Eksklusif, Lola Amaria tak sangka film Lima bisa keliling dunia

Henry Hens diperbarui 25 Sep 2018, 07:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Lola Amaria merupakan salah satunya selebriti yang kini jarang muncul di depan layar lebar maupun layar kaca. Ia lebih memilih berada di belakang layar, baik menjadi produser ataupun sutradara selama beberapa tahun terakhir ini. Berawal dari dunia model, Lola merambah dunia film lewat Tabir di tahun 2000.

Di tahun 2003, ia mencoba menjadi produser di film Novel Tanpa Huruf R yang juga dibintanginya dan disutradarai Aria Kusumadewa. Beberapa tahun terakhir, wanita kelahiran 41 tahun lalu ini lebih memilih berkiprah di belakang layar. Salah satu filmnya yang sempat viral dibicarakan banyak orang adalah film Lima yang dirilis pada 31 Mei 2018. Lola bertindak sebagai salah satu produser dan sutradara.

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Selain Lola Amaria, Lima yang terdiri dari lima cerita juga disutradarai oleh Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah dan Adriyanto Dewo. Lima adalah film yang menceritakan tentang arti dan pemahaman Pancasila di Indonesia pada saat ini. Tak hanya di negeri sendiri, Lima juga mendapat kehormatan diputar di luar negeri. Misalnya saja di Bangkok, Thailand pada akhir Juli lalu.

Sayangnya, film tersebut justru sempat diprotes karena dinilai melanggar syariat agama Islam oleh sebagian pihak. "Sehari setelah sampai di Bangkok, ada whatsapp group yang beredar untuk supaya masyarakat Indonesia tidak menonton Film Lima. Alasannya, film Lima tidak sesuai dengan syariat Islam. Karena ada pernikahan beda agama," tutur Lola Amaria saat ditemui di kantor Bintan.com, Gondangdia, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Meski begitu, filmnya tetap dihargai di beberapa negara termasuk di Thailand karena mendapat sambutan positif. Bahkan film Lima tidak hanya diputar di Asia, tapi juga akan tayang di Eropa sampai Amerika. Berbagai komentar positif dan pujian pun didapatkan Lola dari para penontonya.

"Ada yang nangis, ada yang merasa senasib dengan tokoh di film ini, dengan keluarga yang beda agama. Komentar macam-macam tapi positif. Jadi diantara mereka semua punya harapan bahwa negeri ini akan membaik kedepannya," jelas Lola. Dari pencapaian yang begitu hebat ini, Lola mengaku kaget karena dirinya tak pernah berpikiran film Lima ini bisa sukses diputar di luar negeri.

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Film Lima memang bertema Pancasila dan relevansinya di Indonesia saat ini, tapi efeknya luar biasa sampai tahun depan masih keliling dunia. Lola Amaria pun mengamini dan mensyukuri apa yang datang pada dirinya. Ia meyakini, rezeki dan hal-hal yang baik sudah diatur sama yang di Atas.

Lola hanya menjalani saja apa yang menjadi kebisaannya. Lalu bagaimana film Lima bisa mendapat tawaran diputar di luar negeri? Apakah Lola Amaria akan tetap berada di belakang layar, atau ada rencana untuk berakting lagi?.

2 dari 3 halaman

Film Lima Tayang di Beberapa Negara

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Di Indonesia, film Lima memang tak terlalu diterima karena perolehan penontonnya tak begitu banyak. Namun fim karya Lola Amaria mendapat banyak apresiasi dan pujian. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga busa diputar di berbagai negara.

Bisa diceritakan kenapa film Lima bisa tayang di Thailand?

Film Lima bulan Juli lalu dapat undangan dari South East Asian Film di Bangkok dan kebetulan bertema anti radikalisme. Jadi memang itu pertama kali diputar di luar negeri, tepatnya pada 25 Juli 2018. Sambutannya luar biasa karena mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Bangkok banyak yang nonton film itu di Bangkok Art & Culture Center. Ada sekitar 250 orang yang datang.

Ada diskusi juga?

Ada diskusi setelah film itu diputar. Kita membahas isi film, sekitar masalah toleransi dan intoleransi disana serta dibandingkan dengan film Lima.

Bagaimana ceritanya film itu mendapat protes karena dianggap melanggar syariat Islam?

Sehari setalah kita sampai di Bangkok, ada Whatsapp group yang beredar untuk supaya masyarakat Indonesia tidak menonton Film Lima. Alasannya, karena tidak sesuai dengan syariat islam. Karena ada pernikahan beda agama katanya. Tapi yang menyebarkan whatsapp itu pasti belum nonton filmnya. Karena di film Lima tidak ada pernikahan beda agama. Mereka seagama. 

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Apa tujuan mereka sebenarnya?

Ini kan usaha provokasi untuk orang-orang supaya nggak nonton film Lima. Maksudnya apa, kita juga belum tahu dengan jelas karena terkesan dibuat-buat. Kita jauh-jauh untuk memutarkan film ini agar masyarakat Indonesia ataupun mahasiswa disana sadar akan pentingnya toleransi di Indonesia, tapi malah diprotes. Padahal mereka belum nonton filmnya, ini akan aneh.

Sudah ketahuan siapa pelakunya?

Saya tahu ada kelompok oknum yang menyebarkan. Tiap saya biarka saja, justru dengan menyebarnya whatsapp group itu, penduduk disana justru penasaran dan mau nonton. Akhirnya jadi penuh yang nonton.

Apa alasan mereka memprotes seperti itu?

Saya gak tahu mungkin ada beberapa kelompok yang menyebutnya oknum. Mereka tidak suka dengan film lima. Tidak suka akan adanya keberagaman di Indonesia. Kelompok yang ingin Indonesia jadi negara khilafah dan wahabi dan segalanya. Ini tugas saya dan teman-teman film Lima karena Indonesia punya ideologi yang keren banget. Pancasila. Seusai dengan kondisi kebhinekaan. Ada agama yang diakui, suku, warna kulit, rambut dan lain-lain Ketika ada satu kelompok oknum yang ingin merubah itu. Kita semua nggak akan terima. Biarkan Indonesia beragam, jangan diseragamkan.

Akan diputar di negara mana lagi setelah di Thailand?

Awal September ini diputar di Taipei, Taiwan. Nanti juga ada masyarakat Indonesia, mahasiswa dan buruh disana. Kemudian tanggal 15-16 September rencananya di Korea. Di Seoul dan Busan. Sepulang dari Korea, mau diputar di Bali Naear Internasional Film Festival. Bulan Oktober akan ada di 3 kota di Selandia Baru. Ada di Cruched, Wellington dan Auckland . Lalu lanjut ke Melbourne di Australia.

Diputar di Eropa dan Amerika juga?

Iya jadi rencananya bakal diputar di lima kota di Jerman. Di Berlin, Hannover, Frankfurt, Mainz, Hamburg sama satu kota lagi. Nah, tahun depan di bulan Februari juga mau diputar di Middle East (Timur Tengah). Ini pertama kali film kita diputar di sana. Nanti mau diputar di Teheran, Jordan, Istanbul, Qatar, satu lagi sedang dalam konfirmasi. Bulan Maret nanti sebelum Pemilu, film Lima akan diputar di lima negara bagian di Amerika Serikat.

Sejauh ini apa tanggapan mereka tentang film Lima?

Nah kalau dari teman-teman mahasiswa, Lima ini sebuah film ini penting buat mereka yang tinggal di luar negeri. Supaya mereka menjaga keutuhan bangsa Indonesia dan keberagamannya. Bahwa ada pihak-pihak ingin menjadikan negara wahabi atau khilafah semoga itu nggak terjadi. Film ini semacam penyegaran buat mereka betapa kaya keberagaman Indonesia. Jadi semangat mempertahankan keberagaman semakin terasa melalui film ini.

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Apa pesan mereka?

Ada yang nangis, ada yang merasa senasib dengan film ini, karena ada keluarganya yang beda agama. Ada juga yang senanag karena akhirnya ada yang membuat film seperti ini. Komentar macam-macam tapi positif. Jadi diantara mereka semua punya harapan bahwa negeri ini akan membaik kedepannya.

Harapan kamu di film ini?

Kalau saya membuat film ini tidak ada tujuan apapun. Sama seperti film sebelumnya. Membuat film yang tergantung realitas, kemudian ditonton. Nah ini mungkin case-nya ada yang berbeda. Ini lebih memvisualkan dasar negara bangsa Indonesia, ideologi bangsa Indonesia. Dan kejadiannya terjadi di masyarakat kita, beberapa tahun belakangan.

Rilisnya memang sengaja berdekatan dengan hari kelahiran Pancasila tanggal 1 Juni?

Entah kenapa film Lima dirilis hamir berbarengan dengan Hari Kelahiran Pancasila, karena tanggal rilis kan yang menentukan pihak bioskop. Sebelumnya sempat ada bom di Surabaya. Ini seperti mengobati mereka yang sedang sakit di Surabaya. Jadi ini seperti obat bagi para keluarga korban. Film ini jadi obat penyembuh bahwa kita masih punya obat atau penyembuh harapan untuk bangsa ini.

3 dari 3 halaman

Alasan Lola Amaria Pilih Dibalik Layar

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Lola Amaria memang sudah jarang muncul di depan layar kaca dan memilih berada di belakang layar. Ia terakhir kali berakting di film Kisah 3 Titik (2013). Meski begitu, dirinya tak memungkiri jika suatu saat nanti akan kembali mengasah kemampuan aktingnya.

Apa proyek baru kamu?

Proyek baru belum tentu ada meski sudah ada beberapa rencana. Karena tugas kami di film Lima ini masih banyak banget. Setelah memutar film ini di Amerika pada Maret 2019, nanti bulan April tahun depan kan ada kampanye sama Pemilu dan Pilpres. Kemungkinan kalau ada setelah Pilpres, supaya lebih kondusif gitu.

Ada rencana buat akting lagi apa sudah betah dibalik layar?

Hmm, gak tau sih ya, tapi memang bukan berarti pindah sih. Tapi kalau ada tawaran yang menarik, waktu dan karakternya pas, ya saya mau. Tapi buat saat ini masih di belakang layar aja.

Kenapa lebih memilih di belakang layar?

Karena banyak kejadian yang menantang ya di Indonesia. Saya kan awalnya model, lalu pemain film terus kan berputar ya, industri perfilman juga mencari aktris dan aktor yang lebih muda, ketika sudah berganti eranya dari dulu ke sekarang. Saya berputar otak gak mungkin terus berada di depan layar.

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Berarti karena tuntutan perubahan jaman juga?

Iya salah satunya. Jadi saya putuskan buat mempelajari skill lain di film seperti penyutradaraan, produksi dan penulisan. Sampai akhirnya saya nyaman dibelakang layar, apapun bisa dikerjakan. Kalau di depan layar tuntutannya banyak, harus fresh, cantik. Beda sama di luar negeri. Kalau di Indonesia tuntutan fisik lebih tinggi dibandingkan isi.

Lebih nyaman dimana?

Sebenarnya dua-duanya nyaman. Tapi sudah hampir enam tahun nggak main film. Kalau saya nanti main film lagi mungkin akan menjadi kagok kali ya. karena tiba-tiba harus kembali kedepan layar. Kedepan sih belum ada tawaran untuk main didepan layar lagi.

Siapa orang yang berjasa yang buat karir kamu di dunia film?

Sebenarnya banyak ya, oirangtua saya berjasa, teman-teman saya berjasa, mantan pacar saya berjasa. Kemudian beberapa sutradara yang pernah kerja bareng saya dan orang film yang jadi sahabat saya, dan saya belajar banyak dari situ.

Jadi orang dibalik layar memang keinginan sejak lama?

Saya memang suka nonton film, jadi bintang film itu sebenarnya kecelakaan, bukan cita-cita. Tapi karena saya nggak sekolah film, terus ikut audisi itu menjadi ajang sekolah saya karena melihat persiapan produksi,di lapangan, bagaiaman film kelar, promosi, komunikasi, distribusi. Itu semua saya jadikan ajang pelajaran, kalau next kedepannya saya buat film saya sudah tahu tahapan-tahapannya.

Pengen buat film dengan genre lain, seperti action atau horor?

Kalau action saya belum tahu karena rumit, komedi pernah tapi satir. Film horor kayaknya nggak mungkin karena saya penakut dan gak nonton film horor. Jadi genre saya di drama komedi.

Perkembangan film Indonesia sekarang seperti apa?

Kalau menurut saya sih, sedang menggeliat, artinya lebih maju dari sebelumnya. Seperti jumlah penonton sudah bertambah dari tahun-tahun sebelumnya, genre film juga semakin nambah. Ada karakter baru yang memiliki ciri khas juga muncul dan berbagai latar belakang. Artinya sebagai penonton film kita bisa memilih. Kalau gak suka film horor ada komedi, gak suka komedi ada drama, gak suka drama ada action dan begitu seterusnya.

Pilih film kualitas atau kuantitas?

Sebenarnya kualitas, tapi kalau sekarang kuantitas dulu. Sekarang banyak sudah yang nonton film bahkan sampai ratusan tapi kualitasnya hanya beberapa yang bagus. Tapi sekarang para sineas sudah banyak berpikir bagaimana membuat film yang bagus. Contohnya film horor Pengabdi Setan kan bagus banget. Ini bisa menjadi acuan para film horor lain agar buat film nggak asal-asalan karena Pengabdi Setan itu udah bagus banget. Kalau bisa kualitasnya bisa seperti itu standarnya.

Lola Amaria, produser dan sutradara film Lima. (Fotografer: Bambang E. Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri /Bintang.com)

Idola kamu di kalangan sineas film?

Idola saya di Indonesia rata-rata sudah meninggal ya, hehehe. Ada almarhum Sjumanjaya yang sangat saya kagumi. Kalau angkatan sekarang ada Riri Riza dengan gayanya yang khas, Nia Dinata juga suka. Ernest Prakasa juga punya ciri khas. Jadi semua punya keunikan masing-masing dan karyanya bagus-bagus.

Apa kesibukan di luar film?

Saya masih mengelola production house, jadi gak jauh-jauh dari dunia film. Tapi kita bukan hanya memproduksi film saja, tapi ada juga film dokumenter, iklan, video clip jadi sehari-hari seperti itu

Apa mimpi yang belum terwujud?

Alhamdulillah sampai saat ini saya mensyukuri apa yang saya dapat. Saya ngak mau buat ekspetasi tinggi. Karena kadang ekspektasi kita meleset, kayak film Lima ini. Bikin film tentang Pancasila, tapi efeknya luar biasa sampai tahun depan masih keliling ke berbagai negara . Saya mengamini dan mensyukuri apa yang datang ke saya. karena saya yakin rezeki dan hal-hal yang baik sudah diatur sama yang di Atas. Kita tinggal jalanin saja.

Sejak terjun ke dunia film di tahun 2000, Lola Amaria masih terus konsisten di bidangnya sampai saat ini. Bahkan belakangan ia lebih memilih berkiprah sebagai sutradara, produser maupun penulis skenario. Meski tidak menghasilkan film yang meraih jutaan penonton di bioskop, film-film karya Lola Amaria selalu mengundang banyak pujian dan menarik untuk dibahas.

 

Reporter: Syifa Ismalia