Eksklusif Saipul Jamil, Temukan Ketenangan di Dalam Penjara

Teddy Kurniawan diperbarui 10 Agu 2017, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Saipul Jamil tidak pernah menyangka, perjalanan kehidupannya harus melewati berbagai macam rintangan. Mulai dari perceraian, meninggalnya istri tercinta, terancam dipenjara hingga akhirnya benar-benar dibui. Lantas, bagaimana Saipul Jamil bisa kuat menghadapi drama kehidupannya yang penuh liku?

***

Takdir memang tidak bisa dilawan. Saipul Jamil menyadari, apa yang terjadi merupakan skenario Tuhan untuk menjadikan dirinya lebih baik lagi. Hal itu mulai disadarinya saat ini, ketika ia meringkuk di tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur. Ia menjadi terpidana untuk dua kasus, pencabulan dan penyuapan.

Putusan hakim Tipikor atas kasus penyuapan yang dituduhkan pada dirinya, menjadi pelengkap duka di kehidupan Saipul Jamil. Hukuman tiga tahun penjara, menambah panjang, hari-harinya berada di hotel prodeo. Sempat berpikir untuk bunuh diri, Saipul Jamil menyadari, Tuhan pasti punya maksud yang ia harus sadari.

Mantan suami Dewi Perssik itu, mulai bisa menerima apa kehendak Sang Maha Kuasa. Hatinya sudah mulai tenang, untuk menjalani masa hukuman yang ditimpakan padanya. Hari-hari Saipul Jamil di dalam tahanan, kini banyak diisi untuk mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta.

"Saya tidak bisa mengharap siapa-siapa, mengharap manusia pun tidak bisa. Harapannya satu-satunya adalah Allah. Kalau manusia pasti mengecewakan, mengharap ini itu, bener memang cuma pertolongan Allah cuma melalui manusia. Sekarang saya harus rajin beribadah, berdoa minta kemurahan Allah, kemudahan Allah. Saya yakin di dalam sebuah kesulitan pasti ada kemudahan, yang penting kita yakin," ujar Saipul Jamil saat ditemui di Lapas Cipinang, Jakarta Timur, Senin (7/8/2017).

Apa yang membuat Saipul Jamil begitu kuat menjalani kehidupannya yang terasa berat? Simak wawancara selengkapnya berikut ini.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Belajar sabar di dalam penjara

Saipul Jamil dan kesehariannya di dalam Lapas Cipinang, Jakarta Timur. (Foto: Bambang E Ros, DI: Muhammad Iqbal Nurfajri)

Siang itu terasa terik, namun tidak menyurutkan Saipul Jamil untuk beranjak ke masjid di kawasan Lapas Cipinang, Jakarta Timur. Ia hendak menjalankan salah zuhur. Usai salat, Saipul mulai melantunkan ayat suci Alquran. Hal itu yang dilakukan setiap hari untuk terus menguatkan hatinya.

Apa yang kamu rindukan saat ini?
Sebenarnya banyak sekali, kadang sampai nangis juga. Ya, saya sama dengan manusia lainnya, saya lemah. Rindu kebersamaan, rindu kumpul sama keluarga, rindu menghibur masyarakat, rindu makanan favorit, rindu jalan-jalan. Banyak yang saya rindukan di luar sana.

Apa yang kamu lakukan?
Ya saya harus bisa menahan dan bersabar. Insha Allah semua akan indah pada waktunya. Akan ada kebahagiaan yang saya temukan. Sehingga, saya bisa jauh bersyukur lagi atas apa yang telah Allah berikan.

Penampilan kamu baru ya sekarang?
Ya, ini adalah wajah baru saya sekarang, gundul. (Saipul Jamil melepaskan peci yang dikenakannya dan memamerkan kepala botaknya). Jadi memang kemarin saya punya nazar, setelah selesai masalah terakhir dengan KPK, saya mau gundulin rambut dan sekarang sudah gundul.

Memang kamu punya nazar apa kalau bebas?
Insha Allah, ada rezeki, saya mau langsung umrah. Saya mau berziarah ke makam almarhumah istri, makan kedua orangtua dan silaturahmi sama keluarga, teman. Kan, selama ini ada di Lapas, pengin melepas rindu dulu.

Bagaimana dengan pekerjaan?
Kalau masalah pekerjaan, itu urusah Allah. Saya mau dikasih kerjaan apa setelah ini, yang penting saya minta halal. Saya mau perbanyak hal-hal sosial mengingat usia semakin pendek. Ini mau 40 tahun. Sekarang 37 tahun, tiga tahun lagi 40 tahun. Jadi ingin dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik. Mudah-mudahan rezekinya ada.

Kamu sepertinya sudah dalam fase pasrah?
Saya tidak bisa mengharap siapa-siapa, mengharap manusia pun tidak bisa. Harapan satu-satunya adalah Allah. Kalau manusia pasti mengecewakan. Benar memang cuma pertolongan Allah yang diharapkan, mungkin melalui tangan manusia. Saya harus rajin beribadah, berdoa minta kemurahan dan kemudahan dari Allah. Saya yakin di dalam sebuah kesulitan pasti ada kemudahan, yang penting kita yakin.

Kamu merasa ini cobaan terberat?
Ternyata Allah itu menguji saya grafiknya semakin tinggi. Dahulu saya menyangka kematian almarhumah istri saya itu yang paling top, ternyata ini yang pailng top. Ya, seberat-beratnya ujian yang saya alami, memang saat berada di dalam penjara. Kalau masih di luar, masih bisa ke sana sini. Kalau di penjara, mau ke mana? Saya bersyukur di sini (penjara) masih bisa dikasih kesempatan untuk taubat, memperbaiki hidup.

3 dari 3 halaman

Rahasia kekuatan Saipul Jamil hadapi cobaan

Saipul Jamil bersama Ibu Triana Agustin, AMD.IP, SH, MH, Kepala Seksi Bimkemas Lapas Cipinang. (Foto: Bambang E Ros, DI: Muhammad Iqbal Nurfajri)

Saipul Jamil pernah mengakui, ingin bunuh diri saat berada di tahanan kepolisian. Hidupnya berubah drastis, 180 derajat. Namun ia akhirnya sadar, jalan yang terbaik adalah mendekatkan diri pada Tuhan.

Pernah depresi dan ingin bunuh diri?
Kalau saya tidak punya agama, tidak punya Allah, sudah kacau balau. Dulu saya memang pernah kehilangan arah, waktu pertama kali masuk penjara di Polsek, saat jadi tersangka. Langsung masuk ke dalam kerangkeng. Saya nangis di sana, bahkan mau bunuh diri. Waktu itu saya benar-benar bingung, nggak bisa tidur. Bantal hanya botol air mineral. Biasanya saya tidur di kasur empuk, bantal empuk.

Apa yang membuat kamu yakin akhirnya bisa melewati?
Allah tidak akan menguji hamba-NYA di luar kemampuan kita. Insha Allah dengan menjaga salat, Allah akan memberikan pertolongan-NYA. Entah melalui siapa, saya yakin itu. Minta doa dan support-nya ya.

Lantas, apa yang membuat kamu kuat menghadapi ini semua?
Saya melihat, banyak orang-orang yang jauh lebih susah dari saya. Jadi saya harus banyak lebih bersyukur. Sekali lagi, kita punya Allah. Dia akan selamatkan kita. Saya juga sudah mengikhlaskan mereka yang menzalimi kita. Ikhlas saja, Insha Allah akan banyak pahala buat kita.

Bagaimana kamu melewati momen Lebaran kemarin?
Saya terakhir menangis itu waktu malam takbiran. Mendengar takbir itu jadi inget rumah. Dengar takbir saya pasti sedih karena pada saat itulah orang-orang biasanya kumpul sama keluarga, tapi di sini saya sendiri dan abang saya pun juga sama mengalami hal yang sama.

Bagaimana kamu akan memperbaiki imej?
Imej itu memang perlu tapi sekali lagi bahwa yang namanya manusia itu tidak luput dari salah dan dosa dan dari dulu saya tidak pernah memikirkan tanggapan orang terhadap manusia lain, terhadap saya apakah baik atau buruk, mencibir ini dan itu tidak pernah ambil pusing. Sampai ada kejadian ini pun saya tidak pernah ambil pusing. Karena kalau saya terlalu memikirkan itu semua saya nanti tidak bisa maju. Justru dengan banyak omongan ini omongan itu, artinya saya banyak diperhatiin orang. Orang mau bilang saya ini dan itu, terserah dan hak mereka. Sekali lagi dari hal yang saya ambil, semakin banyak kita dijelekin orang itu sebagai ladang amal bagi kita.

Bagaimana kamu bergaul di lapas?
Jadi teman-teman saya di sini ada begal, pembunuh bayaran, pembunuh sadis dan banyak lagi. Saya meilhat bersosialiasasi dengan mereka hilang semua masa lalu mereka yang saya awalnya ketakutan, tidak sama sekali. Saya itu benar-benar memandang mereka seperti warga biasa yang Allah tutupi aib-aibnya. Alhamdulillah saya sama siapapun bersosialisasi.

Ada pesan yang ingin disampaikan?
Buat teman-teman di luar sana bahwa saya berpesan, untuk teman-teman harus waspada, hati-hati, jaga salat dan jangan pernah sombong. Suatu saat mungkin apa yang saya alami bisa juga Anda mengalami. Jagalah tali silaturahmi, kasih sayang dan jangan saling membenci.

Waktu salat Ashar telah tiba. Saipul Jamil pun bergegas mempersiapkan diri untuk mengucapkan takbir dan memuja nama Tuhan. Saat ini, pilihan terbaik baik Saipul Jamil adalah menjalankan sebaik-baiknya masa tahanan. Sabar ya Bang Ipul.