Gagal Menikah Hanyalah Kebahagiaan yang Tertunda

Endah Wijayanti diperbarui 26 Jul 2019, 10:46 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: J. - Jakarta

Setiap wanita berhak bahagia di hari pernikahannya.

Tapi, bagaimana jika pernikahan tiba-tiba dibatalkan ?

Masihkah ada alasan untuk bahagia?

This is my wedding story

Di usiaku yang matang saat ini, aku sangat bersyukur dengan semua hal yang aku miliki dan yang belum aku dapatkan. Lulus dengan waktu yang tepat, dan mendapatkan pekerjaan yang pas setelah satu bulan kelulusan adalah rezeki yang harus disyukuri. Gagal melanjutkan studi ke jenjang master dan kehilangan kesempatan untuk menjadi staf BUMN juga harus tetap disyukuri, karena Tuhan pasti memberikan yang kita butuhkan bukan yang hanya kita impikan.

Dilamar sang kekasih setelah menyelesaikan pendidikan adalah dambaan hampir semua wanita. Setelah dua tahun menjalani hubungan aku tidak menyangka akan dilamar dengan laki-laki yang juga merupakan teman sekampus. Saat itu kami sedang berlibur di pantai, tidak ada yang spesial ataupun mencurigakan karena kami memang lumayan sering berlibur saat weekend. Tepat di depan ombak pantai dia memegang tanganku sambil mengungkapkan isi hatinya. Aku bahkan masih ingat betul dengan kata per kata yang dia ucapkan.

“Aku sudah lama kenal kamu, dengan segala kurang dan lebihmu, dan aku rasa pandangan kita soal masa depan sejalan”

“Lalu?”

“Ya, aku rasa aku sudah nemuin orang yang tepat. Will you marry me?”

“Sure, I will.”

Kami berpelukan dan sama-sama bersyukur karena hati kami masih satu frekuensi. Jujur tidak ada sedikitpun keraguan menerimanya. Aku sudah mengenal keluarganya, diapun bisa menerima keluargaku dengan segala kurang dan lebihnya. Karena menikah bukan hanya tentang “Aku-Kamu” tapi juga mempersatukan dua keluarga besar, yang tentu tidak mudah.

2 dari 5 halaman

Kehadiran Mantan Kekasih

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Orang bilang ketika akan menikah akan ada saja cobaan yang menghantui. Dulu aku kira itu hanya mitos. Tenyata memang benar adanya. Entah setelah mantap dengan perasaan akan pernikahan, mantan kekasih hadir sebagai sosok masa lalu yang mencoba untuk kembali.

Tiba-tiba mantan kekasihku menelepon dan mengatakan menyesal dengan apa yang sudah telah diperbuatnya dulu. Tanpa sedikitpun tergoda meskipun bisa dikatakan dia jauh lebih mapan dari pada calon suami, aku meyakinkan bahwa aku sudah memaafkannya dari dulu dan aku sudah sepenuhnya move on dan akan segera menikah, jadi berharap agar dia menghargai kehidupanku.

"Ada ada saja cobaan yang datang," ucapku dalam hati.

Selebihnya aku mendoakan dia segera mendapatkan kebahagiannya, seperti diriku. Satu hal yang boleh diberikan pada mantan kekasih adalah doa, tidak lebih.

3 dari 5 halaman

Persiapan Pernikahan: Meminta Segalanya

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Waktu terus berjalan, aku dan calon suami fokus dengan segala A to Z pesta pernikahan. Sejujurnya kami memang sudah menyiapkan tabungan pernikahan sejak satu tahun lalu dari keringat sendiri, sehingga finansial bukan sebuah halangan. Persiapan pernikahan meminta segalanya, energi, waktu dan pikiran cukup terkuras dalam prosesnya.

Aku bersyukur memiliki calon suami yang selalu bisa diajak kerja sama. Karena pernikahan ini adalah pernikahan kami berdua, maka aku ingin segala keputusan diputuskan bersama, bukan hanya keputusanku atau keputusannya. Semua dilakukan berdua, menyusun konsep akad berdua, memilih baju akad berdua, menentukan souvenir bedua, memastikan katering hingga konsep resepsi yang bahkan sempat memicu pertengkaranpun selalu berdua.

Sedikit berselisih saat mempersiapkan pernikahan sangat wajar, asalkan tidak berkepanjangan. Yang aku pelajari selama proses menuju pernikahan adalah tidak ada yang boleh memelihara ego dan harus saling men-support satu sama lain. Jangan sampai ada beban tertentu yang dipikul oleh satu orang. Selain itu, saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan masing-masing, karena kesehatan itu penting.

Yaa intinya masa-masa menuju acara pernikahan merupakan satu ujian yang harus dilewati calon pengantin. Bagi yang sedang mempersiapkan pernikahan di luar sana, keep up you pirit and good luck, ladies!

4 dari 5 halaman

Menuju Hari-H: Pembatalan Sepihak

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Pernikahan tinggal menghitung hari, aku cukup lega dengan persiapan pernikahan yang sudah terselesaikan 70 persen. Aku dan calon suami bahkan sudah mengurusi surat izin cuti di kantor masing-masing. Setiap malam aku tidak putus berdoa, supaya pernikahanku adalah pilihan Tuhan yang terbaik, yang tidak hanya membawa kebahagiaan bagiku tiapi juga bagi dua keluarga besar.

Aku juga berharap almarhumah ibu merestui kami, ada perasaan sedih tak terhingga saat orang tua tidak mungkin mengantarkan kita ke pelaminan. Semoga ibu di surga merestui kami dan turut berbahagia.

Tepat di H-30 pernikahan, calon suami mengajakku bertemu, katanya ingin membicarakan hal yang sangat serius dan tidak bisa ditunda. Aku sangat penasaran, apakah mengenai vendor pernikahan yang bermasalah, atau katering yang tidak beres.

Aku bertanya-tanya dalam hati.

Saat bertemu di kafe yang tidak jauh dari rumah, dia terlihat sangat lusuh. Berulang kali dia meminta maaf, tanpa menjelaskan salahnya padaku. Setelah cukup lama dan dia agak tenang. Dia menjelaskan bahwa secara tiba-tiba keluaganya bersikeras membatalkan pernikahan. Dan itu sudah keputusan finalnya. Dia sudah melakukan segala hal dan nyatanya tidak ada perubahan. Atas nama keluarga dia meminta maaf padaku, dan segala biaya yang telah aku keluarkan akan diganti segera.

Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku saat itu. Hancur, putus asa, syok, berharap saat itu hanya mimpi di siang bolong. Aku hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun.

Bukan tanpa usaha, aku dan calon suami mencoba berbicara denga keluarganya, tapi sia-sia tanpa hasil. Sampai akhirnya aku merasa sudah tidak perlu lagi memohon, aku tidak sampai hati jika harga diri keluargaku tergores lebih dalam lagi.

Aku bukan menyerah, tapi aku justru sedang beusaha sekuat tenaga mengikhlaskan yang sudah terjadi. Toh pada akhirnya batal menikah di tahun ini bisa jadi merupakan hal baik yang akan aku syukuri di kemudian hari. Bukankah Tuhan Maha Tahu yang paling terbaik bagi hamba-Nya?

5 dari 5 halaman

Menemukan Arti Bahagia Lewat Berbagi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Memulai lembaran bukan hal yang mudah, aku harus membesarkan hati. Beberapa teman dekat dan keluarga menjadi support system luar biasa. Mereka meyakinkan diriku, bahwa aku sangat berharga, perjalanan hidupku masih panjang. Mereka berharap aku kembali menjadi pribadi yang ceria, produktif, dan tentunya kembali berkarya.

Saat akan membatalkan jatah cuti seminggu yang awalnya akan digunakan sebagai bulan madu, tiba-tiba seorang teman mengajakku untuk menjadi relawan yang mengajari baca-tulis adik-adik di pulau terluar Indonesia, Pulau Bintan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kesempatan emas itu.

Bertemu adik-adik di pedalaman menjadi obat yang menengkan hati. Bersama mereka aku jadi merasa berguna dan sangat teramat beruntung. Setiap hari tertawa lepas menyaksikan tingkah lucu yang penuh keluguan dan keikhlasan. Bahkan rasanya aku sudah lupa kalau bulan lalu gagal menikah. Yang tersisa hanya rasa tenang di hati, dan aku kembali menemukan cara untuk menjadi diriku yang dulu seutuhnya.

Last but not Least

Aku berharap dan berdoa sepenuh hati semoga tidak ada wanita lain yang mengalami hal sepertiku, dan jika di antara teman-teman yang batal menikah sepertiku, kalian masih berharga, masih sangat cantik dan tentunya masih sagat berhak untuk bahagia. What you have to do is... menemukan cara untuk kembali menjadi diri kalian seutuhnya.

#GrowFearless with FIMELA