Sukses

Parenting

Parentel Burnout Tantangan Terbesar Para Ibu Sepanjang 2020, Begini Cara Mengatasinya

ringkasan

  • Beban ibu memang riskan terkena stres dan risiko tertingginya adalah parental burnout hingga depresi
  • Burnout memiliki ciri-ciri rasa lelah yang luar biasa, lelah secara mental.

Fimela.com, Jakarta Kondisi pandemi yang terjadi di tahun ini memberikan beban yang besar kepada para ibu, seperti yang disampaikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Peran yang berlipat ganda termasuk menjadi pengajar di rumah untuk anaknya, mengurus kebutuhan rumah, serta ditambah menjadi ibu pekerja.

Putu Andani, M.Psi., Psikolog, TigaGenerasi mengatakan beban tersebut membuat ibu memang riskan terkena stres dan risiko tertingginya adalah parental burnout hingga depresi, yang bisa memberikan dampak buruk juga untuk anak dan keluarga.

Lalu apa perbedaan stres dan parental burnout? Putu mengatakan stres, burnout, depresi memiliki tingkatan masalah yang berbeda.

"Jadi stres itu tingkat pertama, burn out tingkat kedua, dan depresi yang paling akhir. Burn out ini ditengah-tengah antara stres dan depresi, titik ini lumayan kritis namun masih bisa meregulasinya yang menjadikan ibu lebih kuat," ujar Putu dalam diskusi bersama Babe menyambut Hari Ibu.

Putu menyampaikan, burnout memiliki ciri-ciri rasa lelah yang luar biasa, lelah secara mental. Hal ini akan berdampak dengan apa yang dikerjakan menjadi berjarak. Jika di dalam dunia parenting, ibu akan menggap anak adalah pekerjaan saja, alhasil tidak ada kedekatan secara emosional.

"Sebenarnya kita ingin istirahat tapi tidak bisa, akhirnya kita hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari anak saja bukan kebutuhan emosional. Jadi di manapun kita bergerak baik di kerjaan atau parenting selalu kita butuh sense of achivement apapun itu baik perempuan ataupun laki-laki. Tapi kalau burnout ini akhirnya sense of achivement-nya itu hilang dan inilah yang disebut dengan parental burnout," tuturnya.

Sedangkan stres, rasa lelah cenderung lebih singkat.

Mengatasi burnout

Jika ibu sudah mengalami burnout di depan anak, tentu akan muncul guality feeling. Menurut Putu hal tersebut wajar, untuk itu ibu bisa meminta maaf kepada anak dan diri sendiri.

"Kita sampaikan dan jelaskan kenapa marah-marah. Jelaskan saja seperti apa yang kita rasakan, apalagi kalau anaknya sudah besar dia akan paham kondisi lelah seperti apa. Serta memaafkan diri sendir, jangan lupa untuk berbicara sama diri sendiri dan minta maaf dan memaafkan diri sendiri," ungkapnya.

Selain itu, jika burnout ini terjadi, wajib take a break, karena tubuh dan pikiran sudah tidak sinkron. Badan sudah lelah namun pikiran terus bekerja.

"Jadi take a break, cerita sama temen, suami, sama siapapun yang bisa kasih dampak positif ke diri kita. Selaniutnya regulated dengan aktivitas yang kita sukai akan kita lebih tenang," ungkap Putu.

Dan yang terpenting, Putu mengingatkan untuk selalu berfikiran positif. Misalnya saja jika mengalami kegagalan jangan langsung menyerah. Dan yang terakhir evaluasi.

"Jadi ada afirmasi-afirmasi positif yang diberikan pada diri kita setelah itu evaluasi. Evaluasinya apa? Kan udah tenang, udah break, udah cerita, Evaluasinya adalah jadi rutinitasnya harus seperti apa sih, apa ada standart yang harus diturunkan, supaya enggak terus-terusan ada di survival mood," tutup Putu.

#changemaker

;
Loading