Untuk Pengorbanan Seorang Ibu, Hanya Surga yang Bisa Jadi Balasannya

Fimela diperbarui 09 Agu 2018, 19:30 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Kalau mendengar kata “ibu” memang tidak akan habis jemari ini untuk selalu mengungkapkan. Sedikit bercerita tentang sosok ibuku, wanita yang kini berusia 49 tahun, tubuhnya yang gemuk dan pelukan hangatnya yang membuat aku selalu ingin bermanja. Wanita yang sangat sempurna bagiku, bagi kakakku dan juga ayahku. Tepat 7 atau 8 tahun yang lalu, aku sedikit lupa, waktu itu aku duduk di kelas 2 SMP dan saat ini aku telah menjadi mahasiswi semester 7.

8 tahun lalu ada kabar yang mengejutkan bagi keluargaku. Aku masih ingat ketika ibu memanggilku untuk duduk di ruangan yang biasa untuk menonton TV, kakakku berada di sampingku dan kedua orangtuaku berhadapan dengan kami.

Saat itu, ayahku yang membuka suara terlebih dahulu, ia berkata dengan sedikit ragu, “Kalian akan punya adik.” Aku kaget bukan main, senang namun bingung karena aku yang sudah SMP dan kakakku saat itu sudah kuliah kami memikirkan jarak umur yang pastinya sangat jauh.

Setelah mendengar kabar tersebut, seperti biasa kakakku sedikit memberi candaan, “Papah udah tua masih tokcer juga ya.” Sedikit kurang ajar, namun bagitulah kakakku, ayah dan ibu hanya  tersenyum malu. Beberapa saat kami semua terdiam, sampai ibuku menyampaikan sesuatu yang membuat kami kehilangan senyum, ibuku berkata, “Di umur ibu yang sudah 40 tahun, apa kuat buat melahirkan? Di tambah punya darah tinggi.Sebenarnya dokter menyarankan untuk digugurkan,untuk keselamatan. Bagaimana?”

Aku terdiam, semua terdiam. Ibuku ingin mempertahankan. Saat itu kami semua mendukung ibu supaya tetap mempertahankan adik. Dan ya ibuku senang, pada akhirnya ibuku menjadi wanita hamil kembali.

Semakin  besar usia kandungan, semakin besar pula risiko yang diderita ibuku. Bahkan hampir setiap usia kehamilan tersebut, ibu selalu harus kontrol ke rumah sakit. Tensi darahnya yang selalu naik. Aku lupa, yang jelas mencapai 200. Namun ibuku hebat, dan kuat. Ia masih bisa mempertahankan adikku, ditambah dengan kesibukannya yang harus masak karena ibu mempunyai usaha catering sederhana.

Puncak kesedihanku adalah saat usia kehamilan ibuku memasuki bulan ke-8. Aku ingat sekali, aku pulang sekolah sore hari, ibu dan kakakku pamit untuk kontrol ke rumah sakit, saat itu ayah sedang bekerja jadi tidak bisa untuk mengantar ibu. Aku berdua dengan omku, tiba-tiba kakakku menelepon, dan menyuruhku untuk mengemas baju, celana dan dompet serta peralatan penting untuk ibu.

Aku bertanya, “Apa ibu sudah mau melahirkan?” Kakakku hanya bilang agar aku cepat datang, karena ibu harus di rawat. Aku takut, saat itu aku menangis, lalu omku mengantarku dengan sepeda motor.

Ternyata ibu berada dalam ruangan ICU, aku panik, gemetar dan menahan untuk tidak menangis demi ibu. Pintu ICU kubuka, hancur sudah saat aku melihat ibuku terbaring lemah, Di tangannya sudah tertancap semacam infus dengan cairan yang aku tidak tahu apa itu, lalu di perut ibu di tempel dua kabel dan aku juga tidak tahu untuk apa itu.

Sebisa mungkin aku tidak mau menangis, aku sempat bertanya kenapa ibu harus seperti itu, ternyata tubuh ibu tidak kuat, tensi darahnya sangat tinggi, begitu pula jantung adikku yang ternyata lemah.

Ibu meyakinkan aku bahwa ia baik-baik saja, dan tersenyum menyuruh aku berdoa dan menunggu di luar saja. Ya, aku keluar dan tak henti berdoa di depan ruang tunggu. Singkat cerita, malam hari adik laki-lakiku lahir, kenyatan itu membuat aku lega, ibu dan adikku semua selamat. Setelah beberapa hari, ibu dibolehkan pulang, namun adikku tidak, karena ia harus di inkubator saat itu dan juga tubuh serta matanya sedikit menguning. Sekitar 3 atau 4 hari  adik di rawat. Setelah itu ia diperbolehkan pulang.

Senang sekali rasanya, ada suara tangisan bayi, bau bayi. Aku selalu berada di dekat adik kecilku. Namun kebahagiaan itu tidak lama, sekitar seminggu pasca adik lahir, kami sekeluarga mengadakan pengajian disebut sebagai “salapanan” di mana syukuran adik telah mencapai satu bulan dan memperkenalkan nama adik.

Pengajian diadakan pada siang hari oleh bapak-bapak di sekitar rumahku. Semua berkumpul baik keluarga juga tetanggaku. Tradisi memotong rambut juga dilaksanakan. Serangkaian acara tersebut lancar dilaksanakan, pada sore hari semua keluarga pamit untuk pulang, namun om dan tanteku memutuskan untuk pulang nanti-nanti saja.

Adikku yang saat itu sedang flu, dadanya sesak, karena terlihat dari cepatnya naik-turun dada adikku. Sesak yang dirasakan adikku yang masih satu bulan tidak kunjung berhenti, kami semua panik. Aku yang pertama kali dalam hidup melihat ayah lemah menangis ketakutan seperti firasat tidak baik akan datang. Ayah dan ibu memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

Kami semua menangis di dalam mobil, sampai tiba di rumah sakit, adik beserta ibu yang menggendong dilarikan ke ICU. Kami semua diperbolehkan masuk, aku melihat, adik kecilku harus dipacu jantungnya dengan alat. Dan semua harus kehilangan, ketika dokter menyatakan adik kecilku telah tiada.

Kisah ini tentu membuatku tersadar akan perjuangan ibuku, sampai saat ini aku tak kuasa menangis mengingat betapa sakit yang diderita ibuku, mengandung dengan keadaan sudah berumur, minum obat yang tidak ada habisnya untuk memperkuat jantung adik, sampai kehilangan adikku yang dengan ikhlas dan sekuat jiwa raga ia pertahankan. Karena itu, ibuku selalu menjadi pahlawan bagiku, #PENGORBANANMU hanya surga yang bisa membalas. Aku akan mengingat ini sebagai pembelajaran, dan rasa hormat juga kasih sayangku untuk berusaha membahagiakanmu.

                                     

(vem/nda)