Fimela.com, Jakarta - Menyela atau memotong pembicaraan orang lain adalah salah satu dinamika interaksi sosial yang sering memicu frustrasi dan rasa tidak dihargai. Dalam konteks hubungan antarpersonal maupun profesional, tindakan memotong percakapan orang lain kerap dilabeli secara instan sebagai bentuk ketidaksopanan, dominasi egois, atau kurangnya etika berkomunikasi.
Meskipun demikian, studi ilmiah dalam bidang psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa fenomena ini memiliki alasan mendasar yang jauh lebih kompleks. Menyela pembicaraan sering kali tidak didasari oleh niat jahat atau kesengajaan untuk meremehkan lawan bicara, melainkan akibat respons kognitif, gejolak emosional, serta keterbatasan kontrol impuls bawaan.
Memahami faktor emosional dan mekanisme saraf di balik interaksi verbal membantu kita merespons situasi ini secara rasional tanpa langsung menghakimi. Berikut adalah kumpulan alasan psikologis yang mendasari kebiasaan orang yang suka menyela pembicaraan, sebagaimana telah Fimela.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (13/10/2026).
Advertisement
Advertisement
1. Antusiasme Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367649/original/012668100_1791359549-19108.jpg)
Salah satu alasan psikologis utama seseorang menyela pembicaraan adalah tingginya tingkat kegembiraan emosional saat topik yang dibahas terasa sangat menarik. Ketika pikiran terstimulasi oleh ide atau informasi baru, otak memprosesnya sebagai dorongan energi positif yang sulit ditahan.
Akibatnya, kata-kata cenderung meluncur sebelum lawan bicara menyelesaikan kalimatnya. Pelaku pemotongan percakapan dalam kondisi ini bermaksud menunjukkan keterlibatan emosional dan empati yang kuat, namun cara penyampaiannya justru berisiko mengganggu alur dialog lawan bicara.
2. Keterbatasan Kontrol Inhibisi Otak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346281/original/028493200_1789119644-11261.jpg)
Secara neurobiologis, otak manusia terbiasa memprediksi dan memformulasi tanggapan secara simultan saat mendengarkan orang lain berbicara. Proses antisipasi kognitif ini diatur oleh fungsi eksekutif yang disebut kontrol inhibisi (inhibitory control).
Pada sebagian individu, terjadi kelemahan sementara pada kontrol inhibisi tersebut saat interaksi berlangsung intens. Otak merilis motorik bicara secara prematur sebelum waktu yang tepat, sehingga memicu terjadinya interupsi yang tidak disengaja.
Advertisement
3. Kecepatan Berpikir yang Sangat Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315769/original/019286500_1785894816-2148143190.jpg)
Individu yang memiliki kecepatan berpikir tinggi sering kali memproses informasi jauh lebih cepat daripada laju ucapan lawan bicaranya. Mereka mampu memprediksi arah percakapan, menarik kesimpulan, atau memikirkan ide-ide turunan dalam hitungan detik.
Kecepatan aliran ide ini menciptakan kekhawatiran kognitif bahwa pemikiran penting yang baru saja terlintas akan hilang jika tidak segera diutarakan. Oleh karena itu, mereka memotong pembicaraan semata-mata untuk mengamankan gagasannya sebelum terlupakan.
4. Dorongan Kuat untuk Memperbaiki atau Menyelesaikan Masalah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342305/original/030887800_1788764565-pexels-karola-g-6135186.jpg)
Banyak orang yang memotong percakapan didorong oleh hasrat internal untuk segera memberikan solusi atau klarifikasi atas fakta yang dianggap keliru. Orientasi berpikir yang terlalu fokus pada tujuan (goal-focused) membuat mereka mengabaikan aspek emosional mendengarkan.
Begitu mendengar sebuah hambatan atau kekeliruan kecil, refleks kognitif mereka langsung mengambil alih untuk membenarkan informasi atau memberikan jalan keluar secara instan, meskipun pihak lawan bicara hanya membutuhkan ruang untuk didengarkan.
Advertisement
5. Toleransi Rendah Terhadap Jeda atau Hening
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5195248/original/081846600_1745333140-two-women-relaxing-sofa-drinking-beer-while-socializing-home-party_482257-6383.jpg)
Dalam alur komunikasi sosial, jeda singkat saat lawan bicara mengambil napas atau memilih kata sering diartikan secara keliru oleh sebagian orang. Individu dengan toleransi rendah terhadap keheningan menganggap jeda tersebut sebagai sinyal bahwa giliran bicara telah berpindah.
Kecemasan akan suasana canggung mendorong mereka untuk segera mengisi ruang hampa udara tersebut dengan suara atau tanggapan baru, padahal lawan bicara sebenarnya hanya sedang merangkai gagasan lanjutannya.
6. Rasa Cemas dan Ketidakamanan Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5020137/original/078875600_1732509183-pexels-ekaterina-bolovtsova-4051134.jpg)
Kecemasan sosial dan rasa tidak aman (insecurity) kerap kali termanifestasi dalam bentuk perilaku dominasi verbal. Seseorang yang merasa diabaikan atau takut tidak dianggap dalam suatu kelompok sosial akan menggunakan cara menyela sebagai mekanisme pertahanan diri.
Dengan memotong pembicaraan, mereka berusaha memastikan kehadiran serta suara mereka diakui oleh lingkungan sekitarnya, sekalipun strategi ini justru bisa memicu penolakan sosial yang lebih besar.
Advertisement
7. Kebutuhan Memegang Kendali dan Dominasi Hubungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318556/original/044020800_1786103567-17206.webp)
Menyela pembicaraan juga bisa menjadi bentuk asserting power atau manuver komunikasi untuk memegang kendali. Individu dengan kecenderungan dominan menggunakan interupsi untuk mengarahkan diskusi ke topik yang mereka kuasai atau nyaman bagi mereka.
Dalam skenario yang lebih ekstrem, perilaku interupsi yang terjadi secara persisten dan manipulatif dapat menjadi taktik komunikasi intimidatif guna mengarahkan dinamika hubungan secara sepihak.
8. Latar Belakang Budaya dan Pola Komunikasi Keluarga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8785833/original/014910000_1782896411-pexels-helenalopes-27177745.jpg)
Pola komunikasi seseorang sangat dipengaruhi oleh norma budaya serta kebiasaan di dalam lingkungan keluarganya. Di beberapa kebudayaan atau gaya interaksi keluarga tertentu, memotong pembicaraan dan saling menimpal dianggap sebagai tanda percakapan yang hangat, dinamis, dan penuh energi.
Bagi individu yang tumbuh dalam lingkungan tersebut, menyela bukan dianggap sebagai tindakan tidak sopan, melainkan cara alami untuk berpartisipasi secara aktif dalam sebuah diskusi.
Advertisement
Pertanyaan Umum Seputar Kebiasaan Menyela Pembicaraan
Q: Apakah kebiasaan menyela pembicaraan selalu menandakan sifat egois atau tidak sopan?
A: Tidak selalu. Meskipun dampak sosialnya sering dinilai negatif, banyak kasus menyela disebabkan oleh faktor neurobiologis seperti dorongan antusiasme tinggi, kecemasan, atau keterbatasan kontrol inhibisi kognitif, bukan atas dasar niat meremehkan lawan bicara.
Q: Bagaimana cara menegur orang yang suka memotong pembicaraan tanpa memicu konflik?
A: Gunakan kalimat berfokus pada diri sendiri (I-statement) dan pilih momen yang tenang. Anda dapat menyampaikan pernyataan seperti, "Saya ingin menyelesaikan poin ini terlebih dahulu agar gambarannya utuh, setelah itu saya sangat ingin mendengar tanggapanmu."
Q: Apakah kondisi medis tertentu seperti ADHD dapat membuat seseorang lebih sering menyela?
A: Ya, individu dengan kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kerap mengalami tantangan pada fungsi eksekutif dan kontrol impuls. Hal ini membuat mereka lebih rentan menyela percakapan secara tidak sengaja karena takut kehilangan alur pemikiran atau sulit menahan dorongan untuk langsung merespons.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362889/original/050454300_1790834282-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372229/original/054046600_1791872217-pexels-ahsanjaya-8719575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5376579/original/096328600_1760009341-Ilustrasi_perbedaan_kepribadian_introvert_dan_ekstrovert_dalam_hal_preferesnsi_lingkungan_kerja.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5235851/original/072546600_1748437174-happy-young-asian-woman-feel-success-winning-celebrating-sitting-with-laptop-smartphone-c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3590281/original/029206000_1633154880-melissa-askew-a1n1yPxHoIM-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4554510/original/049086300_1693216597-anthony-tran-3B6RfJQKBEM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572813/original/016259900_1777870791-medium-shot-kid-with-tablet-plane_1_.jpg)
![Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/jxPB5TNH0nn8re8DCFOsQg_YQkw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7254711/original/003125400_1780040631-2149599412.jpg)
![Sahabat Fimela, yuk simak tips traveling dengan anak picky eater. [Dok/freepik.com/pvproductions]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/BOaSn6x3gTIoUHDPu2cZgnZ0Cqg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255394/original/047151500_1780041531-13552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537423/original/021121200_1774423642-pexels-yankrukov-5791251.jpg)
![Sahabat Fimela, terdepan cara sederhana untuk membersihkan kompor, yaitu dengan menggunakan racikan baking soda dan cuka. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/b5j_UycbiR6Uyj6fghEUoPdfem0=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163473/original/028995400_1779953328-2148563321.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501289/original/065172500_1770892932-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441751/original/077518700_1765516997-medium-shot-woman-girl-playing-memory-game.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5547486/original/041802400_1775460284-prostooleh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314373/original/019217700_1785744561-pexels-dmitry-rodionov-30680377.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354984/original/074492100_1790068177-pexels-pavel-danilyuk-7938005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496723/original/082498100_1688964288-sylwia-bartyzel-m7HrMJJ0bW0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5364166/original/001813400_1759043139-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2839270/original/059429300_1561673686-bakaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372044/original/068563800_1791865151-1002921108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372008/original/098413900_1791862742-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_10.32.03.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370517/original/024065500_1791635002-IMG_20261010_181243.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370529/original/077961300_1791636590-WhatsApp_Image_2026-10-10_at_19.18.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372260/original/052537800_1791873550-o.Xv5fQqBc9Q4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5069052/original/094665300_1735288328-Potret_Terbaru_Gong_Yoo_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372113/original/023785900_1791867786-Depositphotos_657976242_S.jpg)