Ayah Masuk Penjara Dan Meninggalkan Hutang 1,3 Miliar Atas Namaku

FimelaDiterbitkan 15 Juni 2015, 17:22 WIB

Ladies mungkin sudah pernah mendengar beberapa cerita mengerikan yang seharusnya tidak dilakukan seorang ayah terhadap anaknya. Namun, kisah-kisah seperti itu seolah tidak ada habisnya ya Ladies. Seperti kisah yang satu ini, yang telah dilansir oleh Goodhousekeeping.com, tentang seorang ayah yang memakai identitas putrinya untuk berhutang sebesar 1,3 miliar rupiah. Penasaran? Simak kisah selengkapnya berikut ini.

Nama saya Christina McDowell. Saat saya berusia 18 tahun dan baru masuk perguruan tinggi, FBI mendatangi rumah keluarga kami dan menangkap ayah saya dengan tuduhan penipuan. Singkat cerita, ayah saya dipenjara, dan saat itu saya tahu bahwa ayah meninggalkan hutang kartu kredit sebesar 1,3 miliar rupiah atas nama saya. Saya rasa saya tidak akan pernah memaafkannya.

Melihat apa yang terjadi sekarang, masa kecil saya layaknya cerita dongeng. Saya dibesarkan di kawasan makmur, di pinggiran kota Washington DC, di sekitar orang-orang penting. Lingkungan di sekitar saya adalah real estate, mobil mewah, dan pesawat pribadi. Orang tua saya adalah pasangan yang bahagia, sementara saya dan dua saudara perempuan saya layaknya sahabat baik. Namun, bermasalah dengan beberapa perusahaan pialang dalam penawaran bisnis yang ternyata adalah penipuan, membuatnya dipenjara. Setelah ayah dipenjara, saya mencoba memahami apa yang terjadi dan bagaimana saya harus menghadapinya.

Hutang yang ditinggalkan membuat saya shock dan bingung luar biasa. Dia bahkan melakukan pencucian uang atas nama saya. Ayah selalu berkelit bahwa dia melakukannya untuk keluarga. Tidak lama kemudian, pihak bank mulai menelepon saya setiap hari, bahkan menebar ancaman.

Saya tidak pernah menuntut ayah, meskipun itu satu-satunya jalan untuk terbebas dari jeratan hutang. Saya tidak menuntutnya karena saya mempercayainya. Saya percaya semua yang dikatakannya. Penyangkalan memang menguatkan.

Tapi kemarahan dan kebencian tetap ada dalam hati saya. Saya mulai berteman dengan alkohol, obat-obatan dan seks bebas untuk melupakan sakit hati yang saya rasakan.

Lalu saya direhabilitasi atas kemauan saya sendiri. Sakit hati yang saya rasakan masih membuat saya berpikir bahwa tidak mungkin saya dapat memaafkan ayah.

Saya mulai menyibukkan diri dengan menjadi relawan bersama keluarga dan anak-anak dari para narapidana di Kantor Keadilan Restorasi. Seorang wanita bernama Amalia Molina bertanya apakah saya bersedia berpartisipasi dalam lokakarya keadilan restorasi -pendekatan yang kuat terhadap keadilan yang berfokus pada transformasi melalui dialog dengan korban dan pelaku, mencari jalan untuk pengampunan hukuman.

Satu minggu kemudian saya pergi dengannya ke penjara untuk bertemu dan berbicara di hadapan para ayah yang merupakan narapidana. Saya menangis di hadapan mereka, menceritakan rasa sakit dan rasa bersalah karena kebencian pada ayah, lalu mereka ikut menangis. Mereka lalu mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf atas nama ayah saya. Sejak saat itu saya mulai memaafkan ayah.

Dan saya juga menyadari bahwa kita bisa memaafkan seseorang tanpa harus berhubungan denganya. Itu batasan yang saya buat untuk diri saya, mungkin akan berbeda bagi orang lain.

Yang paling penting, pengampunan itu bukan untuk orang lain, tapi untuk diri saya sendiri. Saat saya memaafkan ayah, saya juga jadi bisa memaafkan diri saya sendiri untuk tahun-tahun yang saya lalui dengan kebencian, untuk apa yang menghancurkan diri saya sendiri. Pengampunan membuka jalan bagi saya untuk menghadapi masa depan, yang jauh lebih baik dari masa lalu saya. Dan saya tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi di masa depan.

Kisah yang menguatkan ya Ladies. Di balik masalah yang dihadapinya, obat terbesar yang bisa menyembuhkan sakit hatinya adalah pengampunan. Saya sangat setuju. Percaya atau tidak, memaafkan akan menyembuhkan luka, dan akan membantu Anda melepaskan, bahkan melupakan apa yang membebani hidup Anda.

 

(vem/reg)
What's On Fimela

Tag Terkait