Sukses

Lifestyle

Ciri Orang yang Tetap Membeli Barang Diskon Meski Tidak Membutuhkannya

Fimela.com, Jakarta - Melihat label diskon besar sering kali membuat seseorang tergoda untuk membeli barang yang sebenarnya tidak ada dalam daftar belanja. Mulai dari pakaian, perlengkapan rumah tangga, hingga aksesori kecil, semuanya terasa sayang dilewatkan ketika harganya sedang turun. Padahal, jika dipikirkan kembali, barang tersebut belum tentu diperlukan atau bahkan digunakan setelah dibeli.

Kebiasaan membeli barang diskon meski tidak membutuhkannya dapat berkaitan dengan cara seseorang mengambil keputusan, mengelola emosi, dan memandang uang. Harga murah memang bisa menjadi kesempatan untuk berhemat, tetapi diskon juga dapat mendorong pengeluaran yang tidak direncanakan. Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari kebiasaan ini, termasuk pola pikir dan perilaku saat berbelanja.

10 Ciri Orang yang Tetap Membeli Barang Diskon Meski Tidak Membutuhkannya

Setiap orang memiliki alasan berbeda ketika membeli barang dengan harga promo. Namun, jika pembelian terus berulang tanpa mempertimbangkan kebutuhan, ada beberapa pola perilaku yang patut diperhatikan.

1. Mudah Tergoda dengan Label Diskon Besar

Orang yang gemar membeli barang diskon cenderung memberikan perhatian lebih pada besarnya potongan harga daripada kegunaan barang itu sendiri. Tulisan diskon 50 persen atau 70 persen dapat langsung memunculkan anggapan bahwa produk tersebut terlalu murah untuk dilewatkan.

Akibatnya, keputusan membeli lebih banyak didasarkan pada kesempatan mendapatkan harga rendah daripada kebutuhan yang sebenarnya. Barang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dibeli mendadak terasa menarik setelah melihat label promo.

Kebiasaan ini bisa membuat seseorang merasa telah menghemat uang, meskipun sebenarnya ia mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak diperlukan. Potongan harga baru benar-benar menguntungkan jika barang tersebut memang dibutuhkan dan harganya sesuai dengan anggaran.

2. Sering Melakukan Pembelian Impulsif

Pembelian impulsif terjadi ketika seseorang membeli barang secara spontan tanpa perencanaan yang matang. Keputusan tersebut biasanya muncul karena dorongan sesaat, bukan karena sudah mempertimbangkan fungsi, anggaran, dan manfaat barang dalam jangka panjang.

Promo dapat memperkuat dorongan tersebut, terutama ketika seseorang merasa harus segera membeli sebelum kesempatan berakhir. Ia mungkin langsung memasukkan barang ke keranjang belanja tanpa memeriksa apakah produk serupa sudah tersedia di rumah.

Jika pola ini terus berulang, pengeluaran bulanan bisa membengkak tanpa disadari. Karena itu, membiasakan diri berhenti sejenak sebelum melakukan pembayaran dapat membantu seseorang menilai apakah pembelian tersebut benar-benar diperlukan.

3. Takut Kehilangan Kesempatan Mendapatkan Harga Murah

Sebagian orang merasa khawatir akan menyesal jika melewatkan diskon yang dianggap menguntungkan. Pikiran seperti "kapan lagi mendapatkan harga semurah ini?" dapat mendorong keputusan membeli meskipun barang tersebut belum dibutuhkan.

Perasaan ini berkaitan dengan fear of missing out (FOMO), yaitu kekhawatiran tertinggal dari suatu kesempatan atau pengalaman. Dalam konteks belanja, pemicunya bisa berupa promo dengan batas waktu, stok terbatas, atau pemberitahuan bahwa harga akan segera kembali normal.

Ketika perhatian terpusat pada kesempatan yang mungkin hilang, pertimbangan mengenai kebutuhan dan kemampuan finansial bisa tersisihkan. Padahal, tidak membeli barang yang tidak diperlukan bukan berarti kehilangan keuntungan. Uang yang tidak jadi dikeluarkan justru tetap bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

4. Merasa Senang Saat Mendapatkan Harga Lebih Murah

Mendapatkan barang dengan harga di bawah harga normal dapat memberikan kepuasan tersendiri. Seseorang mungkin merasa berhasil menemukan penawaran bagus atau menjadi pembeli yang cermat karena membayar lebih sedikit daripada perkiraan awal.

Perasaan senang tersebut dapat menjadi salah satu alasan seseorang terus mencari promo. Bahkan, aktivitas berburu diskon bisa terasa menyenangkan meskipun barang yang dibeli tidak memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah muncul ketika kepuasan lebih banyak berasal dari proses mendapatkan harga murah daripada manfaat barang setelah dibeli. Dalam kondisi ini, seseorang perlu membedakan antara menikmati pengalaman berbelanja dan benar-benar membutuhkan produk yang ditawarkan.

5. Menjadikan Belanja sebagai Pelarian dari Stres

Ada orang yang berbelanja ketika merasa bosan, sedih, kesepian, atau tertekan. Membeli barang baru dapat memberikan perasaan menyenangkan untuk sementara waktu sehingga aktivitas tersebut digunakan sebagai cara menghadapi emosi yang tidak nyaman.

Diskon membuat perilaku ini semakin mudah dilakukan karena pembelian terasa lebih masuk akal. Seseorang mungkin berpikir bahwa membeli barang murah bukan masalah besar, meskipun ia sudah beberapa kali melakukan pembelian serupa dalam waktu berdekatan.

Belanja untuk memperbaiki suasana hati tidak otomatis menunjukkan adanya masalah psikologis. Namun, jika aktivitas tersebut menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi stres atau menimbulkan masalah keuangan, ada baiknya mencari alternatif seperti berjalan kaki, berbicara dengan orang tepercaya, atau melakukan hobi yang tidak membutuhkan banyak biaya.

6. Sulit Menolak Promo dengan Batas Waktu

Kalimat seperti "hanya hari ini", "flash sale", atau "promo berakhir dalam satu jam" dapat menciptakan kesan bahwa keputusan harus dibuat secepat mungkin. Orang yang mudah terpengaruh oleh situasi ini cenderung merasa tidak memiliki cukup waktu untuk mempertimbangkan pembelian.

Tekanan waktu dapat mengurangi kesempatan untuk membandingkan harga, membaca ulasan, dan mengevaluasi kebutuhan. Akibatnya, barang dibeli hanya karena takut kehilangan promo, bukan karena sudah melalui pertimbangan yang rasional.

Salah satu cara mengatasinya adalah membuat aturan bahwa barang di luar daftar belanja tidak boleh langsung dibeli. Beri jeda setidaknya 24 jam untuk menilai kembali keputusan tersebut. Jika setelah jeda barang masih dibutuhkan dan sesuai anggaran, pembelian dapat dipertimbangkan dengan lebih tenang.

7. Sering Membeli Barang yang Sudah Dimiliki

Ciri lainnya adalah membeli produk yang sebenarnya sudah tersedia di rumah. Contohnya, seseorang memiliki beberapa pasang sepatu yang masih layak pakai, tetapi tetap membeli sepatu baru karena menemukan potongan harga menarik.

Hal serupa dapat terjadi pada pakaian, alat masak, produk perawatan tubuh, hingga perlengkapan elektronik. Harga promo membuat barang tambahan terasa layak dibeli, meskipun fungsinya sama dengan barang yang sudah dimiliki.

Jika kebiasaan ini terus berlangsung, barang dapat menumpuk dan sebagian akhirnya tidak pernah digunakan. Memeriksa persediaan sebelum berbelanja dan membuat daftar barang yang benar-benar dibutuhkan dapat membantu mengurangi pembelian berulang.

8. Menganggap Semua Diskon sebagai Bentuk Penghematan

Orang yang gemar berburu promo terkadang hanya menghitung selisih antara harga normal dan harga diskon. Misalnya, barang yang semula berharga Rp200.000 dijual dengan harga Rp100.000 dianggap menghasilkan penghematan Rp100.000.

Padahal, jika barang tersebut tidak dibutuhkan, uang Rp100.000 tetap merupakan pengeluaran tambahan. Penghematan baru dapat dirasakan ketika seseorang membeli produk yang memang akan dibeli dengan harga lebih rendah tanpa mengorbankan kebutuhan penting lainnya.

Cara berpikir ini juga dapat membuat seseorang mengabaikan total belanja. Beberapa barang dengan harga diskon kecil mungkin tampak tidak mahal jika dilihat satu per satu, tetapi jumlah akhirnya bisa cukup besar ketika digabungkan.

9. Jarang Membuat Anggaran Belanja

Tanpa anggaran yang jelas, seseorang lebih mudah menganggap setiap promo sebagai kesempatan yang layak dimanfaatkan. Ia mungkin merasa masih memiliki cukup uang untuk membeli barang tambahan, padahal dana tersebut sebenarnya dialokasikan untuk kebutuhan pokok, tagihan, atau tabungan.

Ketiadaan batas pengeluaran juga membuat evaluasi belanja menjadi lebih sulit. Seseorang bisa mengetahui bahwa dirinya sering membeli barang diskon, tetapi tidak menyadari berapa banyak uang yang telah dikeluarkan dalam sebulan.

Membuat anggaran belanja membantu menetapkan batas yang lebih realistis. Sisihkan dana untuk kebutuhan utama terlebih dahulu, kemudian tentukan anggaran khusus untuk keinginan. Jika dana belanja keinginan sudah habis, diskon yang muncul berikutnya tidak harus diikuti.

10. Menyesal Setelah Selesai Berbelanja

Rasa senang saat menemukan promo terkadang berubah menjadi penyesalan setelah transaksi selesai. Seseorang mulai mempertanyakan alasan membeli barang tersebut, terutama ketika menyadari bahwa produk itu tidak terlalu berguna atau membuat pengeluaran melebihi rencana.

Penyesalan bisa muncul setelah melihat tagihan kartu kredit, memeriksa saldo rekening, atau menemukan barang yang dibeli masih tersimpan tanpa pernah digunakan. Namun, perasaan menyesal saja belum tentu cukup untuk menghentikan kebiasaan tersebut jika pemicu pembelian tidak dikenali.

Mencatat setiap pembelian yang tidak direncanakan dapat membantu menemukan pola. Misalnya, apakah pembelian paling sering terjadi ketika sedang stres, menjelang akhir promo, atau saat membuka aplikasi belanja sebelum tidur. Setelah mengetahui pemicunya, seseorang dapat membuat strategi yang lebih sesuai untuk mengendalikan pengeluaran.

Mengapa Orang Bisa Terus Membeli Barang Diskon Meski Tidak Membutuhkannya?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan kebiasaan tersebut. Salah satunya adalah cara promosi memengaruhi persepsi terhadap harga dan kesempatan membeli.

Ketika melihat potongan harga, seseorang dapat lebih fokus pada keuntungan yang seolah-olah diperoleh daripada uang yang benar-benar harus dikeluarkan. Penawaran dengan batas waktu juga dapat menimbulkan tekanan untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Selain itu, pengalaman berbelanja yang menyenangkan bisa mendorong seseorang mengulangi perilaku serupa. Jika pembelian sering dilakukan untuk mengatasi kebosanan atau memperbaiki suasana hati, kebiasaan tersebut dapat semakin sulit dikendalikan tanpa alternatif yang lebih sehat.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kebiasaan mengelola keuangan. Orang yang tidak memiliki anggaran, jarang mengevaluasi pengeluaran, atau mudah tergoda oleh promosi berpotensi lebih sering membeli barang yang tidak diperlukan. Meski demikian, tidak semua orang yang menyukai diskon memiliki masalah dalam mengendalikan belanja. Frekuensi, dampak, dan kemampuan mengatur pengeluaran perlu dilihat secara menyeluruh.

Cara Menghindari Kebiasaan Membeli Barang Diskon yang Tidak Dibutuhkan

Jika sering tergoda oleh promo, ada beberapa langkah praktis yang dapat membantu mengendalikan kebiasaan belanja tanpa harus menghindari semua diskon.

  1. Buat daftar belanja sebelum mencari promo. Tentukan barang yang memang diperlukan dan gunakan daftar tersebut sebagai acuan ketika berbelanja di toko maupun marketplace.
  2. Terapkan jeda sebelum membeli. Untuk barang yang tidak mendesak, tunggu 24 jam atau lebih sebelum melakukan transaksi. Jeda ini memberi waktu untuk menilai apakah keinginan membeli masih bertahan.
  3. Hitung pengeluaran sebenarnya. Jangan hanya melihat besarnya potongan harga. Pertimbangkan harga akhir, biaya tambahan, dan apakah pembelian tersebut sesuai dengan anggaran.
  4. Tetapkan batas belanja untuk keinginan. Setelah kebutuhan pokok dan kewajiban keuangan terpenuhi, tentukan jumlah uang yang boleh digunakan untuk barang nonprioritas.
  5. Kurangi paparan promosi yang memicu belanja. Matikan notifikasi flash sale, berhenti mengikuti akun promosi yang sering menggoda, atau hindari membuka aplikasi belanja tanpa tujuan yang jelas.
  6. Periksa barang yang sudah dimiliki. Sebelum membeli pakaian, perlengkapan rumah tangga, atau produk perawatan, lihat persediaan di rumah agar tidak membeli barang serupa berulang kali.
  7. Evaluasi pembelian setiap bulan. Catat barang yang dibeli karena diskon tetapi akhirnya jarang digunakan. Hasil evaluasi dapat menjadi pengingat untuk mengambil keputusan lebih baik pada kesempatan berikutnya.

Jika kebiasaan belanja mulai menyebabkan utang, mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok, atau menimbulkan konflik berkepanjangan, pertimbangkan untuk meminta bantuan konselor keuangan atau tenaga profesional kesehatan mental sesuai masalah yang dihadapi.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Membeli Barang Diskon Meski Tidak Membutuhkannya

1. Apa istilah untuk orang yang suka membeli barang diskon meski tidak membutuhkannya?

Tidak ada satu istilah khusus yang berlaku untuk semua orang. Perilaku tersebut dapat disebut pembelian impulsif jika dilakukan secara spontan tanpa pertimbangan yang matang.

2. Apakah suka membeli barang diskon termasuk perilaku konsumtif?

Bisa, terutama jika seseorang terus membeli barang yang tidak dibutuhkan, sulit mengendalikan pengeluaran, dan mengutamakan keinginan daripada kebutuhan.

3. Mengapa diskon membuat seseorang sulit menahan keinginan belanja?

Diskon dapat membuat barang terasa lebih menguntungkan, sementara promo berbatas waktu menimbulkan tekanan untuk segera membeli. Kombinasi keduanya dapat mendorong keputusan yang kurang dipertimbangkan.

4. Bagaimana cara berhenti membeli barang yang tidak dibutuhkan saat diskon?

Mulailah dengan membuat daftar belanja, menetapkan anggaran, mematikan notifikasi promosi, dan memberikan jeda sebelum membeli barang yang tidak mendesak.

5. Apakah membeli barang diskon selalu merugikan?

Tidak. Diskon dapat membantu menghemat uang jika barang memang dibutuhkan, kualitasnya sesuai, dan pembeliannya tidak mengganggu anggaran untuk kebutuhan lain.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading