilkan pesanan, atau menawarkan hal konkret seperti, "Aku bantu kerjain bagian presentasi yang ini ya, biar bebanmu berkurang." Mereka sangat paham bahwa tindakan nyata jauh lebih berarti daripada sekadar simpati yang terucap di bibir.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Kebiasaan Orang yang Menunjukkan Dirinya Punya Empati Tinggi
1. Apa bedanya simpati dan empati? Simpati adalah rasa kasihan terhadap kemalangan orang lain dari kejauhan. Sementara empati adalah kemampuan untuk masuk ke dalam perasaan orang tersebut dan ikut merasakan apa yang mereka alami seolah berada di posisi yang sama.
2. Apakah empati tinggi adalah bakat bawaan sejak lahir? Meski sebagian orang memiliki kepekaan alami sejak lahir, empati pada dasarnya adalah keterampilan kognitif dan emosional yang bisa dipelajari, dilatih, dan dikembangkan oleh siapa saja seiring berjalannya waktu.
3. Apakah orang dengan empati tinggi sering merasa kelelahan mental? Ya, sangat sering. Orang berempati tinggi menyerap energi dan emosi dari sekitarnya bak spons. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa memicu empathy burnout atau kelelahan secara emosional dan fisik.
4. Bagaimana cara menetapkan batasan bagi seorang yang berempati tinggi? Penting untuk mengenali kapasitas emosional diri sendiri. Mulailah berani berkata "tidak" pada hal-hal yang menguras energi, luangkan waktu untuk menyendiri (me time), dan sadari bahwa kamu tidak bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah semua orang.
5. Bisakah empati membantu kesuksesan karier di masa depan? Tentu saja. Dalam dunia profesional modern, kecerdasan emosional dan empati merupakan kunci utama dalam kepemimpinan (empathetic leadership). Pemimpin yang berempati terbukti mampu membangun tim yang lebih solid, loyal, dan produktif.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5386815/original/023780600_1761024226-pexels-thirdman-7659454.jpg)
![Dinamika baterai sosial ini adalah hal yang sangat wajar dan menjadi keunikan tersendiri bagi setiap individu. [Dok/Pexels.com/Doci].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/6XbL7Zn5mABnXwgRi_egZSgx510=/200x200/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6209974/original/021020400_1779088134-pexels-doci-2215518-11963474.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4941561/original/024401900_1726013721-Ilustrasi_sugesti__berpikir__mengambil_keputusan__ragu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340293/original/057446400_1788500055-WhatsApp_Image_2026-09-04_at_12.23.42.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379711/original/009367800_1760356311-rr-abrot-pNIgH0y3upM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340083/original/063336100_1788477994-SnapInsta.to_790880907_18622805899058383_2075126531852966030_n.jpg)
![Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/jxPB5TNH0nn8re8DCFOsQg_YQkw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7254711/original/003125400_1780040631-2149599412.jpg)
![Sahabat Fimela, yuk simak tips traveling dengan anak picky eater. [Dok/freepik.com/pvproductions]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/BOaSn6x3gTIoUHDPu2cZgnZ0Cqg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255394/original/047151500_1780041531-13552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537423/original/021121200_1774423642-pexels-yankrukov-5791251.jpg)
![Sahabat Fimela, terdepan cara sederhana untuk membersihkan kompor, yaitu dengan menggunakan racikan baking soda dan cuka. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/b5j_UycbiR6Uyj6fghEUoPdfem0=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163473/original/028995400_1779953328-2148563321.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7165470/original/073643600_1779955615-pexels-reneterp-13821255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488589/original/000791000_1769757751-mom-comforting-her-upset-daughter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5932615/original/009181300_1778830171-little-boy-outdoor-crying.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570303/original/045253200_1777521902-mom-daughter-making-high-five_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542574/original/034170700_1774946838-medium-shot-people-yoga-mat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340638/original/030175500_1788513140-IMG_20260904_151448.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340603/original/093501200_1788512068-93195.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340571/original/036093900_1788510726-1000675573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340547/original/043618100_1788509701-Probolinggo_Bantuan_Air_Bersih.jpg.2000x1333_q85_crop.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7620748/original/064751100_1780407555-IMG_20260602_193027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5426450/original/037517400_1764306006-Screenshot_2025-11-28_113148.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340583/original/086012700_1788510995-pexels-ahsanjaya-8719573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340454/original/023023800_1788506852-pexels-anntarazevich-6560262.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340317/original/068580400_1788501488-pexels-karola-g-5900132.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4709232/original/031741000_1704703154-young-family-spending-time-with-their-toddler.jpg)