Saat ini mudah sekali kita menilai dan menghakimi seseorang dari satu sudut pandang. Padahal apa yang kita lihat belum tentu itu yang terjadi sebenarnya. Bisa saja ada sebuah perjuangan atau pengorbanan yang telah ia lakukan tapi ia sembunyikan. Apa yang kita lihat mungkin hanya permukaannya saja.
Ada banyak hal yang tak kita ketahui dari kehidupan seseorang, sekalipun ia adalah orang terdekat kita. Kadang apa yang tampak atau ia tunjukkan sebenarnya hanyalah satu lapis aspek kehidupannya saja. Jangan sampai sikap menghakimi kita malah berujung melukai hati atau menghancurkan hidup seseorang, Ladies.
Soal status misalnya. Menikah atau lajang. Mungkin kita menganggap mereka yang sudah menikah hidupnya sudah dalam tahap aman dan bahagia selamanya. Tapi di sisi lain, bisa jadi perjuangannya untuk bisa sampai menikah tak mudah. Ada usaha yang jatuh bangun sebelum ia akhirnya menemukan jodohnya.
Sementara yang masih lajang, kita tak bisa begitu saja menganggapnya terlalu pemilih atau “nggak laku”. Bisa jadi saat ini ada prioritas lain yang lebih penting dalam hidupnya yang sedang ia perjuangkan. Atau mungkin saat ini sebenarnya dia juga sedang memperjuangkan cintanya dan sangat berharap bisa segera bertemu sang belahan jiwa, hanya saja waktunya masih belum tepat.
“The most beautiful people we have known are those who have known defeat, known suffering, known struggle, known loss, and have found their way out of the depths. These persons have an appreciation, a sensitivity, and an understanding of life that fills them with compassion, gentleness, and a deep loving concern. Beautiful people do not just happen.”
― Elisabeth Kübler-Ross
Soal pilihan karier dan pekerjaan juga. Pilihan karier juga bisa jadi hal yang sensitif. Ada yang memilih untuk jadi ibu rumah tangga, bekerja di rumah, atau tetap bekerja di kantor. Seorang ibu rumah tangga juga punya tugas mulianya untuk bisa lebih fokus mengurusi berbagai urusan di keluarganya. Mungkin juga ia sendiri sedang dalam pergulatan batin sebelum akhirnya mantap memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga.
Buat yang bekerja di rumah pun, mungkin kita melihat kehidupan kariernya menyenangkan. Bisa tetap dapat penghasilan tanpa keluar rumah. Tapi tetap saja pasti ada usaha yang tak mudah untuk benar-benar bisa fokus bekerja di rumah. Sementara untuk yang bekerja di kantor, kita tak bisa langsung menuduh ia egois karena lebih mementingkan karier di luar daripada keluarga di rumah. Mungkin pilihan bekerja di kantor jadi yang terbaik untuknya. Tak hanya demi membantu keuangan keluarga tapi juga karena ia ingin lebih bermanfaat untuk lebih banyak orang di luar sana.
Pun soal bentuk tubuh. Biasanya perkara bentuk tubuh jadi hal yang paling gampang membuat seorang wanita merasa tersinggung. Kita mungkin menganggap ia yang bertubuh kurus adalah yang paling beruntung, makan sebanyak apapun tak akan membuatnya lebih gemuk. Tapi bisa jadi ia sebenarnya sedang berusaha untuk membuat tubuhnya lebih berisi. Sudah banyak cara yang ia coba tapi tetap tak berhasil.
Kita juga tak bisa begitu saja menghakimi ia yang bertubuh gemuk itu karena kebanyakan makan dan malas olahraga. Bisa jadi ada faktor genetik yang membuatnya bertubuh gemuk dan butuh usaha yang jauh lebih keras untuk mendapatkan tubuh yang lebih proporsional. Atau mungkin bisa jadi ia sedang mengidap sebuah penyakit dan tubuh gemuknya itu merupakan efek dari konsumsi obat atau pengobatan yang sedang ia jalani. We never know, don't we?
Kata-kata yang kita ucapkan bisa lebih tajam dari pedang. Menghakimi seseorang seenak kita sendiri pun bisa membuat hati seseorang terluka. Memang tak ada orang yang sungguh begitu sempurna di dunia ini, Ladies. Semoga kita pun bisa lebih menjaga apa yang kita ucapkan pada orang lain.
(vem/nda)