Pengalaman Pahit Jadi Modal Hanung Bramantyo Garap Film Kartini

Rivan Yuristiawan diperbarui 13 Mar 2017, 03:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Sutradara kenamaan, Hanung Bramantyo mengungkapkan alasan kenapa dirinya berkeinginan membuat sebuah film biopik tentang sosok pahlawan emansipasi wanita, R.A. Kartini. Bisa dibilang, apa yang diungkap Hanung soal alasannya mau mengupas penggalan hidup Kartini ke dalam sebuah film cukup terbilang unik.

Hanung mengatakan, hal tersebut berkaitan dengan pengalaman pahitnya semasa kecil saat masih tinggal di Jogjakarta. Kala itu, semasa sekolah suami Zaskia Adya Mecca tersebut hampir setiap tahun terlibat dalam sebuah parade kostum saat peringatan hari Kartini.

"Kenapa Kartini? Karena tiap tahun saya memperingati hari Kartini dengan menggunakan baju daerah. Waktu itu tiap kali waktu kecil ada fashion show pakai baju daerah dan saya selalu terpilih mewakili kelas. Saat itu saya terpeleset dan jatuh, itu diketawain. Kejadian itu selalu membekas sampai setiap hari Kartini itu saya takut," ungkap Hanung Bramantyo saat berbincang di SCTV Tower, beberapa waktu lalu.

Berkaca dari pengalaman buruknya semasa kecil itu, Hanung lantas mulai mencari tahu mengenai keistimewaan sosok Kartini yang hari lahirnya selalu diperingati oleh masyarakat Indonesia.

"Itu yang kemudian ada trigger buat saya mempelajari Kartini, saya seperti berontak dan akhirnya saya baca ternyata ada hal yg lebih penting dari sekedar parade, yaitu menulis, membaca, dan mengutarakan gagasan lewat tulisan," tambahnya.

Dan, saat mendapat tawaran untuk menggarap film biopik Kartini, Hanung pun merasa berkewajiban untuk mengedukasi masyarakat tentang sosok Kartini menurut sudut pandangnya sebagai sutradara. Hanung menilai, karakter kuat yang ditunjukkan Kartini sebagai seorang wanita tangguh melawan diskriminasi dengan kemampuan berkomunikasinya sangat menarik untuk diangkat.

"Kisah hidup Kartini tidak bisa semuanya saya tuangkan di sini (film). Ini sepenggal kisah yang menurut saya relevan terjadi sama kehidupan sekarang. Angle-nya saya fokus gimana dia (Kartini) jadi Raden Ayu yang berbeda dengan yang lain, dia membuat dirinya jadi pintar. Makanya salah satu yang dia lakukan saat dipingit akhirnya dia bisa membaca buku dan menulis, itu yang bisa jadi senjata dia ngomong ke semua orang," jelasnya.

"Makanya kekuatan Kartini adalah membangun jaringan. Itu angle yang saya kupas pada penonton sehingga saya berharap penonton bisa merasakan kenapa kita harus merayakan hari Kartini, karena kita merasa diingatkan bahwa sebagai perempuan yang hidup di era sekarang dimana sekat-sekat itu sudah tidak ada, harus selalu diingatkan Kartini membuat perempuan-perempuan seperti sekarang," tambah Hanung Bramantyo.

What's On Fimela