Meski Tak Mudah Menjadi Wanita, Masih Banyak yang Bisa Disyukuri

Fimela diperbarui 04 Jul 2018, 11:15 WIB

Menjadi seorang wanita tentunya tidak terlepas dari setiap hal yang harus dijaga dan tentunya menjadi tanggung jawab pribadi. Meskipun memang, setiap manusia tidak terlepas dari kodratnya sebagai manusia yang hakikatnya mempunyai peranan dan tanggung jawabnya masing-masing. Bagiku, tanggung jawab sebagai wanita itu berat, tapi bukan berarti menjadikan diri tidak berusaha untuk memenuhi tanggung jawabnya.

Aku adalah seorang anak perempuan ketiga dari empat bersaudara. Kedua kakakku telah menikah dan membangun rumah tangga, pun membina dan memenuhi tanggung jawab mereka masing-masing sesuai dengan perannya saat ini. Adikku masih usia belia, baru saja akan menuju jenjang sekolah menengah pertama. Tentunya, aku masih mengenyam pendidikan di salah satu universitas Islam negeri di Jakarta. Menjadi anak rantau, ya, sebab kampungku adalah di Kota Kembang.

Ternyata bukan hal mudah menjadi seorang wanita yang pandai. Pandai? Ya, pandai dalam menjaga setiap hal yang dipunya dan pandai dalam menjalankan tanggung jawab sesuai peran. Sebagai seorang anak wanita, alamiahnya aku harus berperilaku selayaknya wanita. Jaga sopan santun, jaga perkataan, jaga sikap. Jangan sampai, perawakan wanita, tapi penampilan dan pembawaanku tidak wanita banget. Jangan sampai penampilanku wanita, tapi perkataanku kasar, tidak mencerminkan bahwa diri adalah seorang wanita.

Berdampingan dengan itu, sebagai seorang muslimah, wanita muslim, aku harus bisa menjaga muruahku. Meskipun memang sejatinya, muruah itu harus dijaga oleh siapapun. Entah itu laki-laki atau pun perempuan. Maknanya, muruah itu bisa dikatakan sebagai harga diri. Muruah merupakan keistimewaan yang mengiringi setiap pribadi seseorang. Dan sepantasnya muruah itu dijaga, bukan hanya dijaga, tapi juga dibina. Dibina agar muruah itu bisa memunculkan kepribadian yang baik. Tentu untuk membinanya perlu kerjasama, kerjasama antara pribadi dan lingkungan.

Dari segi penampilan, aku harus bisa menjaga penampilanku. Penampilan pun tidak bisa asal disandarkan pada mode fashion atau tren fashion yang sedang hits pada zamannya lantas aku ikut-ikutan. Bagiku, menjadi wanita pandai, aku harus bisa menjaga penampilan agar naluri wanitaku terpancar alamiah. Menuruti tren fashion, tentu boleh, dan terkadang aku pun melakukannya, tapi kembali lagi kepada bagaimana semestinya dan senyamannya aku berpenampilan. Menutup aurat, seperti tuntunan syariat sebagai muslimah, dan berpenampilan sederhana. Tidak berlebih-lebihan apalagi jika harus memaksakan penampilan untuk menghilangkan gengsi agar tidak dibilang ketinggalan zaman. Tentu tidak perlu jika harus sampai seperti itu.

Masih dalam penampilan, wanita itu selalu diidentikan dengan cantik. Cantik itu memang relatif. Tidak ada batasan sampai di mana wanita itu dikatakan cantik. Karena setiap kepala, mempunyai versi cantiknya masing-masing. Tentunya, sebagai seorang wanita, cantik itu tidak boleh lepas. Aku pun harus menjaga diri agar tetap cantik. Tapi menjaga cantik versiku bukan berarti aku harus berdandan ria dan memakai pakaian yang ciamik, tidak! Aku harus menjaga kecantikanku dengan kecantikan hatiku. Bagiku, kecantikan hati itulah yang akan menuntunku pada kecantikan yang seutuhnya. Dengan begitu, aku harus menjaga dan terus mempercantik hatiku. Dengan berbuat baik, hindari amarah dan dendam, bersikap lemah lembut namun tegas, menghargai orang lain, dan tentunya berbakti pada orang tua.

Berbicara soal poin berbakti pada orang tua, sebagai seorang wanita dan belum menikah, tentunya aku masih menjadi tanggung jawab orangtuaku sebelum akhirnya nanti aku menikah, dan suamikulah yang bertanggung jawab atas diriku nantinya. Posisiku sebagai anak wanita, aku harus bisa bermain peran sesuai dengan perananku. Karena aku masih menjadi seorang anak, tentu fokusku adalah untuk orang tuaku. Aku masih harus menjaga peran dan tanggung jawabku selayaknya seorang anak yang sudah sepantasnya menghormati dan berbakti pada mereka. Menyayanginya, mencintainya, dan berusaha untuk tidak membantah apapun kebaikan-kebaikan yang diperintahnya. Karena ridho orang tua adalah ridhonya Tuhan, Allah SWT.

Menjadi anak rantau pun, yang menjadikan aku terjauh dari orangtua dan akhirnya waktu untuk bersama orang tua terbatas, itu menjadikan aku harus menjaga lebih dalam tanggung jawab dan peran-peranku. Di tanah rantau, aku harus bisa menjaga diriku, perilakuku, dan tentunya mengenyam studi dengan baik dan bersungguh-sungguh. Agar aku bisa pulang dengan membawa kebanggaan untuk orangtua dan kampung halamanku.

Kebanyakan orang dulu bilang, “Sebagai seorang wanita, untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh ujungnya ke dapur, bangun rumah tangga, urus suami dan anak.” Meskipun pemikiran zaman sekarang sudah jarang dengan pemikiran seperti itu, tapi sebetulnya memang benar. Apapun gelar seorang wanita, selama apapun pendidikannya, kodratnya adalah untuk mengurus suami dan anak. Tapi pendidikan pun penting dienyam oleh wanita. Pendidikan menjadi penting, karena akan menjadi bekal seorang wanita dalam mengurusi rumah tangganya nanti.

Wanita itu adalah seorang pemimpin rumah, rumah tanpa wanita, bagaimana jadinya? Wanita adalah pemegang dan pengendali dunia. Wanita juga adalah sumber kehidupan. Kehidupan berlanjut jika wanita mampu melanjutkan rantai kehidupan. Dengan begitu, wanita harus menjaga dirinya, menjaga secara lahir maupun batinnya. Secara fisik maupun non-fisik.

Lagu lama bilang, “Wanita racun dunia." Memang, wanita menjadi racun yang mematikan untuk dunia. Seorang anak, yang menjadi rantai kehidupan, dilahirkan oleh seorang wanita. Dan baik buruknya rantai kehidupan (anak) adalah sepandai mana seorang wanita yang melahirkannya itu mendidiknya. Seorang suami, suksesnya tergantung seberapa pandai istrinya dalam menjaga hubungan, semangat dan emosinya untuk tetap mendukung dan mendampingi. Orangtua yang memiliki anak perempuan, harkat dan martabatnya tergantung seberapa pandai anak perempuannya itu dalam menjaga dirinya. Jika anak perempuannya bisa menjaga diri, martabatnya terselamatkan.

Seutuhnya, banyak sekali yang harus dijaga oleh diri sebagai seorang wanita agar bisa menjadi wanita yang pandai. Aku sangat bersyukur dilahirkan menjadi seorang perempuan. Meskipun, diciptakan dalam bentuk apapun, sudah sepantasnya kita harus tetap bersyukur. Bagaimanapun keadaannya, harus tetap menjaga tanggung jawab yang dipunya dan peran yang dimainkan sesuai dengan peranannya masing. Kita harus pandai menjaga kita. Kamu harus pandai #jagainkamu sendiri. Sebab hakikatnya, manusia ada karena menjaga. Dan penjagaan yang baik, yang akan membawa kita pada kehidupan dan dunia yang baik pula.

(vem/nda)