Agriculture Youth, Saatnya Anak Muda Bertani Tanpa Gengsi

Febriyani Frisca diperbarui 18 Mar 2020, 13:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Manusia memiliki tiga kebutuhan pokok dalam hidupnya. Salah satunya adalah pangan atau makanan. Untuk menciptakan sumber pangan, banyak cara bisa dilakukan. Bertani hasil alam, misalnya. Bicara soal tani, pekerjaan tersebut umumnya identik dengan orang tua di pedesaan. Jauh dari perkotaan, apalagi jangkauan anak-anak muda.

Melihat fenomena itu, para pemuda lulusan Universitas Gajah Mada Fakultas Pertanian mencoba untuk mengambil peran dunia pertanian dengan mendirikan komunitas. Adalah Komunitas Agriculture Youth (AYO), sebuah perkumpulan anak-anak muda dengan antusias di bidang pertanian.

Ditemui di lahan pertanian AYO di kawasan Tapos, Depok, Jawa Barat Jatu Barmawati, salah satu inisiator menceritakan tentang komunitas yang berdiri pada 2015 tersebut. "Awalnya kami itu berasal dari kampus Universitas Gajah Mada, setelah lulus, aku merasa kok kita gini-gini aja, jadinya aku dan teman-teman lulusan pertanian bikin komunitas," kenang perempuan yang akrab disapa Jatu itu.

What's On Fimela
(Sumber: Komunitas AYO)

Awal dibentuk, Komunitas AYO berhasil menjaring sekitar 120 orang, tapi dengan seleksi alam, kini hanya tersisa puluhan. "Awal ada 120an orang, karena waktu itu masih di kampus, lalu mencar-mencar, sejak pindah ke sini paling jadi 10 orang, di Jogja sisa beberapa orang saja karena masing-masing sudah fokus dengan pekerjaannya," ujar Jatu.

"Sebenernya pengin rekrut anggota baru dan banyak juga yang mau tapi kami belum siap karena mengatur komunitas itu lebih sulit dari mengatur perusahaan dan kami sudah pernah coba, itu tantangannya, tapi dengan anggota segini pun kami senang, karena sudah punya masing-masing tugas," imbuhnya.

Selama di Yogyakarta, Komunitas AYO memiliki banyak kegiatan terutama untuk masyarakat. Salah satunya adalah Sasanti Healthy and Health Bazaar. Bertempat di Sasanti Restaurant, kegiatan ini menjadi kegiatan bulanan Komunitas AYO dalam berbagi ilmu. "Setiap bulan di acara tersebut kami memasarkan hasil dari yang teman-teman tanam dan food & baverage artisan, cukup ramai, sih." kata duta petani.

(Sumber: Komunitas AYO)

"Teman-teman artisan yang hadir juga nggak cuma jualan tapi juga diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan membuka kelas," tambah Jatu. Lebih seru lagi, Komunitas juga punya program Farmtastyc untuk anak-anak panti asuhan yang diberi kesempatan untuk bercocok tanam di area panti.

Jatu sendiri berharap, setelah lahan Komunitas AYO di Tapos, Depok selesai digarap ia bisa fokus pada keanggotaan. "Sebenarnya program kami banyak, tapi terbengkalai karena kekurangan orang untuk meng-handle-nya. Setelah lahan AYO di Tapos ini jadi, kami akan lebih fokus untuk pembinaan kadersasi agar bisa merekrut anggota lagi lebih banyak di sini," ungkap Jatu.

Unlimited Hope for Better Agri-future, begitu slogan Komunitas AYO. Melalui slogan tersebut, Komunitas AYO diharapkan bisa menjadi penyemangat untuk pertanian di Indonesia yang lebih baik di masa depan. Di 2019 lalu, Jatu juga didapuk sebagai Duta Milenial Pembangunan Pertanian oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia.