The Life of Dorothy Dandridge

Fimela Editor diperbarui 08 Mar 2011, 17:00 WIB

Dorothy Dandridge adalah wanita kulit hitam pertama yang masuk dalam nominasi Best Actress untuk Academy Award tahun 1954. Kemenangannya yang tertunda, diwujudkan oleh pencapaian Halle Berry sebagai Best Actress di Academy Award 1999 yang hingga kini masih tercatat sebagai aktris berkulit hitam pertama dan satu-satunya yang keluar sebagai pemenang.

Sesusah itukah untuk berprestasi di ranah Hollywood? Sedari awal Dandridge memang sudah tahu kalau keinginannya untuk menjadi artis terkenal mendekati batas tidak mungkin karena adanya jurang pemisah yang besar akan warna kulit. Namun, mimpi besarnya membutatulikan ketakutannya dan membuatnya terus maju.

Dari awal, tekadnya adalah ingin sukses di atas kakinya sendiri, sehingga setelah perceraian menyakitkannya dengan Harold Nicholas yang mengkhianatinya, night club act yang dimilikinya dipoles oleh Phil Moore, hingga kemampuan bernyanyinya yang provokatif membawanya ke tingkat popular. Ia dikirim bernyanyi di berbagai klub prestisius di seluruh California dan Las Vegas.

Berawal dari panggung menyanyi, karier Dorothy naik kelas ke jenjang layar lebar. Peran-peran kecil di film berbujet rendah seperti “Four Shall Die”, “Lady From Lousiana”, hingga “Sundown”, diambilnya demi memajukan langkah kariernya. Dorothy memang sangat ingin menjadi aktris film, namun ia menolak mentah-mentah untuk menerima peran sebagai pelayan yang merupakan peran stereotip untuk aktris berkulit hitam pada masa itu.

Titik terang karier Dorothy mulai terlihat saat “Bright Road”, film produksi MGM yang dibuat berdasarkan kisah Mary Elizabeth Vronam, diluncurkan pada April 1953 dan mendapat review bagus dari para kritikus. Nasib bagus kembali menghampirinya saat “Carmen Jones” yang keluar pada tahun 1954 mengantarkannya ke nominasi Academy Award dan menjadikannya perempuan berkulit hitam pertama dalam sejarah yang mendapat kehormatan untuk dinominasikan ke dalam kategori Aktris Terbaik.

Isu rasisme merupakan masalah yang selalu dihadapinya. Ia adalah penyanyi wanita berkulit hitam pertama yang tampil di Waldorf Astoria di New York, namun orang-orang masih menganggapnya sebagai “yang berbeda”, sehingga ia tidak diperbolehkan berjalan-jalan di hotel tempatnya menginap atau ikut menggunakan fasilitas kolam renang yang disediakan hotel. Semuanya karena alasan ia berkulit hitam yang notabene adalah kaum minoritas di zaman itu.

Gempuran isu rasisme sedikit banyak berpengaruh terhadap penurunan kariernya. Pernikahan keduanya dengan seorang pengusaha restoran berkulit putih, Jack Denison, lalu menambah penderitaannya. Sikap Denison yang abusif, gold digger, serta menjauhkan Dandridge dari teman-temannya, membawanya ke gerbang kemiskinan akibat sederet investasi yang gagal. Dorothy jatuh miskin dan mengais pundi-pundi uang dari tawaran menyanyi di klub-klub kecil. Perubahan hidupnya yang drastis menjadikan alkohol dan obat anti depresi sebagai pelarian.

Dandridge secara tragis ditemukan terbujur kaku tidak bernyawa oleh Earl Mills di kamar mandi pada 8 September 1965. Ironisnya, Dandridge dan Mills sebenarnya janjian akan pergi bersama ke New York untuk menata kembali sisa kariernya. Hasil autopsi menyatakan ia meninggal akibat overdosis Tofranil, obat antidepresi yang ia konsumsi. Dandridge dikremasi di Forest Lawn Memorial Parks & Mortuaries di Los Angeles atas keinginannya sendiri, yang dituliskan di surat warisannya, yang sudah diberikannya kepada Mills sebelum ia meninggal.

 

What's On Fimela