Fimela.com, Jakarta - Pernikahan yang ideal seringkali digambarkan sebagai perjalanan mulus penuh kebahagiaan abadi, namun realitanya tak selalu seindah bayangan. Tak jarang, banyak pasangan merasa terjebak dalam hubungan yang tidak memuaskan selama bertahun-tahun, tanpa menyadari bahwa mereka terperangkap oleh serangkaian kebohongan yang tak termaafkan. Ekspektasi yang keliru ini, yang seringkali dipupuk oleh narasi romantis di media, iklan, hingga dongeng, secara perlahan dapat mengikis fondasi hubungan dan menghalangi kebahagiaan sejati.
Carol Freund, seorang konselor dan psikoterapis, menyoroti pentingnya mengidentifikasi dan menyingkirkan ilusi-ilusi ini demi membangun pernikahan yang lebih sehat dan realistis. Menurutnya, salah satu kebohongan fundamental yang membuat banyak orang menderita dalam pernikahan adalah anggapan bahwa pernikahan itu mudah. Kebohongan tak termaafkan pertama yang membuat orang sengsara dalam pernikahan mereka? Bahwa pernikahan itu mudah,
kata Carol Freund.
Ia melanjutkan bahwa meskipun upaya dalam pernikahan bisa sangat berharga, seperti yang selalu diketahui para putri dan pangeran dongeng, namun jauh dari kata mudah. Pernikahan adalah, pada kenyataannya, sebuah pekerjaan — pekerjaan yang layak, tentu saja, tetapi tetaplah pekerjaan. Dan salah satu hal pertama dalam daftar tugas pernikahan adalah menghapus kebohongan ini dari deskripsi pekerjaan,
imbuhnya. Pemahaman ini menjadi kunci untuk membongkar tiga kebohongan lain yang seringkali menjebak individu dalam lingkaran ketidakbahagiaan.
Advertisement
Advertisement
Mitos Pasangan Sempurna: Ekspektasi yang Menyesatkan
![[Bintang] Memang Tak Melulu Berakhir di Pernikahan, tapi Ini Tips Langgeng Meskipun Sudah Pacaran Lama](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/Dzj72SrGy2u9I-ccbFPuU7DWJlQ=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2340463/original/053490400_1535177706-adult-blur-bonnet-246367.jpg)
Salah satu ilusi paling umum yang meresap dalam benak banyak orang adalah keyakinan bahwa pasangan hidup akan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan pemenuhan diri. Narasi ini, yang seringkali diperkuat oleh berbagai media, menciptakan gambaran yang tidak realistis tentang peran seorang belahan jiwa dalam hubungan.
Kebohongan pertama yang menyesatkan adalah anggapan bahwa pasangan Anda akan secara otomatis memenuhi setiap aspek diri Anda. Ide ini kerap dipromosikan melalui iklan yang mengedepankan romansa ideal, film-film yang menampilkan kisah cinta sempurna, dan cerita-cerita palsu yang menggambarkan pasangan sebagai belahan jiwa
yang akan melengkapi segala kekurangan.
Persepsi ini juga mencakup pemikiran bahwa pasangan Anda hadir untuk membuat Anda selalu bahagia, selalu menghibur saat sedih, dan menyembuhkan ketika terluka. Ekspektasi semacam ini menempatkan beban yang tidak realistis pada pundak pasangan, seolah-olah mereka memiliki tanggung jawab penuh atas kesejahteraan emosional Anda.
Padahal, kenyataannya, setiap individu memiliki tanggung jawab utama atas kebahagiaan dan kesejahteraan emosionalnya sendiri. Pasangan seharusnya menjadi pelengkap dan bonus yang memperkaya hidup, bukan pengganti dari upaya merawat diri sendiri. Semakin seseorang merasa tidak terpenuhi atau terluka, semakin besar kemungkinan mereka akan terperangkap dalam kebohongan ini, yang pada akhirnya dapat merusak ikatan pernikahan.
Tanggung Jawab Bahagia: Bukan Beban Pasangan Semata
Melanjutkan dari mitos pertama, kebohongan kedua yang tak kalah merusak adalah keyakinan bahwa tugas utama pasangan dalam sebuah pernikahan adalah untuk menjaga kebahagiaan Anda. Pemahaman ini seringkali menggeser fokus dari tanggung jawab pribadi menuju ekspektasi yang tidak adil terhadap pasangan.
Anggapan bahwa tugas pasangan adalah membuat Anda bahagia merupakan kebohongan kedua yang dapat merusak fondasi pernikahan. Anda sendirilah yang bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan pribadi Anda, bukan orang lain.
Pernikahan yang paling kuat dan langgeng justru dibangun oleh dua individu yang benar-benar memahami diri mereka sendiri dan juga pasangan mereka. Kisah-kisah dongeng, yang seringkali menjadi sumber ekspektasi romantis, sebenarnya menunjukkan bahwa kebahagiaan sang putri baru datang setelah ia melewati berbagai kekejaman, kepalsuan, dan kerja keras. Begitu pula sang pangeran, yang juga harus berjuang mengatasi berbagai rintangan.
Analogi yang sering digunakan adalah instruksi keselamatan di pesawat terbang, di mana penumpang diminta untuk mengenakan masker oksigen sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Jika seseorang tidak mampu membuat dirinya bahagia atau mencintai dirinya sendiri, akan sulit baginya untuk memberikan kebahagiaan dan cinta tersebut kepada orang yang dicintainya dalam pernikahan.
Advertisement
Realita Cinta: Evolusi dari Gairah ke Ikatan Abadi
Kebohongan ketiga yang seringkali menjebak pasangan dalam pernikahan yang tidak bahagia adalah keyakinan bahwa cinta harus selalu sempurna dan sensasi jatuh cinta
yang intens akan bertahan selamanya. Pemahaman yang keliru ini dapat menyebabkan kekecewaan ketika fase awal hubungan mulai mereda.
Banyak yang percaya bahwa cinta itu sempurna, dan mereka akan selalu merasakan sensasi jatuh cinta
yang membara seperti di awal hubungan. Padahal, fase bulan madu yang penuh gairah dan kegembiraan, meskipun intens, memang tidak akan berlangsung selamanya.
Cinta sejati memiliki sifat yang dinamis dan akan berubah seiring waktu. Ia bergerak dari gairah yang membara dan intens menuju ikatan yang lebih mendalam dan langgeng. Perubahan ini adalah bagian alami dari evolusi sebuah hubungan jangka panjang, bukan tanda bahwa cinta telah memudar.
Masalah sehari-hari, perbedaan pendapat, dan kesalahpahaman adalah hal yang normal dalam setiap hubungan. Kehadiran tantangan-tantangan ini tidak berarti bahwa cinta telah berakhir, melainkan menunjukkan bahwa hubungan telah mencapai tahap yang lebih nyata dan matang. Cara pasangan melewati momen-momen ketika perasaan gairah awal mulai mereda justru akan membuktikan nilai dan kekuatan sejati dari ikatan mereka.
Dengan mengenali dan menolak kebohongan-kebohongan yang tidak termaafkan ini, pasangan dapat mulai membangun fondasi yang lebih kokoh dan realistis untuk pernikahan mereka. Pemahaman yang lebih jernih tentang dinamika hubungan akan memungkinkan mereka untuk keluar dari lingkaran ketidakbahagiaan dan melangkah menuju ikatan yang lebih memuaskan dan penuh makna.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219540/original/057059500_1747218346-815ac8f1-a909-4dce-a685-edf68b855f29.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2393017/original/075216000_1540531566-laura-marques-729273-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4570833/original/042949300_1694414623-Ilustrasi_pasangan_bertengkar__cuek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299639/original/015212000_1605681712-pexels-photo-4098218.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4748009/original/056375600_1708424686-happy-romantic-couple-love-lake-outdoor__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4564958/original/074022100_1693969323-Ilustrasi_perceraian.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6924748/original/062801600_1779695089-pexels-gustavo-fring-4173218.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8666759/original/012774400_1782700347-SnapInsta.to_731462219_18602610151004502_6886542019264665847_n.jpg)
![Dengan bahan sederhana yang mudah ditemukan di rumah, Moms sudah bisa menciptakan sensory play yang aman dan menyenangkan. [Dok/Pexels.com/Vlada Karpovich].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/75tfcMCGPJG7btd1v79-6H_MGK4=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5561830/original/078643800_1776761904-pexels-vlada-karpovich-7356477.jpg)
![Strategi tenang menghadapi anak overstimulation saat liburan. [Dok/Pexels.com/Keira Burton].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/khhpOzry6hovBrhJF5Kh8hLZqvc=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6381187/original/041152100_1779256311-pexels-keira-burton-6624319.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8532875/original/047356800_1782466357-Sheraton_Gandaria_City_-_Family_at_Pool_Lifestyle.jpg)
![Cara simpel bikin liburan anak lebih bermakna dan ramah kantong. [Dok/Pexels.com/RDNE Stock project].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/Nut_lnI-XynLusvkQN1mYd3Hmxg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8403493/original/004000500_1782285786-pexels-rdne-8297502.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6928406/original/044133000_1779698635-young-activists-preparing-action.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7182652/original/057884000_1779978567-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6600729/original/030087400_1779437366-pexels-nikki-awal-796695619-28936956.jpg)
![Di bawah arahan Chitra Subyakto sebagai pendiri dan direktur kreatif, SMM kembali menghadirkan fashion dengan pesan mendalam, refleksi dan harapan bagi laut yang semakin rusak akibat ulah manusia. [Dok/Sejauh Mata Memandang].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/qm3AsIT9jMzAbEVV7WwJEadcnIQ=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5397669/original/050679400_1761813317-Sejauh_Mata_Memandang_-_Larung__JFW_2026__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2357457/original/017563300_1536763934-style_theory_warehouse.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8454689/original/007647400_1782352509-000_B83H84H.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4749620/original/057399200_1708568215-kelly-sikkema-tQPgM1k6EbQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562751/original/057296700_1776839172-tirachardz_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483845/original/005563100_1769404810-gardening-concept-with-mother-daughter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535830/original/088074200_1774151867-mother-girl-playing-game-medium-shot.jpg)
![Banyak orangtua merasa lebih percaya diri membahas topik seperti perubahan tubuh dan pubertas, namun masih ragu ketika harus masuk ke pembahasan yang lebih sensitif seperti hubungan, batasan, atau kesehatan seksual. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/zixPvxKOtmCO6WFptp7rthEzJ38=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560366/original/022639800_1776666636-2148974416.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344198/original/007832400_1757480604-david-vilches-Uyzl5vIopCQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5538681/original/025140800_1774573609-TransJakarta_Bandara.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782348/original/077337300_1782883745-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_12.00.28.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782225/original/068090300_1782880235-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_10.18.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776218/original/071834200_1782868688-prabowo_polisi3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776324/original/068771100_1782874676-2ac5bfe4-aece-4cf0-b209-82f273d70cf6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776269/original/058327500_1782872842-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_08.39.51.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4813957/original/010805300_1714122420-11.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219540/original/057059500_1747218346-815ac8f1-a909-4dce-a685-edf68b855f29.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2805014/original/084451400_1557817806-analise-benevides-1330442-unsplash.jpg)
![Sebagai langkah awal, Coach menggandeng sederet nama yang memiliki pengaruh besar di kalangan Gen Z dari berbagai bidang, mulai dari musik, olahraga, film, hingga aktivisme. [Dok/Coach].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/S-SJPxvF_vkV7sSLk7xKs4jXhY0=/80x80/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782349/original/050342400_1782883792-_Coach_Charli_xcx_4x5.jpg)