Sukses

Lifestyle

7 Ciri Orang yang Cenderung Menunda Membeli Sesuatu Meski Sudah Menginginkannya

Fimela.com, Jakarta - Pernahkah Sahabat Fimela memasukkan barang ke keranjang belanja online, memandangi fotonya berulang kali, mengecek saldo yang sebenarnya cukup, tapi jari ini terasa berat untuk menekan tombol checkout? Fenomena ini bukan sekadar tentang berhemat, melainkan sebuah pergulatan batin yang kompleks.

Dalam psikologi konsumen, perilaku ini sering dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri terhadap rasa sakit kehilangan uang, atau yang dikenal dengan Pain of Paying. Menariknya, ciri orang yang cenderung menunda membeli sesuatu meski sudah menginginkannya sering kali bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena otak mereka memproses transaksi tersebut sebagai sebuah ancaman kenyamanan emosional yang intens.

Sebuah studi klasik yang diterbitkan dalam jurnal Neuron berjudul "Spend 'Til It Hurts: The Effects of the 'Pain of Paying' on Consumer Spending" (2007) oleh Rick, Cryder, dan Loewenstein mengungkapkan bahwa aktivitas belanja dapat mengaktifkan area insula di otak, wilayah yang sama yang menyala ketika kita merasakan sakit fisik.

Bagi sebagian orang, "rasa sakit" saat mengeluarkan uang ini jauh lebih besar daripada kepuasan mendapatkan barang yang diidamkan, sehingga penundaan menjadi obat penenangnya. Berikut ulasan Liputan6.com tentang ciri orang yang cenderung menunda membeli sesuatu meski sudah menginginkannya dari berbagai sumber Kamis (10/9/2026).

1. Kebanyakan Cari Informasi sampai Bingung Memilih

Ciri pertama yang paling menonjol adalah kecenderungan untuk melakukan riset yang berlebihan hingga sampai di titik kelumpuhan analisis (Analysis Paralysis). Mereka tidak hanya membandingkan harga di dua toko, tetapi bisa membuka puluhan tab browser untuk membandingkan spesifikasi, membaca ratusan ulasan dari bintang satu sampai lima, hingga mengecek riwayat harga barang tersebut dalam setahun terakhir.

Sahabat Fimela yang memiliki ciri ini sering kali merasa takut membuat keputusan yang "salah" atau kurang optimal. Padahal, sering kali perbedaan harga atau fiturnya tidak signifikan dibandingkan waktu yang terbuang. Mereka menunda pembelian bukan karena tidak mau barangnya, tapi karena takut ada opsi lain yang "sedikit lebih baik" yang belum mereka temukan. Akibatnya, keputusan pembelian tertunda berminggu-minggu, bahkan hingga barang tersebut habis stoknya.

2. Terlalu Berat Mengeluarkan Uang untuk Membeli Sesuatu

Seperti yang dijelaskan dalam penelitian Loewenstein, individu ini memiliki ambang batas toleransi yang rendah terhadap pengeluaran uang. Bagi mereka, melihat saldo rekening berkurang memberikan sensasi ketidaknyamanan yang nyata, terlepas dari seberapa besar sisa saldo yang dimiliki. Ini bukan pelit (stingy), melainkan karakter tightwad—orang yang merasa sakit saat membelanjakan uangnya.

Gejala fisik: Mungkin merasa mulas atau cemas saat harus mentransfer uang dalam jumlah besar.

Preferensi pembayaran: Cenderung menunda karena harus "mengumpulkan mental" dulu sebelum membayar.

Mereka sering kali membutuhkan validasi eksternal berulang kali ("Ini beneran butuh nggak ya?") atau menunggu momen di mana "rasa sakit" itu bisa diminimalisir, misalnya saat ada cashback besar, agar perasaan kehilangan uang itu sedikit terobati.

3. Selalu Ingin Memilih yang Paling Sempurna

Berbeda dengan satisficer yang puas dengan barang yang "cukup bagus", orang dengan ciri ini adalah seorang maximizer. Mereka menunda membeli karena menunggu momen, kondisi, atau varian yang 100% sempurna. "Nanti dulu deh, siapa tahu bulan depan keluar model yang warnanya lebih soft," atau "Tunggu dulu, siapa tahu nanti ada bundling yang lebih untung."

Pola pikir ini membuat standar kepuasan mereka menjadi sangat tinggi dan sulit dicapai. Penundaan dilakukan bukan karena ragu pada barangnya, tapi pada timing-nya. Mereka ingin memastikan bahwa setiap sen yang keluar memberikan nilai (value) yang paling maksimal yang bisa didapatkan di muka bumi ini. Sayangnya, karena kesempurnaan itu jarang ada, mereka sering kali berakhir tidak membeli apa-apa dan terus menunggu momen yang tidak pernah datang.

4. Lebih Senang Saat Menginginkan Sesuatu daripada Saat Sudah Memilikinya

Tahukah Sahabat Fimela bahwa dopamin (hormon kesenangan) justru memuncak saat kita menginginkan sesuatu, bukan saat kita memilikinya? Orang yang suka menunda pembelian secara tidak sadar kecanduan pada sensasi antisipasi ini. Membayangkan diri memiliki sepatu baru sering kali lebih menyenangkan daripada benar-benar memakainya.

Ketika barang sudah dibeli, sensasi mendebarkan itu hilang (hedonic adaptation), dan mereka kembali merasa biasa saja. Untuk memperpanjang rasa senang tersebut, mereka membiarkan barang itu di keranjang belanja atau wishlist. Menunda pembelian adalah cara mereka menjaga "mimpi" tetap hidup dan menyenangkan tanpa harus menghadapi realitas kebosanan pasca-pembelian.

5. Takut Menyesal Setelah Membuat Pilihan

Ciri selanjutnya adalah rasa takut yang berlebihan akan penyesalan di masa depan (Anticipatory Regret). Pikiran mereka dipenuhi skenario "Bagaimana kalau...":

"Bagaimana kalau besok harganya turun 50%?"

"Bagaimana kalau ternyata aku nggak sering pakai barangnya?"

"Bagaimana kalau uangnya tiba-tiba butuh untuk hal darurat?"

Kecemasan ini membuat mereka membekukan tindakan. Mereka menunda pembelian sebagai bentuk asuransi emosional agar tidak merasa bodoh di kemudian hari. Padahal, sering kali kekhawatiran tersebut tidak berdasar. Mereka lebih memilih "menyesal tidak membeli" (yang rasanya lebih ringan) daripada "menyesal telah membeli" (yang rasanya lebih berat bagi mereka).

6. Suka Membandingkan dengan Pilihan yang Lebih Murah atau Lebih Untung

Di Indonesia, kita sering menyebutnya kaum "Mendang-mending". Orang dengan ciri ini selalu melihat biaya peluang (opportunity cost) secara ekstrem. Saat ingin membeli tas seharga 500 ribu, otaknya langsung berhitung: "500 ribu itu bisa buat beli beras sebulan," atau "Mending ditabung buat dana pensiun."

Meskipun hitungan ini bijak, pada level ekstrem, hal ini membuat mereka tidak bisa menikmati hasil kerja kerasnya sendiri. Mereka menunda pembelian barang yang sebenarnya bisa meningkatkan produktivitas atau kebahagiaan mereka karena selalu membandingkannya dengan kebutuhan dasar atau tabungan masa depan yang belum tentu terancam. Setiap pengeluaran gaya hidup dianggap sebagai pemborosan sumber daya yang vital.

7. Merasa Sangat Bersalah Setelah Mengeluarkan Uang

Terakhir, ciri orang yang menunda pembelian adalah adanya rasa bersalah yang mendalam saat membelanjakan uang untuk diri sendiri. Mereka mungkin sangat royal saat membelikan kado untuk teman atau kebutuhan keluarga, namun sangat sulit mengeluarkan uang untuk keinginan pribadi.

Mereka merasa tidak pantas (undeserving) mendapatkan reward tersebut. Penundaan adalah bentuk hukuman bawah sadar atau negosiasi alot dengan diri sendiri untuk mencari pembenaran bahwa mereka "boleh" membelinya. Biasanya, mereka baru akan membeli jika ada alasan rasional yang sangat kuat (misalnya barang lama rusak total) atau jika ada orang lain yang meyakinkan mereka bahwa itu bukan pemborosan.

Strategi Berdamai dengan Pengeluaran

Berdamai dengan pengeluaran bukan berarti kita menjadi boros, melainkan belajar untuk menghargai hasil jerih payah sendiri tanpa dihantui rasa takut yang berlebihan. Langkah pertama yang paling efektif adalah mengubah cara pandang kita terhadap uang. Uang bukanlah sekadar angka penanda keamanan di rekening bank, melainkan sebuah alat tukar yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan kebahagiaan yang berkelanjutan.

Untuk membantu Sahabat Fimela mengikis rasa cemas dan bersalah saat ingin membeli sesuatu yang diidamkan, berikut adalah beberapa strategi sederhana yang bisa langsung diterapkan sehari-hari:

Terapkan Aturan 72 Jam

Ketika Sahabat Fimela sangat menginginkan suatu barang, jangan langsung membelinya. Masukkan dulu ke dalam keranjang belanja atau daftar keinginan (wishlist), lalu tunggu selama tiga hari. Jika setelah 72 jam perasaan ingin memiliki itu masih kuat dan anggaran Anda memang tersedia, belilah tanpa ragu karena itu berarti barang tersebut memang bernilai bagi Anda.

Buat "Guilt-Free Fund" (Dana Bebas Bersalah)

Alokasikan anggaran khusus setiap bulan sekitar 5% hingga 10% dari penghasilan untuk kesenangan pribadi. Karena dana ini sejak awal memang disiapkan untuk dihabiskan, Anda tidak perlu merasa bersalah atau cemas saat menggunakannya untuk membeli barang impian atau sekadar self-reward.

Gunakan Metode Pembayaran yang Minim "Rasa Sakit"

Jika melihat saldo rekening langsung berkurang membuat Anda stres, cobalah metode pembayaran otomatis di awal bulan atau pisahkan uang belanja ke rekening digital khusus. Menggunakan dompet digital (e-wallet) yang sudah diisi saldo bulanan sering kali mengurangi efek Pain of Paying dibandingkan harus melakukan transfer manual berulang kali.

Fokus pada Nilai Guna dan Kebahagiaan Jangka Panjang

Alihkan fokus pikiran dari "berapa uang yang hilang" menjadi "apa manfaat atau kebahagiaan yang akan saya dapatkan". Jika barang tersebut bisa mempermudah pekerjaan, menghemat waktu Anda sehari-hari, atau memberikan kenyamanan mental yang bertahan lama, maka pengeluaran tersebut adalah sebuah investasi yang sangat layak.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Menunda Belanja

Apakah menunda membeli barang yang diinginkan selalu merupakan hal yang baik?

Jawaban: Tidak selalu. Meskipun menunda bisa mencegah pembelian impulsif, penundaan yang berlebihan (chronic delaying) bisa menghambat produktivitas dan kebahagiaan. Jika Anda menunda membeli laptop baru padahal laptop lama sudah sangat lambat dan menghambat kerja, penundaan tersebut justru merugikan Anda secara waktu dan emosional. Kuncinya adalah keseimbangan antara kebutuhan, kemampuan finansial, dan pemenuhan diri.

Apa bedanya orang yang hemat (frugal) dengan orang yang menderita "pain of paying" tinggi?

Jawaban: Perbedaannya terletak pada emosi yang dirasakan. Orang yang hemat (frugal) merasa senang (joy) saat bisa menyimpan uang atau menemukan harga terbaik; mereka memilih tidak membeli karena prioritas nilai. Sebaliknya, orang dengan pain of paying tinggi merasa cemas atau sakit (distress) saat harus mengeluarkan uang, bahkan untuk hal yang mereka butuhkan atau sangat inginkan. Hemat adalah strategi, sedangkan pain of paying adalah reaksi emosional negatif.

Bagaimana cara mengatasi "Analysis Paralysis" saat belanja online?

Jawaban: Batasi waktu dan sumber riset Anda. Terapkan aturan "Cukup Bagus" (Satisficing) daripada mengejar kesempurnaan. Misalnya, tetapkan waktu maksimal 30 menit untuk riset, dan batasi hanya membandingkan di 3 toko terpercaya. Jika barang tersebut memenuhi 80% kriteria Anda dan harganya masuk akal, segera putuskan untuk membeli. Ingatlah bahwa waktu yang Anda habiskan untuk riset berjam-jam juga memiliki "harga" yang mahal.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading