Sukses

FimelaMom

Mengenal ‘Dad Guilt’, Rasa Bersalah yang Sering Dialami Ayah Baru

Fimela.com, Jakarta Ada banyak ayah baru yang diam-diam merasakan hal yang sama yaitu rasa bersalah yang muncul setiap kali melewatkan momen anak. Kadang saat sedang bekerja, ada pikiran yang muncul bahwa seharusnya kita berada di rumah, bermain atau sekadar memeluk mereka. Perasaan itu membuat banyak ayah bertanya-tanya, “Apakah aku sudah menjadi ayah yang baik?”

Melansir laman allprodad.com rasa bersalah tersebut sering muncul karena tuntutan pekerjaan, perjalanan dinas, atau tanggung jawab lain yang membuat ayah tidak selalu hadir di setiap momen penting. Situasi seperti itu bisa menimbulkan tekanan emosional yang kuat. Bagi banyak ayah, inilah yang dikenal sebagai dad guilt sebuah perasaan bersalah karena merasa tidak cukup terlibat dalam kehidupan anak.

Namun, dad guilt bukan hal yang perlu dihapus sepenuhnya. Justru, rasa ini bisa menjadi sinyal bahwa seorang ayah peduli dan ingin berperan lebih besar. Yang penting adalah memahami perasaan tersebut dan mengelolanya dengan cara yang sehat agar tidak berpengaruh negatif dan terlalu berlarut-larut. 

Pergeseran peran ayah dan munculnya rasa bersalah

Langkah pertama adalah menyadari bahwa dad guilt adalah hal yang wajar bagi ayah masa kini. Berbeda dengan beberapa masa lalu, ayah kini tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga ingin terlibat langsung dalam pengasuhan. Pergeseran peran inilah yang membuat ketidakhadiran sesaat dapat memicu rasa bersalah.

Meski begitu, penting bagi ayah untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Tidak mungkin bisa berada di semua momen anak setiap waktu. Tekanan sosial yang menuntut ayah untuk “selalu hadir” justru membuat banyak ayah merasa gagal. Padahal, keberadaan ayah dalam bentuk kerja keras dan tanggung jawab juga berkontribusi besar bagi kesejahteraan keluarga.

Rasa bersalah ini sebenarnya dapat menjadi petunjuk bahwa seorang ayah berada di jalur yang benar. Jika muncul penyesalan karena tidak bersama anak, itu menunjukkan bahwa nilai dan prioritas keluarga sudah tertanam kuat. Perasaan ini merupakan indikator bahwa ayah ingin memberikan yang terbaik.

Mengelola dad guilt dengan cara yang lebih sehat

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa perjalanan menjadi ayah adalah proses panjang, bukan sesuatu yang harus sempurna sejak awal. Tidak ada ayah yang bisa selalu hadir dan tidak ada yang menjalani semuanya tanpa kesalahan. Yang penting adalah konsistensi, usaha, dan kemauan untuk terus berkembang.

Terkadang, momen kecil memang terlewat, tetapi ada banyak momen lain yang masih dapat diisi dengan kehadiran yang penuh makna. Memberikan contoh melalui kerja keras, tanggung jawab, dan komitmen juga merupakan pembelajaran berharga bagi anak-anak tentang bagaimana menjadi sosok dewasa yang kuat dan peduli.

Pada akhirnya, dad guilt dapat dikelola dengan melihat diri sendiri secara lebih lembut. Bukan dengan menghilangkan rasa itu sepenuhnya, tetapi mengubahnya menjadi motivasi untuk menjadi ayah yang lebih hadir, lebih sadar, dan lebih percaya diri menjalani peran besar yang sedang diemban.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading