Sukses

Relationship

Mengenal Hoovering, Ketika Mantan Kembali untuk Mengambil Kendali

Fimela.com, Jakarta - Hubungan yang telah berakhir tidak selalu membuat komunikasi antara dua orang benar-benar berhenti. Dalam beberapa situasi, mantan kembali menghubungi dengan berbagai alasan, mulai dari menanyakan kabar hingga mengajak membicarakan hubungan yang telah selesai. Jika dilakukan berulang dengan tujuan menarik seseorang kembali, perilaku tersebut dapat dikenal sebagai hoovering.

Dilansir dari Psychology Today, hoovering merupakan upaya untuk menarik seseorang kembali ke dalam hubungan setelah sebelumnya terjadi jarak atau perpisahan. Bentuknya dapat berupa pesan tiba-tiba, permintaan maaf, janji untuk berubah, atau usaha membangkitkan kembali kenangan bersama.

Sementara itu, Dilansir dari Verywell Mind menjelaskan bahwa perilaku seperti ini dapat menjadi bagian dari pola hubungan yang manipulatif, terutama ketika seseorang menggunakan perhatian, rasa bersalah, atau emosi tertentu untuk mendapatkan kembali respons dari mantan pasangan. Dalam kondisi tersebut, mantan kembali bukan hanya soal keinginan untuk berkomunikasi, tetapi dapat berkaitan dengan upaya memengaruhi dinamika hubungan.

Meski begitu, tidak setiap mantan yang kembali menghubungi otomatis melakukan hoovering. Konteks, pola komunikasi, serta tujuan di balik perilaku tersebut perlu diperhatikan. Memahami istilah ini dapat membantu seseorang melihat situasi secara lebih jernih sebelum menentukan respons.

Kenali Tanda Hoovering yang Bisa Muncul dari Mantan

Hoovering dapat muncul dalam berbagai bentuk dan terkadang sulit dikenali karena perilakunya bisa terlihat seperti perhatian atau keinginan untuk memperbaiki hubungan. Padahal, pola tersebut dapat membuat seseorang kembali terlibat secara emosional dengan mantan.

Beberapa bentuk hoovering yang umum antara lain:

  1. Menghubungi secara tiba-tiba, terutama setelah lama tidak berkomunikasi.
  2. Mengungkit kenangan manis untuk membangkitkan kembali perasaan.
  3. Meminta maaf dan berjanji berubah, meski sebelumnya melakukan pola kesalahan yang sama.
  4. Membuat merasa bersalah karena memilih menjauh atau tidak memberikan respons.
  5. Memberikan perhatian berlebihan, seperti terus mengirim pesan atau mencari berbagai alasan untuk berkomunikasi.

Dilansir dari Psychology Today, hoovering dapat melibatkan berbagai cara untuk mendapatkan kembali perhatian atau keterlibatan seseorang, termasuk permintaan maaf dan janji perubahan. Sementara itu, Dilansir dari Choosing Therapy menjelaskan bahwa pola tersebut dapat menjadi bagian dari dinamika hubungan yang tidak sehat ketika seseorang berusaha memengaruhi atau mendapatkan kembali kendali atas mantan pasangan. Karena itu, penting melihat pola perilaku secara keseluruhan, bukan hanya satu tindakan secara terpisah.

Cara Menghadapi Hoovering Tanpa Kembali Terjebak

Menghadapi hoovering tidak selalu berarti harus memberikan penjelasan panjang kepada mantan. Ketika komunikasi mulai terasa mengganggu atau membuat kembali mempertanyakan keputusan setelah hubungan berakhir, menetapkan batasan dapat menjadi langkah penting. Respons yang diberikan juga sebaiknya disesuaikan dengan situasi dan tingkat kenyamanan masing-masing.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menetapkan batas komunikasi, termasuk menentukan apakah masih ingin berkomunikasi dengan mantan.
  2. Menghindari respons emosional, terutama ketika pesan berisi permintaan maaf, janji, atau ungkapan cinta.
  3. Mengingat kembali alasan hubungan berakhir agar tidak hanya berfokus pada kenangan positif.
  4. Memberi tahu orang terdekat apabila mantan mulai menghubungi melalui teman atau keluarga.
  5. Mencari bantuan profesional jika situasi terasa sulit dikendalikan atau mulai mengarah pada ancaman.

Dilansir dari Cleveland Clinic, seseorang yang menghadapi hoovering dapat mempertimbangkan untuk menghentikan komunikasi, memberikan respons netral, serta memberi tahu orang terdekat mengenai situasi tersebut. Jika perilaku berkembang menjadi ancaman atau penguntitan, bantuan profesional maupun hukum dapat dipertimbangkan. 

Menjaga jarak bukan berarti bersikap kejam. Batasan dapat membantu seseorang mempertahankan keputusan dan memberikan ruang untuk melanjutkan hidup setelah hubungan berakhir.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading