Tak Ada Generasi Muda yang Lanjutkan Mengolahnya, Lurik Terancam Punah

Melida Rostika diperbarui 13 Sep 2017, 13:40 WIB

 

Jakarta Puluhan jenis wastra Indonesia yang beragam bukan hal mudah untuk dihapal satu demi satu. Setiap daerah punya kain tradisional yang jadi kebanggaan, karena kaya akan nilai budaya dan sejarah. Beda intensitas sinar matahari saja sudah hasilkan warna berbeda di masing-masing wilayah. Kadang berujung penamaan jenis kain yang juga berbeda.

Kain Lurik, satu wastra tanah air yang berasal dari Jawa Tengah, punya nilai budaya tersendiri. Kata Lurik  berasal dari bahasa Jawa, ‘Lorek' yang berarti garis-garis, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan, maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna. Lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif Lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula Lurik  yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya.

Motif Lurik  tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Namun demikian saat ini pengguna Lurik semakin sedikit dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Perajinnya pun dari waktu ke waktu mulai menghilang. Beberapa waktu lalu, Fimela sempat berkunjung ke sentra kerajinan pembuatan kain Lurik di Klaten, Jawa Tengah bersama designer senior Edward Hutabarat. Satu fenomena ironis yang ditemukan, adalah sosok renta yang berada di balik setiap alat tenun. Dengan usia yang tak lagi muda, yakni rata rata di atas 55 tahun, orang tua yang jumlahnya tak banyak ini mengoprasikan mesin tenun yang sederhana dengan sekuat tenaga.

Proses penciptaan kain Lurik pun tak mudah. Penenunan akan bisa dilakukan setelah benang selesai di gulung satu per satu dengan tangan hingga membentuk tukel atau gulungan benang yang bisa disambungkan dengan mesin tenun. Belum lagi tahap pencucian dan pewarnaan untuk ciptakan warna kain yang indah. Satu mesin tenun kayu akan menghasilkan kain per meter berdasarkan besarnya tenaga yang dikeluarkan untuk menginjak tuas tenun pada mesin. Bayangkan, betapa sulitnya untuk hasilkan juntaian kain tenun dengan tenaga di usia yang tak lagi muda.

Jatuhnya harga kain Lurik  yang hanya berkisar 9000 sampai 15.000 rupiah per meter ini rasanya jadi satu alasan yang membuat generasi muda enggan untuk teruskan tradisi menenun Lurik. Harganya tak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Ini bukan pekerjaan yang diincar, bila upah besar adalah tujuan. Belum lagi, identitas kain Lurik  yang dulunya dikenal sebagai seragam para penjaga pintu keraton, rasanya juga membuat sebagian besar orang menilai bahwa kain Lurik  tidak memiliki kelas untuk dikenakan dalam berbagai agenda yang haruskan kenakan kain Indonesia. Berbeda dengan Batik, dengan berbagai corak dan warna Batik mampu diolah sedemikian rupa untuk bentuk outfit santai maupun resmi sekalian. 

Pelestarian kain Lurik  sebenarnya mampu dilakukan siapapun. Dan ikut campur industri fashion dalam proses pelestarian ini memang sangat fundamental sifatnya. Pengolahan benang, menjadi kain, lalu pakaian, adalah bagian siklus industri fashion itu sendiri. Menempatkan Lurik  sebagai bahan dasar pembuatan koleksi bergaya modern, adalah langkah penting yang saat dilakukan terus menerus akan meningkatkan permintaan pada kain tenun satu ini. Meningkatnya permintaan, akan menggerakan roda ekonomi. Termasuk harga Lurik, seharusnya.

Beberapa tahun terakhir, popularitas Lurik semakin meningkat. Meski geraknya masih lambat. Tapi, kesadaran akan potensi Lurik dan motif geometrisnya yang sangat fleksibel diolah (termasuk pewarnaan yang makin beragam), memunculkan clothing brand, juga sekelas designer yang membuat koleksi dari kain Lurik.

Contoh paling kuat, dan yang termasuk mempopulerkan Lurik  adalah designer Yogyakarta, Lulu Lutfi Labibi. Gaya dekonstruktif, aksen tumpuk, penggunaan Lurik  dalam warna klasiknya, membuat karya-karya basis Lurik  Lulu populer se-Indonesia. Koleksi nya yang bertajuk ‘Perjalanan’ menyorot proses pembuatan kain Lurik  yang dihasilkan dengan alat tenun tradisional. Pribadinya menjelaskan dalam satu siaran pers bahwa proses lahirnya satu kain lurik melalui prejalanan yang panjang dengan berbagai perjuangan sang penenun yang tak lagi muda. Sungguh sayang bila hasil dari proses perjalanan ini tak dihargai dan hanya di lihat semata, bahkan oleh masyarakat indonesia sendiri. Koleksi Lurik terbarunya yang bertajuk "Tirakat" kembali menggunakan pendekatan yang emosional, serta padu padan yang nampak terpengaruh pada jiwa jalanan. Kembali memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif untuk pengolahan Lurik.

Mundur sedikit di runway Cita Nusa Kirana FIMELAFEST 2016 lalu, Nina Nikicio berhasil ciptakan koleksi rancangan yang stylish juga effortless dari kain Lurik. Harapan Nina, ia ingin menjadikan lurik sebagai bagian gaya hidup orang modern. Karenanya ia mendesain Lurik  dengan gaya yang lebih baru, praktis, juga fungsional serta mampu dikenakan perempuan berbagai umur. Rancangan ready to wear berhasil diciptakan dengan motif garis kain Lurik  yang chic. Satu Instagirl tanah air, Catherine Halim, bahkan kenakan setelan Lurik  Nikicio untuk datang ke festival musik Coachella tahun ini, and she got featured by Vogue.com. 

 

(Picture : Exclusive)

 

What's On Fimela