Waktu dan Tenaga yang Dikorbankan untuk Kebaikan Pasti Diganjar Keberkahan

Fimela diperbarui 13 Agu 2018, 17:00 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Sepertinya semua orang juga tahu kalau pekerjaan ibu rumah tangga tidak ada batasan jam kerja juga tidak ada cuti. Rasa lelah baik fisik maupun psikis tidak dapat dihindari. Namun menjadi ibu rumah tangga adalah kebahagiaan yang tidak tergantikan. Begitulah kehidupan saya saat ini sebagai ibu rumah tangga dengan empat anak laki-laki.

Sejak sebelum menikah, saya sudah berkeinginan untuk tidak bekerja di luar kelak ketika memiliki anak.  Kalaupun ada tawaran melanjutkan karier maka akan saya terima setelah anak-anak sudah cukup besar, mungkin seusia SMP.



Seusai menikah saya ikut suami tinggal di sebuah desa. Sebenarnya lokasi desa tersebut tidak begitu jauh dari ibu kota provinsi. Namun tingkat pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan masih rendah. Angka putus sekolah cukup tinggi. Mayoritas anak-anak desa hanya mengenyam pendidikan formal sebatas SD. Ada rasa terpanggil untuk saya berbuat sesuatu. Sebuah 'desakan' yang akhirnya meminta pengorbanan waktu dan tenaga saya.

Karena masih menumpang di rumah mertua, saya terbatas mengajari beberapa orang anak tetangga pelajaran sekolah. Alhamdulillah di tahun keempat menikah, setelah memiliki rumah sendiri, saya dan suami mulai membuka Rumah Baca Al-Ghazi dan Taman Pendidikan Al-Qur'an Al-Ghaza.

Sejak saat itu rumah kami nyaris tidak pernah sepi. Setahun kemudian berdiri pula TKIT Qudwah di samping rumah dengan dana pembangunan gedung berasal dari patungan keluarga besar. Semua kami mulai dari awal. Kebetulan suami berlatar belakang sarjana pendidikan hingga makin mantaplah mewujudkan cita-cita bersama. Atas dasar keinginan untuk membuka akses pendidikan bagi warga desa kami. Juga membuka wawasan masyarakat bahwa pendidikan juga penting bagi anak-anak desa.



Kini sudah ada tiga orang guru yang membantu, namun sebagai kepala sekolah saya tetap turun langsung mendidik dan mengajari para siswa dan santri. Mengurus rumah, mengurus sekolah, mengasuh anak sendiri serta mengajar puluhan anak orang lain telah menjadi hari-hari saya.

Sesekali di waktu malam, saya merasa lemas sekujur tubuh. Seolah tidak ada tenaga meski hanya untuk membalikkan badan saat telah berbaring. Dengan mata yang dipejamkan, saya tetap menjalankan tugas sebagai ibu. Menyusui kedua bayi saya. "Semoga lelah ini diberkahi Allah serta membawa manfaat bagi banyak orang," doa saya menjelang terlelap.

Sungai Rengit, 12 Agustus 2018




(vem/nda)
What's On Fimela