Suami, Cukuplah Kau Mengkhianatiku, Tak Perlu Juga Kau Mempermalukanku

Fimela diperbarui 22 Jan 2018, 13:52 WIB

Ladies, gemas deh baca soal postingan chat antara seorang perempuan beranak satu dengan selingkuhan suaminya di timeline Facebook. Dari postingan itu terkuak bahwa perempuan ini sebenarnya sudah tahu soal perselingkuhan si WIL (Wanita Idaman Lain) dengan suaminya. Bahkan kini si WIL sedang berbadan dua dan menunggu dinikahi oleh si suami.

Lucunya, chat itu menunjukkan betapa si suami sebagai pelaku perselingkuhan malah berlaku sebagai korban. Dia tak merasa bersalah dan malah menyalahkan orang lain atas kondisinya saat ini --berselingkuh dan menghamili perempuan lain. Dengan begitu, si suami secara tidak langsung mempermalukan sang istri dan menyalahkan pasangannya sebagai penyebab berselingkuh.

Dari kacamata psikologi, apa yang dilakukan sang suami disebut sebagai Self Defence Mechanism (mekanisme pertahanan diri). Bentuknya ada beberapa macam, salah satunya adalah playing victim dengan menyudutkan semua orang dan menyalahkan  kondisi sehingga dia berada dalam situasi berselingkuh.

Demikian dikatakan psikolog dan Relationship Expert, Elizabeth Santosa. Menurut Elizabeth, ada banyak alasan kenapa seorang peselingkuh berperan sebagai korban macam ini. "Ada ego yang terserang maka akan timbul kecemasan; cemas ketahuan, cemas dinilai dan dipersalahkan. Maka tubuh melakukan apa yang disebut Self Defence Mechanism," kata Elizabeth saat berbincang dengan vemale.com, Senin (22/1).

Menilik ke belakang, ada beberapa faktor yang menyebabkan perselingkuhan. Bahkan Elizabeth menyebut bahwa 7 dari 10 pernikahan berakhir dengan perceraian. Perlu diketahui pula bahwa perselingkuhan masuk dalam Major Event hidup seseorang, sama seperti kelahiran dan kematian karena bisa memberi dampak besar.

Faktor pertama perselingkuhan adalah ketidakbahagiaan, sehingga si pelaku mencari bahagia dari sosok lain agar bisa menutupi kekurangan yang ada dari pasangannya. Faktor kedua adalah memang mental si pelaku yang doyan berselingkuh."Mereka bahagia dengan pernikahannya tapi ada godaan dari tempat lain," ujar Elizabeth.

Faktor ketiga adalah soal trauma mendalam di diri si pelaku yang belum pulih benar. Bisa dipicu juga oleh sejarah perselingkuhan orangtua si pelaku sehingga ia merasa benar melakoni ketidaksetiaan pada pasangannya.

Nah, ketika ketahuan berselingkuh di sinilah akan terlihat mekanisme pertahanan diri si pelaku. Apakah dia akan marah? Menangis dan menyalahkan orang lain? Atau cuek saja dan melanjutkan kisah cinta terlarangnya?

"Pelaku yang playing victim dan menyalahkan orang lain ingin agar dimaklumi dan dipahami mengapa ia berselingkuh," tutur Elizabeth yang pernah menyabet gelar Woman of the Year 2015 sebuah situs online.

Lalu bagaimana cara menghadapi sosok yang playing victim macam ini?

Disarankan oleh Elizabeth agar kamu jangan mengambil tindakan dan mengucapkan apa pun ketika si pelaku tengah menjelaskan ketidaksetiaannya di hadapan kamu. Diam saja dulu dan jangan reaktif. Kalau perlu kamu menyendiri dulu dan pikirkan baik-baik semua kejadian yang ada.

"Tubuh dan pikiran kita butuh waktu untuk menyerap, menganalisa, dan melihat semua informasi yang disampaikan. We need a clear mind untuk bisa membuat keputusan," saran Elizabeth.

Akan ada waktunya tubuh dan pikiran kamu akhirnya pulih dari semua goncangan hebat itu. Namun jika ternyata luka itu masih menganga, maka ada baiknya kamu mencari bantuan profesional untuk mendapat bantuan. Be strong Ladies :)

(vem/zzu)
What's On Fimela