Bermetamorfosa Jadi Ibu di Usia Muda, Aku Begitu Bangga & Bahagia

Fimela diperbarui 31 Des 2016, 10:16 WIB

Begitu banyak pengalaman yang dirasakan ketika menjadi seorang ibu di usia muda sedangkan di waktu yang sama ia juga masih melanjutkan study di bangku perkuliahan. Menjadi ibu harus membuat seorang wanita menjalani peran dan tanggung jawab yang baru. Mungkin cukup berat menjalankan peran sebagai ibu sekaligus mahasiswa. Tapi, meski berat pengalaman ini akan jadi pengalaman yang sangat berharga dan membanggakan.

Seperti yang dikisahkan oleh sahabat Vemale untuk mengikuti Lomba Bangga Menjadi Ibu berikut ini. Wanita cantik ini menceritakan bagaimana dirinya bermetamorfosa dari seorang mahasiswa yang masih suka jalan menjadi seorang ibu yang harus mengurus anak di usianya yang masih sangat muda.



***



Waktu berlalu begitu cepat, sudah lebih dari 4 tahun aku merasa bangga dan bahagia menjadi seorang ibu. Tak terasa, rupanya aku telah bermetamorfosis dari mahasiswa yang tugasnya hanya kuliah di kampus, sekarang seolah sempurna menjadi kupu-kupu dewasa yang memiliki tanggung jawab sendiri atas hidup ini. Aku menikah di usia muda 21 tahun. Waktu itu belum lulus kuliah dan tampak tidak siap menghadapi perubahan pasca menikah. Tapi, walaupun aku dan suami menikah di usia muda, kami sudah siap berkomitmen dengan segala resiko. Seperti emosi yang tidak stabil atau keuangan yang belum mapan.

Waktu itu suamiku sudah menjadi abdi negara, sedangkan aku tetap melakukan tugasku sebagai mahasiswa. Tetap hangout dengan teman-teman kuliah dan memenuhi janjiku kepada bapak untuk lulus kuliah tepat waktu. Terasa berat memang, di saat suami harus menanggung biaya kuliah yang tidak sedikit dan segala keperluan keluarga, sementara aku belum bisa membantu dalam hal ekonomi. Tapi kami yakin rezeki tidak akan tertukar. Dan pada akhirnya setahun kemudian setelah kami menikah, lahir anak kami yang pertama dan membawa rezeki baru untuk keluarga kami. Anak kami bernama Azka.

Aku masih ingat jelas bagaimana perjuangan seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil. Aku mengalami perubahan mood yang naik turun, perubahan bentuk badan dan segala bentuk morning sickness. Semua itu terbayar dengan suara tangisan Azka kecil yang lahir lewat operasi caesar karena posisi bayi terlilit tali pusat dan tidak memungkinkan lahir normal. Setelah Azka lahir, kehidupan sebagai seorang ibu seutuhnya dimulai.



Seperti kebanyakan ibu baru lainnya, aku juga mengalami baby blues, menangis tanpa sebab sepanjang hari itu dan malas menyusui buah hati. Ketika mengalami baby blues, yang paling dibutuhkan adalah perhatian dari suami dan orang-orang terdekat. Beruntung, aku dan suami berasal dari kota yang sama. Jadi lumayan banyak yang menemaniku waktu itu. Perubahan demi perubahan terjadi dalam perjalananku menjadi seorang ibu seutuhnya.

Aku tidak lagi memiliki waktu yang fleksibel untuk jalan dengan teman-teman. Aku harus membagi waktu antara kuliah dan mengurus bayi. Its okay, aku menikmati peran ganda sebagai mahasiswa semester akhir sekaligus mengurus bayi. Aku justru merasa bangga karena selangkah lebih dulu dari teman-teman, memiliki gelar sarjana dan menjadi ibu baru. Tidak apa-apa jika dalam proses nya menjadi lebih sulit di bandingkan teman-temanku yang lain. Aku percaya, kebahagiaan menjadi ibu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

Perjuangan yang paling membekas saat menjadi ibu baru adalah saat memberikan ASI untuk Azka. Jarak antara rumah dan kampus adalah 1,5 jam. Yaitu dari Jogja ke Solo atau 45 menit jika menggunakan kereta Prameks. Setiap hari aku harus mengejar kereta untuk kuliah dan mencuri curi waktu untuk pumping di kost teman. Ini dilakukan karena di kampus tidak ada fasilitas seperti nursery room atau ruang khusus yang sifatnya privat.

Banyak wanita pekerja yang bernasib sama sepertiku, para pejuang ASI. Kami menjadi saling kenal karena setiap hari bertemu dalam perjalanan di kereta. Masing-masing memiliki cerita dan keharuan dalam perjuangannya memberi ASI buah hati. Ya, semua demi masa depan mereka. Dengan ASI, bonding antara ibu dan anak akan terbangun cukup kuat sebagai bentuk kasih sayang yang tidak ternilai. Aku merasakan sendiri harunya bisa memberikan ASI untuk buah hatiku.

Tidak pernah terbayangkan, akhirnya aku bisa sampai tahap ini. Betapa aku merasa bangga dan bahagia karena bisa memberikan ASI. Memang, tidak semua ibu bisa sukses memberikan ASI. Walaupun begitu tetap, semua ibu adalah malaikat yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk anak-anaknya dan wajib memberikan yang terbuat buat mereka.

Tahun demi tahun berganti, sekarang usia anakku menginjak 4 tahun. Proses belajar menjadi orang tua tidak akan pernah berhenti sepanjang hidup ini. Anak memiliki fase-fase penting dalam perkembangan kehidupannya baik secara emosi maupun fisik. Semakin pintar seorang anak, semakin bahagia dan bangga lah seorang ibu. Kita, para ibu lah yang menjadi madrasah pertama buat anak-anak.



Selama 2 tahun pertama aku menjadi fulltime ibu, sekarang aku harus berbagi waktu untuk bekerja di luar rumah. Keputusan yang berat pada awalnya untuk menitipkan anak di fullday school. tapi,  terkadang hidup memang dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk masa depan yang lebih baik. Begitu juga denganku, supaya keluarga kami lebih mapan demi pendidikan anak-anak di masa mendatang tak apa ketika aku juga harus bekerja.

Sebagai ibu bekerja, aku agak selektif untuk memilih pekerjaan. Aku lebih memilih yang jam kerjanya sesuai dengan kebutuhan. Bagiku tetap penting mengantar dan menjemput buah hati  tepat waktu. Aku memilih tempat kerja yang tidak overtime seperti sebagian besar perusahaan lain. Aku berusaha menghadirkan sosok ibu yang dekat dengan anak-anak walaupun bekerja, yang masih sempat menemani mereka bermain bersama layaknya ibu-ibu lain yang memiliki banyak waktu di rumah.

Aku dan suami sepakat untuk menjadi orang tua yang dekat dengan anak. Kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Kami sengaja membagi pekerjaan rumah, supaya anak ikut terlibat dan terbiasa berbagi. Kami sangat menikmati proses ini, karena kami tidak ingin kehilangan momen-momen penting melihat perkembangan buah hati. Tidak perlu terlalu sibuk merekam dan mengunduh perkembangan anak di media sosial. Cukup mengemasnya di sebuah album kehidupan…

Tahun ini, ada anggota baru di keluarga kami. Kehadirannya membuat warna tersendiri dalam kehidupan kami. Hari-hari akan terasa lebih sibuk dengan 2 anak. Tapi kali ini usia saya sudah lebih matang untuk menjadi ibu baru dengan 2 anak. Kata-kata saja tidak akan pernah habis untuk melukiskan kebahagiaan bagaimana menjadi seorang ibu. Apalagi ketika anak membutuhkan kita, rasanya hidup kita berharga. Rasanya, kita selalu ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Terima kasih anak-anakku, kalian menempa ibu menjadi seseorang yang lebih kuat. Kalian memberi banyak warna dalam hidup ini. Tentu saja ibumu ini tidak sempurna, mari kita belajar dan tumbuh bersama, anakku. :)



(vem/mim)