Lebih Baik Berpisah Daripada Merana, Sebab Hati Tak Untuk Disiksa

Fimela diperbarui 03 Nov 2016, 13:10 WIB

Siapa yang tidak ingin hidup merajut masa depan bersama kekasih pilihan? Pastinya kita semua ingin bahagia bersama orang yang paling kita cintai. Tapi bagaimana jadinya ternyata kisah cinta yang sedang indah-indahnya harus berakhir karena sebuah pengkhianatan?

"Aku pun belajar melepasnya pergi setelah enam tahun menjalani rumah tangga ini, karena kusadari tidak ada lagi cinta yang tersisa di hati."

Seperti yang ditulis oleh Nanadimana, kisah ini diceritakan sahabat Vemale ketika dalam keterpurukannya dia masih bisa berkata, "Aku berhak untuk bahagia, berhak mencintai juga dicintai dan dihormati oleh pasanganku." Ucapannya bukan tanpa dasar, sebut saja Lyta namanya. Orang melihatnya sebagai istri yang sangat disayangi pasangannya. Mereka menikah di usia yang tergolong muda, sama-sama bekerja memulai usaha berdua dimulai dari nol yang biasanya diimpikan oleh pasangan-pasangan lainnya.

Lyta mantap meninggalkan dunianya yang masih penuh keceriaan masa muda, demi menjadi istri kekasihnya yang menginginkannya menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Namun, manusia boleh berencana tapi Tuhan juga yang menentukan. Sempat mengandung sekali, tapi kemudian mengalami keguguran. Buah hati yang sudah lama dinantikan tak kunjung hadir di rumah tangga mereka. Namun Lyta tidak menyerah, ia terus berusaha ikhtiar mendapatkan keturunan yang diidamkan bersama kekasihnya.

"Aku pikir sampai detik ini hanya aku yang berusaha. Ke dokter, alternatif, dan  lain-lain. Tapi kenapa ya dia tidak mau sempatkan berhenti dan melihat kembali apa yang harus diubah demi kehadiran anak kami?" ujar Lyta di salah satu helaan nafasnya.

Ia tidak pernah berhenti berusaha mendapatkan keturunannya. Bahkan termasuk saat detik-detik ia mengetahui suaminya berselingkuh dengan teman kerja di lain kota. Alasan keluar kota, dan berbagai alasan untuk menginap di lain kota yang pada awalnya dianggapnya biasa, menjadi bumerang dan membuat harapannya berantakan.

Lima bulan sudah ia memilih berpisah. Tak kuat menanggung rasa sakit hati dipermainkan pasangannya, gugatan cerai pun dilayangkan. Terpaksa ia mengakhiri kisah cinta yang dikiranya akan berakhir sampai tua.

Dibuangnya semua harapan semu yang telah ternoda itu, ia mencoba membuka lembaran baru. Walau tak juga dilepaskan pasangannya, sidang demi sidang terus diupayakannya untuk memilih jalan berpisah.

"Aku berhak bahagia. Aku memang memilih berpisah biar pun bayangan kesendirian itu juga membuat merana. Tapi aku akan bahagia, tanpa harus memikirkan cintaku dipermainkan lagi oleh orang yang aku percaya," tutup Lyta setelah menjalani sidang perceraian untuk kesekian kali yang harus dihadapinya.

Mungkin sahabat Vemale bertanya-tanya, bagaimana bisa bahagia kalau harus meninggalkan rumah tangga yang telah dibina? Lyta tidak bergeming dengan segala pandangan tersebut. Hatinya memang gelap, hidupnya memang telah tertusuk duri tajam kehidupan yang tidak diinginkannya. Satu yang perlu disadari sahabat Vemale, setiap perempuan harus merasa dirinya berharga.

Kamu bisa memilih untuk sembuh atau malah jatuh. Saat terbentur pada permasalahan yang sama, hanya itu pilihan yang ada. Tapi apakah kamu mau telah disakiti, telah dilukai, dan malah mengurung diri, menyalahkan dan membenci diri sendiri? Apakah kamu tidak merasa berhak untuk belajar lagi mencintai dan mempercayai?

Saat kamu tahu dirimu berharga, ada yang harus dilakukan saat ini juga. Bertahan dan melangkahlah kembali dengan kepala tegak.

Lyta, untuk setiap langkah yang kamu ambil setelah bangkit dari keterpurukan, kamu akan menyadari dirimu ternyata jauh lebih kuat daripada yang kamu duga selama ini.

(vem/nda)