Sukses

Lifestyle

Sisi Gelap Flexing di Media Sosial, Saat Validasi Mengganggu Rencana Finansial Pensiun

Fimela.com, Jakarta - Media sosial membuat seseorang semakin mudah melihat pencapaian dan gaya hidup orang lain, mulai dari koleksi barang bermerek, liburan mewah, hingga pengalaman bersantap di restoran mahal. Fenomena flexing di media sosial muncul ketika seseorang memamerkan kekayaan atau status melalui berbagai unggahan untuk menunjukkan citra kehidupan yang terlihat sukses.

Tanpa disadari, paparan tersebut dapat memunculkan keinginan untuk mengikuti standar hidup yang sama demi mendapatkan pengakuan. Dilansir dari Psychology of Popular Media, paparan unggahan yang menampilkan konsumsi barang mewah dapat meningkatkan aspirasi materialistis pada pengguna media sosial di Indonesia. Penelitian tersebut melibatkan 2.296 pengguna Instagram di Indonesia. 

Keinginan untuk mendapatkan validasi dapat menjadi persoalan ketika seseorang mulai mengutamakan penampilan dibandingkan kondisi keuangan sebenarnya. Membeli barang demi konten, mengikuti tren, atau memaksakan liburan agar terlihat sukses bisa mengurangi dana yang seharusnya dialokasikan untuk tabungan dan investasi.

Dalam konteks ini, flexing di media sosial dapat mendorong seseorang mengeluarkan uang demi memenuhi ekspektasi sosial, alih-alih memprioritaskan kebutuhan finansialnya sendiri. Padahal, rencana pensiun membutuhkan persiapan jangka panjang. Ketika pengeluaran untuk memenuhi ekspektasi sosial terus didahulukan, kesempatan membangun tabungan dan keamanan finansial di masa depan berisiko semakin terbatas.

Tanda Flexing Mulai Mengganggu Kondisi Keuangan dan Rencana Pensiun

Keinginan untuk terlihat sukses di media sosial tidak selalu berdampak buruk. Namun, ketika seseorang mulai mengukur pencapaian dari barang yang dimiliki atau gaya hidup yang ditampilkan, keputusan finansial dapat berubah.

Dilansir dari Social Media Influencers and Followers’ Conspicuous Consumption: The Mediation of Fear of Missing Out and Materialism, paparan konten influencer dapat memicu perbandingan sosial dan fear of missing out (FOMO), yang berkaitan dengan kecenderungan membeli barang untuk menunjukkan status. 

Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan ketika validasi sosial mulai memengaruhi kesehatan finansial: 

  1. Membeli barang demi konten. Seseorang mengeluarkan uang untuk barang bermerek atau produk yang sedang tren, meskipun barang tersebut bukan kebutuhan utama.
  2. Mengikuti gaya hidup di luar kemampuan. Pengeluaran untuk nongkrong, liburan, atau berbelanja meningkat karena ingin menyamai kehidupan orang lain.
  3. Menunda tabungan dan investasi. Uang yang seharusnya disisihkan untuk dana darurat atau persiapan pensiun justru digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat.
  4. Mengandalkan utang untuk mempertahankan citra. Penggunaan kartu kredit atau layanan paylater meningkat demi membiayai gaya hidup yang belum sesuai dengan kemampuan finansial.

Kebiasaan tersebut perlu dievaluasi karena persiapan pensiun membutuhkan waktu dan konsistensi. Dilansir dari Investor.gov, memulai investasi lebih awal memberikan waktu lebih panjang bagi pertumbuhan berbunga majemuk untuk membantu mengembangkan aset.

Cara Menghindari Jebakan Flexing agar Rencana Pensiun Tetap Terjaga

Menghindari dampak negatif flexing bukan berarti harus berhenti menikmati media sosial atau membeli barang yang diinginkan. Hal terpenting adalah memahami alasan di balik setiap pengeluaran dan memastikan keputusan tersebut tidak mengganggu kebutuhan utama maupun tujuan finansial jangka panjang.

Dilansir dari Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), menetapkan tujuan keuangan dapat membantu seseorang mengambil keputusan sesuai kebutuhannya. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.

  1. Membedakan kebutuhan dan keinginan. Pertimbangkan apakah barang yang sedang tren benar-benar dibutuhkan atau hanya karena melihat unggahan orang lain.
  2. Membuat anggaran bulanan. Atur pengeluaran untuk kebutuhan pokok, hiburan, tabungan, dan investasi agar belanja tetap terkendali.
  3. Menyisihkan uang untuk masa depan. Sisihkan penghasilan secara rutin untuk dana darurat dan tabungan pensiun sebelum memenuhi keinginan tambahan.
  4. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri. Ingat bahwa unggahan media sosial hanya menampilkan sebagian kehidupan seseorang. Setiap orang memiliki kondisi keuangan dan tanggung jawab berbeda.
  5. Meninjau tujuan finansial. Evaluasi pengeluaran secara berkala agar kebiasaan belanja tidak menghambat rencana jangka panjang.

Keberhasilan finansial tidak harus dibuktikan melalui barang mewah. Tabungan yang bertumbuh, utang terkendali, dan persiapan pensiun yang matang juga merupakan pencapaian penting.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading