Putriku, Demi #JagainKamu Ibu Rela Melakukan Pengorbanan Ini

Fimela diperbarui 30 Jun 2018, 14:30 WIB

Kadang dalam hidup ini, perempuan punya peran istimewa sebagai seorang penjaga. Meski kadang ujian hidup begitu berat tapi seorang perempuan bisa begitu tangguh menjalaninya. Seperti kisah sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #JagainKamu ini. Ada cerita yang begitu menyentuh hati di dalamnya. Lomba menulis kali ini dipersembahkan oleh Softex Daun Sirih, yang selalu #JagainKamu para perempuan Indonesia.

***

Masih terekam jelas di ingatanku. Hari itu, 5 tahun yang lalu seorang bayi perempuan ditelungkupkan di dadaku. Badannya begitu rapuh dan mungil. Kulitnya merah dan berkeriput, khas kulit bayi baru lahir. Tertatih-tatih ia berusaha 'merayap' dan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah asing di hadapannya, meski lehernya belum kuat untuk itu. Lalu saat matanya bertemu dengan mataku, dan saat tangan mungilnya menggenggam erat jemari tanganku, ada gejolak perasaan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Tangis haruku pecah, bercampur dengan tawa bahagia. Karena setelah lama menanti, akhirnya aku bertemu dengan malaikat kecil yang telah menghuni rahimku hingga 9 bulan lamanya.

Ini Kirana putriku. Anak sulungku. Buah hatiku.



Saat itu, segala ambisiku runtuh satu persatu. Salah satunya, tak ada lagi keinginan yang menggebu-gebu untuk menjadi wanita karier sukses seperti yang diharapkan oleh kedua orangtuaku. Inginku hanya satu, menjadi sebaik-baik ibu untuk putriku, agar ia tumbuh dengan bahagia, sehat, dan kuat.

Sebuah dilema
Sejak mengandung Kirana, aku sudah berpikir matang-matang untuk melepas pekerjaanku saat ia lahir nanti. Keputusan ini mendapat dukungan penuh dari suami. Namun sedikit goyah karena kedua orangtuaku sedikit menyayangkan. Setelah menyekolahkan hingga jenjang perguruan tinggi, mana mungkin mereka rela melihatku berakhir menjadi seorang ibu rumah tangga saja.



Dilema melanda. Di satu sisi aku ingin membahagiakan kedua orangtua. Namun di sisi lain aku juga tidak rela melihat anakku diasuh oleh pembantu. Andai saja ada keluarga dekat yang bisa dipercaya untuk membantu mengawasi Kirana saat aku bekerja, mungkin aku akan mempertahankan pekerjaan ini. Namun kenyataannya, aku dan suami hidup merantau, jauh dari sanak saudara.

Setelah merenung, aku meyakinkan diri bahwa kesuksesan duniawi tidak bisa diukur hanya dari tingkat pekerjaan dan banyaknya materi yang terkumpul. Tak apa mengorbankan sedikit waktu untuk fokus menjaga anak-anak di masa tumbuh kembang mereka. Karena akan ada masanya ketika anak-anak nanti dewasa, mandiri dan mulai sibuk dengan dunia mereka sendiri. Saat itu mungkin aku tidak bisa lagi menjadi wanita karier, namun aku bisa berkarya dalam hal lain dan merajut mimpi-mimpi yang sempat tertunda.

Lagipula aku tahu betul rasanya tumbuh besar dengan kedua orangtua yang sibuk bekerja. Meskipun semua kebutuhan terpenuhi dan tak pernah kekurangan materi, tetap saja ada ruang dan dimensi yang tidak terisi ketika orangtua sibuk bekerja. Dan aku tidak ingin anak-anakku merasakan hal yang sama. Alasan inilah yang akhirnya membulatkan tekadku untuk menjadi ibu rumah tangga.

Inilah pilihanku, menjadi penjaga untuk putri kecilku.



Ketika konsistensi diuji
Menjadi ibu rumah tangga ternyata tak seindah yang dibayangkan. Sebelumnya aku punya kehidupan yang begitu dinamis. Pekerjaan sebagai seorang engineer menuntutku untuk berpindah dari workplace satu ke workplace yang lain, serta bertemu dengan banyak orang. Dan kini aku harus berurusan dengan sapu, pel, popok bayi, serta tersandera bersama seorang bayi selama 24/7. Bisakah kau bayangkan jungkir baliknya kehidupanku saat itu?

Ada saat-saat di mana aku sedikit frustasi menjalani hari-hari sebagai ibu rumah tangga. Rasanya begitu monoton dan melelahkan. Pekerjaan ini tak berbayar, dan seluruh waktuku seolah-olah habis untuk mengurus banyak hal dengan mengabaikan kepentinganku sendiri.

Akal sehatku berkata, kenapa harus mengeluh? Keputusan ini aku sendiri yang mengambilnya tanpa paksaan dari siapapun.

Namun lagi-lagi rasa jenuh menghampiri. Di linimasa media sosial terkadang berseliweran foto-foto teman dengan pencapaian kariernya masing-masing. Dan aku sedikit iri. Yang sedikit menyesakkan adalah ketika melihat foto rombongan rekan-rekan satu departemenku yang bertandang ke negeri sakura untuk training selama setahun.




(vem/nda)