Sukses

Lifestyle

Pendamping di Awal Perjuangan, Belum Tentu Berakhir di Pelaminan

Mengorbankan perasaan demi kebaikan bersama? Pastinya akan teras berat sekali ya. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Membuat sebuah pengorbanan demi orang tercinta jelas bukan hal yang mudah.

***

Seperti kebanyakan orang yang berbicara bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Tapi nyatanya hasil akhir bukanlah kita yeng menentukan, kita hanya bisa melakukan usaha sekuat semampu kita. Tetap Sang Maha Pencipta lah yang menentukan akhir dari perjuangan itu. Termasuk pula mengenai hidup dengan seseorang yang sangat kita cintai. Menjadi bagian hidupnya merupakan kebahagiaan yang sangat besar maknanya.

Tepat satu tahun lalu aku dan dirinya masih bersama, menjalin hubungan yang sangat bahagia. Walaupun dengan keadaan yang cukup sulit. Meski kami tahu, menjalin hubungan pada masa sekolah berat risikonya dan mungkin kebanyakan orang berpikir itu hanya cinta monyet saja yang akan berakhir hanya dalam hitungan bulan. Namun, tidak dengan hubungan kami aku dan dirinya sadar bahwa menjalani hubungan pada masa sekolah butuh sebuah perjuangan, pengorbanan serta pengertian antara masing–masing pasangan.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ba phi

Ya, tidak seperti pasangan lainnya yang dapat bersama di setiap akhir pekan, namun kami hanya bisa bersama ketika di sekolah saja. Waktu yang dilalui di sekolah sangat berharga bagiku. Karena penyemangatku dalam belajar selalu ada di dekatku.

Kami menyadari bahwa hubungan kami harus memberikan dampak positif, akhirnya setiap kami bersama kami selalu membawa buku untuk belajar bersama. Dari segi keuangan pun memang tak mudah ketika aku harus sadar bahwa dia bukanlah seorang karyawan yang bisa memberiku ini dan itu semauku, termasuk dalam hal menraktir makanan. Tidak seperti kebanyakan pasangan lainnya yang selalu menjadikan ratu pasangan wanitanya.

Kami memilih jalan yang berbeda dengan menciptakan hal romantis namun sewajarnya, setiap istirahat kami selalu membagi bekal makanan masing–masing yang kami bawa  dari rumah. Meski terkadang dia selalu memberikan hal kecil yang membuat diriku spesial, ya walaupun hanya minuman dingin yang ia beli dan kami minum berdua. Tapi selalu ada kata–kata manis setelah itu, yang membuat hubungan ini kuat.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ba phi

Ia selalu berkata, “Maaf ya aku nggak bisa traktir kamu, namanya anak SMA masih belajar. Nanti kalau kita udah lulus aku bakal nraktir kamu sepuasnya kalau aku udah kerja, hehehe.” Aku pun selalu membalas dengan sebuah kata semangat, “Udah nggak apa-apa, sekarang kita fokus aja dulu belajar nanti kalau lulus biar bisa masuk kuliah terus kerja enak deh." Selalu sepanjang perjalanan dihiasi dengan tawa bahagia kami berdua. Dalam benakku, aku hanya ingin kami berjuang bersama meraih kesuksesan bersama.

Pernah aku berpikir, apakah nanti jika kami sudah sukses dia benar-benar akan terus bersamaku? Jika sudah lulus apakah hubungan ini akan berakhir? Apakan ia akan mengingatku? Atau malah membuangku? Entahlah aku hanya percaya bahwa perjuanganku tak akan mengkhianati diriku sendiri.

Ternyata visiku itu mampu membawa hubungan ini menuju akhir sekolah, aku kira ini akan berakhir. Namun rupanya tidak. Kami masih menjalin hubungan dengan baik meski terbentang pulau yang berbeda. Ya, kami diterima di universitas yang berbeda, dia berada di pulau Sumatera dan aku pulau Jawa. Jarak memisahkan namun aku percaya kami memandang langit yang sama.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ba phi

Beberapa bulan berlalu, awalnya komunikasi berjalan intens, namun sekarang tidak seintens dulu bahkan jarang. Melihat semua itu aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Dengan harapan semoga kami bisa sama-sama dewasa dan memilih apa yang kami mau, memikirkan kembali apakah hubungan jarak jauh ini benar–benar bisa berlanjut atau tidak. Aku pun menyerah pada perjuanganku sendiri.

Hari-hari sunyi kulalui tanpa hiasan dirimu. Sesuatu yang kubangun dari nol kulepaskan oleh tanganku sendiri. Harapan yang dulu membara, kini sirna ditelan oleh kenyataan tentang sebuah jarak. Kulewati hari–hariku dengan sebuah rasa sakit teramat dalam. Rindu yang tak bisa kusampaikan. Terlebih  aku sama sekali tak bisa berhubungan denganmu, meski hanya untuk melihat kegiatanmu di media sosial.

Mungkin itu bentuk kemarahanmu, hingga semua akun yang kupunya di-block. Tak apa itu hakmu. Satu semester kuliah aku lalui dengan penuh rasa sesak di dada. Mencoba menghibur diriku di keramaian, namun sepertinya hal itu sia–sia.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ba phi

Bagai angin segar yang dapat kuhirup, kamu datang menghubungiku. Sungguh aku tak percaya, ketika kamu benar-benar memberikan waktu sehariku bersamamu. Awalnya aku kira kamu hanya ingin sekadar bertegur sapa denganku. Namun itu lebih, seharian kita lalui bersama. Seperti air yang mengalir aku ikut terhanyut dalam arusnya. Tak ingin  melewati hari yang berharga, terlebih ada sebongkah rasa rindu yang perlu diselesaikan.

Ironi memang ketika aku mulai berhenti memperjuangkanmu, kamu datang merealisasikan kata-katamu di masa lalu. Kata–kata yang selalu jadi pemenang saat bersamaku. Hari itu kamu hanya bercerita, bahwa kamu rindu kepadaku.

Jawaban dari semua hilangnya kabar kepadaku, karena ia terlalu sibuk bekerja part timesambil kuliah, dan sebuah kata yang pernah kamu ucapkan kini terealisasikan. Kamu membahagiakan diriku, memberikan sesuatu lewat jerih payahmu sendiri. Rasanya aneh, namun bukan barang yang kumau pada hari itu. Tapi waktu bersamamu.

Di awal tahun 2018 lalu menjadi saksi tentang kebahagiaanku dan sebuah keputusan yang kuambil. Di umurku yang semakin dewasa ini, aku semakin berpikir bahwa hubungan kami akan berakhir dengan kesia-siaan. Bukan aku tak percaya dengan perjuanganmu, dan keseriusan untuk menjalin hubungan ini lagi. Tapi, aku tak mau jika suatu saat kita benar–benar bersama untuk selamanya. Namun harus mengeluarkan setetes air mata entah itu air mata bahagia atau air mata ketidakrelaan.

Aku hanya terpikir bagaimana akhir dari perjuangan cinta beda keyakinan ini. Aku tahu kami sama–sama saling mencintai, namun bagaimana dengan cinta yang lain?

Akan ada air mata kesedihan ibu yang akan tumpah berjatuhan, terlebih karena siapa yang rela ketika melihat seorang anaknya berpindah keyakinan. Ini bukan tentang stigma banyak orang, yang membicarakan pernikahan beda keyakinan hal lumrah untuk dilakukan. Tapi ini tentang bagaimana ke depannya, aku tahu ada sosok yang sangat kita cintai menyimpan harapan lebih kepada diri kita masing–masing. Yaitu ibu kita sendiri. Kamu yang sangat patuh dengan ibumu pasti tak ingin air matanya jatuh hanya karena memilih diriku dan ikut dengan keyakinanku. Begitu pun diriku, sama seperti itu.

Mungkin dulu aku tak pernah terbayangkan jika rasa ini tumbuh begitu kuat, hingga mengakar ke dalam jiwa. Cara satu–satunya yang bisa kuperjuangkan hanya degan melepaskanmu. Benar–benar melepaskanmu, jujur ini menyiksaku sangat menyiksaku. Tapi kita tak mungkin terus berada dalam zona hubungan ini.

Aku yang melepaskanmu dan berserah pada takdir yang akan terjadi pada kita berdua. Aku tak tahu apakah takdir itu memihak atau kita atau tidak! Aku tak tahu apakah kita akan menjadi pasangan di pelaminan seperti mimpi kita atau tidak! Aku tak tahu apakah aku bisa membangun rumah tangga bersamamu.

Maafkan aku yang lebih menyerahkan semuanya pada takdir karena aku tahu meski keyakinan kita berbeda namun Tuhan kita sama. Meski belum tentu kita akan berakhir di pelaminan, namun aku tak pernah menyesal aku pernah menjadi pendamping perjuanganmu.

Pengorbanan terbesarku adalah ketika aku menyerahkan semuanya pada takdir dan lebih memilih berhenti berjuang, namun aku percaya semua tidak akan sia–sia. Meski aku hanya bisa menjadi pendamping perjuanganmu saja, bukan akhir dari pencarianmu.

 

Nantinya akan selalu ada akhir yang bahagia dari setiap kisah hidup seseorang. Mungkin ini pengorbanan terberat dalam hidupku, tapi percayalah langkah ini kuambil agar kamu dapat bahagia lebih cepat meski bukan dengan diriku.

Untukmu yang mungkin membaca kisah kita ini, aku masih bergelut dengan takdir mencoba merayu kepada Tuhan semoga kita berdua bisa benar–benar bersama dengan cara-Nya. Sampai saat ini aku belum berhenti berjuang, meski hanya lewat doa.

(vem/nda)
What's On Fimela
Loading