Wanita Lebih Sering Belanja Apa Yang Dia Inginkan, Bukan Yang Dia Butuhkan

Fimela diperbarui 19 Nov 2014, 14:40 WIB

Timbulnya pergeseran budaya karena meningkatnya pendapatan per kapita suatu negara menyebabkan masyarakat menjadi lebih konsumtif, khususnya kaum hawa. Pergeseran ini bisa dirasakan di negara kita sendiri, yaitu Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, semenjak pemerintahan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat. Kita bisa menemukan banyak orang kaya baru yang tersebar di penjuru kota besar, khususnya Jakarta. Wanita-wanita kelas sosial menengah ke atas terlihat mewah turun dari kendaraan pribadinya. Bukan hal aneh jika melihat mereka menggunakan barang-barang branded dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Wanita Dulu Lebih Sederhana, Sangat Berbeda Dengan Sekarang

Jika kita mencoba flash back, keadaan ini sangat berbeda dibanding beberapa tahun. Di masa itu, wanita masih berdandan dan memakai baju ala kadarnya. Tapi saat ini, gaya hidup mewah mengubah paradigma wanita yang hidup di kota metropolitan untuk berusaha tampil modis dan mengikuti tren yang berkembang. Dari barang-barang yang mereka gunakan dapat tercermin bahwa kemampuan daya beli mereka tinggi. Barang yang mereka beli tidak hanya barang kebutuhan sehari-hari, melainkan produk sekunder bahkan yang paling mewah.

Bisa jadi, para wanita metropolitan hampir setiap hari menghabiskan waktu di mall untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Padahal barang-barang tersebut sudah mereka miliki dan masih dapat digunakan. Wanita sangat menyukai barang yang membuat mereka tampil cantik dan menawan. Misalnya saja baju, tas, sepatu hingga gadget yang dapat menjadi symbol of richness. Mereka membeli barang-barang itu bukan karena butuh, biasanya hanya sekedar ingin mendapatkan versi paling baru. Dengan memiliki barang branded dan terbaru, para wanita dapat menunjukkan identitas diri mereka, siapa mereka di mata orang lain.

Yuswohady dalam bukunya yang berjudul Consumer 3000 mengatakan bahwa:

They buy not what they need but what they desire.

Mereka tidak membeli apa yang dibutuhkan,

tetapi apa yang diinginkan.

Wanita tidak hanya mementingkan apa yang mereka butuhkan saat ini, mereka cenderung membeli apa yang mereka inginkan. Paradigma seperti inilah yang menyebabkan wanita menjadi lebih konsumtif. Mereka berbelanja dan membeli barang-barang yang tidak perlu sehingga terjadi penumpukan di rumah.

Tampil Cantik Dan Modis Boleh, Asalkan..

Boleh saja seorang wanita tampil modis. Namun, kita harus kembali ingat batasan-batasannya. Tampil gaya dan cantik tidak selalu diukur dengan barang-barang branded yang digunakan. Kita bisa tetap tampil cantik walaupun memilih baju, tas, sepatu, aksesori yang tidak terlalu mahal. Banyak sekali barang-barang dengan harga murah di pasaran asalkan kita pintar memadu padankannya dengan baik. Pancaran inner beauty juga bisa mempengaruhi penampilan seseorang sehingga membuat orang lain terpikat. So, kita tidak perlu menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang branded. Memiliki barang branded boleh saja, namun tak perlu berlebih. Sebab selain membuat kantong kering, hal tersebut akan memicu perilaku konsumtif.

Mulai sekarang belajarlah untuk berhemat dan hindari perilaku konsumtif!

***

Terima kasih kepada mbak Sudiyanti yang sudah membagikan tulisannya kepada Vemale.com. Kisah yang sama bisa Anda baca di blog milik Sudiyanti, Wanita Cenderung Berperilaku Konsumtif

------------

Punya berbagai kisah menarik atau inspirasi untuk dibagikan kepada para wanita di seluruh Indonesia? Vemale.com akan menayangkan berbagai tips, cerita, atau kisah inspirasi terbaik darimu.

Silakan kirim tulisanmu ke wenny@kapanlagi.net. Jika kisah kamu bisa menjadi inspirasi banyak orang, jangan disembunyikan! :)

------------

(vem/yel)