Pernikahan Juga Menyatukan Dua Keluarga, Bukan Dua Insan Semata

Endah Wijayanti diperbarui 13 Jul 2019, 10:43 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Jihan - Jakarta

Menikah adalah satu kata yang sedang naik daun di dua tahun terakhir ini di hidup saya. Memasuki usia yang hampir kepala tiga, pertanyaan kapan menikah selalu jadi santapan saya sehari-hari. Mulai dari keluarga, teman kantor, dan bahkan teman-teman orangtua saya. Pertanyaan itu selalu saya hadapi dengan senyuman, minta doa ataupun dengan bercanda, "Memang ada yang mau dikenalin ke saya?" Saya selalu berprinsip menikah adalah menyatukan sepasang manusia dan juga keluarga. Jadi bukan ajang untuk bersaing menikah karena batas usia maupun karena gengsi lantaran teman lain sudah menikah.

Sampai suatu ketika, saya bertemu dengan pria sederhana dan ternyata pria itulah yang mampu menggerakan hati saya untuk menikah. Beda usia kami yang cukup jauh tidak menghalangi kami untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Dan mulailah pembicaraan tentang konsep pernikahan muncul. Untunglah kami berdua sepaham dalam mengadakan acara pernikahan, hanya mengundang keluarga kami dan teman dekat dan juga dengan jamuan sederhana dan tidak ada pesta besar.

 

2 dari 2 halaman

Restu Orang Tua Juga Penting

Ilustrasi./Copyright pexels.com/@dariaobymaha

Keinginan kami menikah secara sederhana ini terganjal saat kami menyampaikan konsep pernikahan kami ke keluarga. Mereka menganggap cara kami terlalu kekinian dan akan menyinggung keluarga jauh dan teman-teman mereka yang tidak kami undang. Sempat terjadi debat yang alot dan saya disadarkan dengan pandangan menikah adalah menyatukan dua keluarga. Saya adalah anak bungsu dan pasangan saya adalah anak lelaki pertama yang menikah, sehingga menurut saya wajar keluarga kami berharap pernikahan kami diadakan cukup besar.

Akhirnya kami tetap pada konsep pernikahan kami, namun juga tidak mengabaikan keinginan dan saran dari keluarga kami. Tidak ada yang salah dan benar dalam masalah ini. Hanya perbedaan pandangan dalam mengadakan acara pernikahan yang menjadi pelajaran berharga bagi kami berdua. Bahwa dalam pernikahan kami tidak dapat hanya memaksakan kehendak kami, tapi juga mendengarkan pendapat dan saran dari keluarga agar ke depannya kami dimudahkan. Karena restu orang tua akan menjadi berkah bagi kami untuk menjalankan bahtera rumah tangga.

#GrowFearless with FIMELA