Menjadi Wanita Asyik di Media Sosial, Bukan Yang Hobi Mengusik

Fimela diperbarui 01 Feb 2017, 15:58 WIB

Ladies, apakah kamu salah satu orang yang meng-unshare/un-follow karib di media sosial karena semua status atau fotonya mulai mengganggu? Atau jangan-jangan kamulah yang kini jadi banyak "musuh" di media sosial karena idealisme yang kamu sebarkan?

We are not judging you. Kami di sini hanya mau sharing atas semua perilaku kamu tunjukkan di media sosial. Untuk memandu kita, simak deh tulisan dari Nuri Sadida, M. Psi, dosen dan peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Jakarta. Beliau memaparkan fenomena ini bisa terjadi.

"Saat ini semua orang menggunakan media sosial untuk tujuan berinteraksi dan bergaul dengan orang lain. Sebelum adanya media sosial, orang berinteraksi satu sama lain di dunia nyata.

Namun saat ini, media sosial merupakan alat yang cukup efektif untuk berinteraksi. Hanya saja di kemudian hari, intensnya masyarakat menggunakan media sosial membuat netizen menampilkan berbagai perilaku yang berbeda dibandingkan dengan interaksi di dunia nyata, yang sayangnya banyak dari perilaku tersebut adalah perilaku negatif (misalnya mem-bully orang lain, menyebarkan berita bohong/ hoax, menghina orang lain, dsb).

Lebih memprihatinkan lagi, ternyata perilaku negatif di media sosial cukup banyak terjadi pada perempuan. Kamu mungkin pernah mengalami ini, melihat seseorang membuat status yang kasar di media sosial, padahal anda tahu keseharian orang tersebut cukup santun. Atau kamu melihat orang-orang di lingkaran pertemanan online anda membuat pernyataan menghakimi yang seolah-olah tanpa dasar, atau teman anda ternyata mudah terpengaruh berita hoax dan kemudian menyebarkan berita-berita hoax tersebut.

Mengapa seseorang bisa bertingkah laku seperti itu?

Menurut studi, sifat anonim internet adalah salah satu faktor yang mendorong terjadinya perilaku negatif saat online. Sifat anonim internet ini berarti kita tidak berhadapan secara langsung dengan orang yang sedang berinteraksi dengan kita. Hal ini memungkinkan seseorang bertingkah laku sebebas-bebasnya tanpa khawatir akan dihukum oleh pihak berwajib.

Beda halnya dengan dunia nyata, bukan? Di mana jika kita menghina orang lain di dunia nyata, maka bersiaplah menerima sanksi hukum.

Lalu mengapa banyak terjadi pada perempuan? Disini ternyata karakteristik perempuan yang menentukan mengapa perilaku negatif di dunia online banyak dilakukan perempuan. Karakteristik apa sajakah itu?

1. Intensitas menggunakan media sosial

Menurut hasil survei jumlah pengguna media sosial perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Ditambah, pengguna media sosial perempuan juga menghabiskan waktu lebih banyak mengakses media sosial. Otomatis, konsekuensi negatif dari menggunakan media sosial juga terjadi lebih banyak pada perempuan.

Beberapa studi sudah menjelaskan bahwa semakin sering mengakses media sosial, maka semakin tinggi potensi seseorang mengalami depresi, ketergantungan (adiksi), hingga menjadi penyendiri. Ketika kondisi emosi dan mood seseorang menjadi negatif, maka kemungkinan seseorang menampilkan perilaku negatif di media sosial pun menjadi lebih sering.

2. Perempuan  cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain

Jika anda berselancar di media sosial, maka Anda akan mudah menemukan perempuan menulis status tentang ketidaksukaannya terhadap pilihan perempuan lain.

Misalnya seorang Ibu rumah tangga tidak suka dengan ibu bekerja. Ibu yang melahirkan secara normal, menghakimi Ibu yang melahirkan dengan operasi. Menurut studi psikologi hal ini disebabkan karena perempuan cenderung berkompetisi dan menilai orang lain berdasarkan usia, penampilan, dan karakter perempuan lain.

Jika seorang perempuan melihat orang lain yang memiliki penampilan atau karakteristik yang lebih unggul dibandingkan dengan dirinya, maka perempuan akan cenderung menghakimi orang lain.

Kedua faktor tersebut hanya sebagian dari begitu banyak faktor yang mempengaruhi perilaku online perempuan. Selanjutnya, bagaimana agar kita sebagai perempuan mengatasi kedua faktor tersebut?

A. Membatasi penggunaan media sosial

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa intensitas menggunakan media sosial yang terlalu sering mengakibatkan perempuan rentan mengalami depresi dan gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, biasakanlah membuka media sosial dengan target dan tujuan yang jelas.

Misalnya menargetkan paling lama setengah jam, atau membuat tujuan membuka media sosial untuk mencari informasi yang positif, misalnya tentang cara memasak.

B. Menghakimi orang lain tidak membuat kamu menjadi lebih baik

Menurut studi psikologi, seseorang yang cenderung menghakimi secara negatif orang lain justru sebenarnya memiliki kepercayaan diri yang rendah dan tidak puas dengan hidupnya. Menghakimi orang lain mungkin hanya menimbulkan kepuasan sementara, namun selanjutnya perilaku tersebut tidak membuat anda lebih percaya diri atau lebih bahagia.

C. Meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan berpikir kritis dalam menggunakan media sosial

Kamu sudah tahu sebelumnya bahwa internet dengan sifat anonimnya menggiring kita untuk berperilaku mengusik orang lain. Maka sebelum kamu membuat status atau posting sesuatu, kamu dapat menanyakan ulang kepada diri anda sendiri “Apa risiko dan konsekuensi yang saya dapatkan jika saya posting ini?”.

Jika kamu tahu tulisan yang kamu bagi berpotensi menyakiti perasaan orang lain, hentikan niat untuk membuat status tersebut. Karena di kemudian hari, anda justru lebih rentan menjadi target perilaku negatif dari orang lain yang berikutnya.

D. Meningkatkan literasi media sosial

Dengan meningkatkan literasi media sosial, kita melatih diri untuk memahami bagaimana sebuah konten berita diproduksi sampai dipajang di dinding media sosial, hingga kita tidak mudah terjebak menyebarkan berita bohong. Selain itu, meningkatkan literasi media sosial juga bermanfaat untuk menjaga diri dari curhat berlebihan, karena sekali lagi curhat berlebihan membuat kamu lebih rentan mengalami gunjingan orang lain.

Nah terakhir, ingatlah bahwa kita bertanggung jawab berperan sebagai netizen yang baik. Mari kita coba dari sekarang, menjadi pribadi asyik di media sosial tanpa menyakiti orang lain." 

Oleh:

Nuri Sadida, M. Psi

Dosen dan peneliti di Fakultas Psikologi Universitas YARSI

***

Ladies, ternyata perilaku perempuan yang suka "perang" di media sosial itu berkaitan dengan kondisi psikologi seseorang. Kalau kamu mau tahu lebih lanjut soal pemaparan ini, ikut yuk ke sesi talkshow vemale - at psych! yang dihadiri Pemimpin Redaksi Vemale.com, Amelia Ayu Kinanti, dan psikolog Nuri Sadida.

Acara akan berlangsung di Piazza Gandaria City, Jakarta Selatan, di hari Minggu, 5 Februari 2017 pukul 13.00. We will see you there ya, Ladies...

(vem/zzu/yel)