Benarkah Antioksidan Efektif Mencegah Penuaan? Ini Kata Ahli

Fimela diperbarui 26 Jan 2018, 17:30 WIB

Jacqui Adcock, Deakin University

Antioksidan tampaknya ada di mana-mana; dalam superfood dan produk perawatan kulit, bahkan cokelat dan anggur merah. Produk-produk yang mengandung antioksidan dipasarkan sebagai sesuatu yang sangat diperlukan bagi kesehatan, dengan janji-janji melawan penyakit dan melawan penuaan.

Namun apakah antioksidan memang sebagus yang kita diminta mempercayainya?

Apakah antioksidan itu?

Istilah antioksidan meliputi cakupan luas molekul (atom-atom yang diikat oleh ikatan kimia) yang melindungi molekul-molekul lain dari sebuah proses kimia yang disebut oksidasi. Oksidasi bisa merusak molekul-molekul vital dalam sel-sel kita, termasuk DNA dan protein, yang bertanggung jawab atas banyak proses tubuh.

Molekul-molekul seperti DNA diperlukan agar sel-sel berfungsi sebagaimana mestinya. Jika terlalu banyak yang rusak, sel bisa mengalami malafungsi atau mati. Inilah sebabnya antioksidan itu penting. Antioksidan bisa mencegah atau mengurangi kerusakan tersebut. Dalam tubuh, oksidasi tak terkendali biasanya disebabkan oleh molekul-molekul sangat reaktif yang disebut radikal bebas.

Apakah oksidasi itu?

Oksidasi adalah sebuah reaksi kimia biasa di mana elektron-elektron dipindahkan dari satu molekul ke molekul lain. Elektron adalah salah satu partikel subatomik (lebih kecil dari sebutir atom) yang menyusun hampir segala sesuatunya. Ketika elektron-elektron bergerak selama sebuah reaksi oksidasi, ikatan-ikatan bisa putus dan struktur molekul berubah.

           

Tidak semua reaksi oksidasi itu buruk. Reaksi-reaksi itu sangat penting bagi kehidupan dan terlibat dalam banyak proses penting. Dalam respirasi seluler, glukosa (zat gula dari makanan yang kita makan) dioksidasi oleh oksigen (dari udara yang kita hirup), menghasilkan karbon dioksida, air dan energi yang menggerakkan tubuh kita. Bahan pemutih rumah tangga mengoksidasi noda-noda berwarna menjadi molekul-molekul tak berwarna.

Reaksi-reaksi oksidasi yang tidak begitu diinginkan meliputi berkaratnya logam dan pembusukan makanan oksidatif.

Apakah radikal bebas itu?

Radikal bebas hanyalah molekul-molekul dengan satu atau beberapa elektron tidak berpasangan. Elekron-elektron suka berpasang-pasangan, sehingga elektron yang tidak berpasangan bisa menghasilkan molekul-molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif. Agar stabil, radikal bebas harus mencuri sebuah elektron dari molekul lain (atau memberikan satu elektron). Ketika sebuah molekul kehilangan sebuah elektron, molekul itu mengalami oksidasi dan menjadi radikal bebas.

Radikal bebas baru ini bisa mencuri elektron dari molekul lain, memulai sebuah rantai reaksi. Proses ini mengubah secara permanen struktur molekul, menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diubah.

           

Tetapi jika sebuah antioksidan hadir, ia bisa menyumbangkan sebuah elektron bagi radikal bebas, menstabilkannya dan menghentikan rantai reaksi. Antioksidan itu mengorbankan dirinya dan ia—bukannya molekul lain—mengalami oksidasi, menjadi sebuah radikal bebas.

Tetapi tidak seperti kebanyakan molekul, antioksidan mampu  menstabilkan elektron tidak berpasangan dan tidak menjadi sangat reaktif. Proses ini menonaktifkan antioksidan.

           

 Radikal bebas tidak selalu buruk untuk Anda. Sifat sangat reaktif dan destruktifnya digunakan oleh sistem kekebalan tubuh. Sel-sel darah putih tertentu, disebut fagosit, bisa menelan partikel-partikel asing, seperti bakteri, lalu mengisolasinya dan melepaskan radikal bebas untuk menghancurkannya.

Radikal bebas dimunculkan secara alamiah oleh tubuh kita, tetapi bisa ditambah oleh faktor-faktor gaya hidup seperti stres, pola makan buruk, polusi, merokok dan alkohol. Tubuh kita bisa menangani beberapa radikal bebas, tetapi jika terlalu banyak yang terbentuk hal itu bisa menjebol pertahanan normal tubuh.

Daya rusak radikal bebas dianggap merupakan salah satu sebab penuaan dan berkontribusi bagi berbagai macam penyakit. Misalnya, daya rusak radikal bebas terhadap DNA bisa menyebabkan mutasi genetis dan meningkatkan kanker.

Tidak semua antioksidan sama

Sehingga, jika radikal bebas berbahaya dan menyebabkan penuaan serta penyakit, dan antioksidan bisa menetralkan radikal bebas, maka mendapatkan lebih banyak antioksidan akan bagus bagi Anda, bukan?

Sayang sekali persoalannya tidak sesederhana itu. Betul, tingkat antioksidan yang tinggi dan stres oksidatif yang rendah terkait dengan kesehatan yang baik, tetapi tidak semua antioksidan sama.

Antioksidan berasal dari banyak sumber. Sebagian diproduksi secara alami dalam tubuh dan sebagian lagi muncul secara alami dalam makanan yang kita makan. Antioksidan (alami atau sintetis) bisa juga ditambahkan ke dalam makanan yang normalnya tidak mengandung antioksidan, baik karena (dugaan) nilai kesehatannya maupun untuk mengawetkan makanan (antioksidan juga mencegah oksidasi dalam makanan).

Makanan sehat adalah cara paling efektif untuk mendapatkan antioksidan bagi tubuh Anda. Buah-buahan, sayuran, biji-bijian, telur dan kacang adalah sumber-sumber yang berguna antioksidan. Di luar gegap gempita pemasaran, antioksidan yang terdapat dalam apa yang disebut superfood sebetulnya tidak lebih efektif dari yang terkandung dalam buah-buahan dan sayuran reguler, jadi lebih baik Anda menghemat uang.

Tapi lain ceritanya ketika yang menjadi soal adalah suplemen antioksidan. Penelitian mendapati bahwa suplemen antioksidan bisa lebih merugikan daripada menguntungkan. Sebuah meta analisis 2012 atas lebih dari 70 percobaan mendapati suplemen antioksidan tidak efektif atau bahkan membahayakan kesehatan. Alasannya tidak jelas, tetapi manfaat nutrisi tambahan dari mengonsumsi antioksidan dalam makanan sehat tampaknya memberikan kontribusi. Di samping itu, konsentrasi tinggi antioksidan terkait suplemen bisa menimbulkan persoalan.

Berlebih-lebihan itu tidak baik

Ada sejumlah alasan mengapa konsentrasi tinggi bisa jadi merugikan.

Pada konsentrasi tinggi, antioksidan bisa:

 

  • bertindak sebagai pro-oksidan, meningkatkan oksidasi

 

 

  • melindungi sel-sel berbahaya (seperti sel-sel kanker) maupun sel-sel sehat

 

 

  • mengurangi manfaat kesehatan olahraga

 

 

  • memiliki efek samping yang tidak diinginkan, seperti mual dan sakit kepala, atau bahkan mencapai tingkat beracun.

 

 

Tidak ada pil ajaib, tetapi makanan yang sehat bisa memberi Anda semua antioksidan yang Anda perlukan untuk melawan daya rusak radikal bebas.

Jacqui Adcock, Research Fellow in Analytical Chemistry, Deakin University

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

(vem/kee)
What's On Fimela