Sukses

Lifestyle

Cantik Sekaligus Sayang Bumi: Yuk, Mulai dari Lebih Bijak Memilih Produk Beauty dan Fashion!

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernah membuka media sosial tanpa niat belanja, lalu tiba-tiba tertarik mencoba lipstik atau membeli outfit baru? Warna yang cantik, styling yang menarik, hingga rekomendasi kreator favorit bisa membuat barang yang sebelumnya tidak terpikirkan terasa perlu dimiliki.

Menikmati beauty dan fashion memang menyenangkan. Namun, di tengah tren yang terus berganti, kita juga bisa memberi ruang untuk bertanya: apakah pilihan ini sesuai dengan kebutuhan, akan digunakan, dan melengkapi barang yang sudah dimiliki?

Refleksi tersebut menjadi bagian dari Inspiring Talk “Cantik Itu Harus Seperti Apa Sih?” di Langkah Membumi Market 2026 yang berlangsung di Grand Indonesia, Jakarta, pada Jumat (09/10/2026). Dipandu Group Head Groceries & Lifestyle Blibli Krisantia Nugraha, sesi ini menghadirkan Actress & Entrepreneur, Luna Maya; Conscious Fashion Content Creator, Cempaka Asriani; serta Scientist ParagonCorp, Sheilla Windy.

Melalui pengalaman personal dan perspektif masing-masing, mereka mengajak perempuan melihat kembali kebiasaan merawat diri dan berbelanja. Ada pilihan sederhana yang bisa dicoba untuk tetap menikmati dunia kecantikan sekaligus lebih peduli pada bumi.

Cantik dengan Gaya Sendiri, Lebih Sadar Saat Mengikuti Tren

Bagi Luna Maya, bekerja di industri hiburan membuat penampilan menjadi bagian penting dari keseharian. Pada awal kariernya, tampil fashionable juga terasa seperti sesuatu yang perlu terus dibuktikan. Kekhawatiran terhadap komentar orang ketika memakai barang yang sama ikut memengaruhi keputusan belanjanya.

Pujian karena selalu mengenakan barang baru pun dapat membuat keinginan membeli semakin besar. Sampai akhirnya, Luna menyadari bahwa kebiasaan tersebut perlu dipikirkan kembali.

“Sampai akhirnya aku berpikir, ini nggak benar. Keputusan kita justru digerakkan oleh opini dan omongan orang. Kita mengorbankan uang, sementara mengikuti tren nggak akan ada habisnya,” ungkapnya.

Kini, ia lebih mempertimbangkan barang yang benar-benar disukai, tahan lama, dan bisa digunakan mengikuti berbagai tren. Luna masih menikmati belanja, tetapi mulai membedakan keinginan dengan kebutuhan.

“Industriku memang dekat sekali dengan fast fashion dan tren makeup. Jadi, kadang masih ada sisi konsumtif. Kalau diberi barang, aku masih mau menerima. Tetapi kalau membeli, sekarang aku lebih mindful. Keinginan itu nggak akan ada habisnya. Pertanyaannya, apakah kita memang benar-benar butuh?” ungkap Luna.

Pengalaman berbeda membawa Cempaka Asriani pada kesadaran serupa. Saat pindah rumah, ia mendapati tempat penyimpanan yang tersedia tidak cukup untuk menampung barangnya, termasuk 60-70 pasang sepatu yang ia miliki.

“Aku minta tempat penyimpanannya ditambah, tetapi nggak dikasih. Arsiteknya bilang, ‘Bukan tempatnya yang mengikuti barangnya, tetapi barangnya yang mengikuti tempatnya.’ Dari situ aku berpikir, mungkin barangku memang terlalu banyak,” cerita Cempaka.

Ia kemudian melakukan decluttering besar-besaran. Dari proses itu, Cempaka menyadari bahwa barang yang rutin digunakan ternyata hanya sebagian dari koleksinya. Saat pandemi, sejumlah sepatu juga rusak karena lama tidak dipakai.

“Ternyata, pada akhirnya barang yang kita pakai itu-itu saja. Jadi, buat apa punya begitu banyak barang?” katanya.

Kenali Produk dan Pilih yang Sesuai Kebutuhanmu

Setiap orang memiliki kebutuhan dan preferensi kecantikan yang berbeda. Hal ini menjadi bagian dari pendekatan ParagonCorp dalam mengembangkan produk yang lebih personal. Scientist ParagonCorp, Sheilla Windy, menjelaskan bahwa riset dilakukan untuk memahami kebutuhan konsumen dan menemukan solusi yang sesuai.

“Riset dilakukan sesuai kebutuhan produknya. Kalau produknya baru, kami melakukan riset mendalam untuk memahami kebutuhan konsumen. Karena pada akhirnya, kami kembali pada pertanyaan: apakah produk ini benar-benar dapat mempermudah hidup konsumen?” jelas Sheilla.

Proses tersebut juga menggali apakah konsumen memang membutuhkan produk yang dikembangkan. Dengan demikian, riset dapat membantu memastikan bahwa produk menjawab persoalan yang mereka hadapi dalam keseharian.

Pertimbangan serupa bisa diterapkan ketika memilih produk kecantikan secara mindful. Sebelum membeli, Sahabat Fimela dapat mengenali kebutuhan dan kecocokan produk dengan diri sendiri. Untuk makeup, misalnya, mengenali personal color bisa membantu menentukan warna yang sesuai di tengah banyaknya pilihan.

“Menurutku, prioritas pertama adalah memilih warna yang tepat dan mengenali personal color masing-masing. Sekarang sudah banyak pendekatan yang bisa membantu kita mengenali warna yang sesuai dengan diri sendiri,” ujar Sheilla.

Memahami warna yang cocok memberi kita pertimbangan saat tertarik mencoba makeup baru. Kita pun bisa lebih terarah memilih produk yang akan digunakan dan melengkapi koleksi yang sudah dimiliki.

Beri Jeda Sebelum Checkout, Maksimalkan yang Sudah Ada

Memahami kebutuhan kadang menjadi tantangan ketika rekomendasi produk terus muncul di media sosial. Menurut Cempaka, paparan konten affiliate, iklan, dan postingan content creator dapat membuat barang yang semula tidak diinginkan terasa dibutuhkan.

Cara yang ia lakukan untuk menyikapinya cukup sederhana: memberi jeda sebelum membeli.

“Kalau sulit menahan diri untuk nggak langsung add to cart, nggak apa-apa masukkan dulu ke keranjang. Aku biasanya menunggu 3x24 jam. Kalau tiga hari kemudian masih kepikiran barang itu, kemungkinan besar kita memang memerlukannya,” tutur Cempaka.

Jeda tiga hari merupakan kebiasaan pribadi Cempaka untuk mengevaluasi keinginan. Baginya, waktu tersebut memberi kesempatan untuk memikirkan kembali kecocokan barang dan alasan membelinya. Sering kali, ketertarikan awal justru berlalu.

Selain menimbang pembelian baru, barang yang sudah tidak digunakan juga dapat dievaluasi. Luna mengakui adanya ikatan sentimental yang terkadang membuatnya sulit melepas barang. Namun, ia mulai rela ketika barang tersebut tidak lagi muat atau dipakai.

“Tetapi kalau sudah nggak muat dan nggak dipakai, aku rela barang tersebut berpindah tangan dan menjadi cerita orang lain,” ungkapnya.

Bahkan, Luna sendiri mulai membiasakan diri untuk melakukan thrifting dan beli barang secondhand. “Aku juga nggak malu dengan thrifting atau beli barang secondhand. Menurutku, itu justru lebih keren,” ujar Luna.

Wah, insightful banget kan sesi talkshow Cantik Itu Seperti Apa Sih yang hadir di Festival Langkah Membumi 2026 ini? Semangat untuk memahami, mencoba, dan memulai kebiasaan yang lebih sadar hadir melalui Langkah Membumi Market 2026 dengan tema “Better Living Starts Here”. Bersama Blibli, pengunjung diajak menemukan pilihan beauty dan lifestyle, bertemu brand serta komunitas, hingga mengikuti workshop dan talkshow yang memberi inspirasi untuk merawat diri sekaligus menyayangi bumi.

Yuk, Sahabat Fimela, mulai langkah cantik yang bertanggung jawab dari sekarang untuk better living!

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading