Kebiasaan yang Awalnya untuk Berhemat Kini Bantu Cegah Kegemukan

Endah Wijayanti diperbarui 23 Jun 2020, 10:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh:  Revi Putri Ekta Fairira

Mengubah sebuah kebiasaan itu membutuhkan waktu lama dan prosesnya kadang melelahkan. Bahkan jika sudah dijalani, kadang merasa tergoda untuk tidak melakukan perubahan itu lagi. Berat bukan?

Awalnya saat aku kuliah dulu, aku tidak memiliki cukup uang untuk jajan dan patungan tugas kelompok yang cukup banyak. Di kampus, aku memang melakukan kerja paruh waktu di saat jam kuliah sudah selesai. Tapi rasanya penghasilanku itu masih kurang untuk menutupi kebutuhanku. Jujur saja, ayahku memang masih bekerja, tapi aku tidak kerasan meminta uang lebih darinya. Melihat ayah dan ibuku yang harus ketat menabung tiap bulan untuk membayar uang semesteranku saja, rasanya sudah buat aku malu.

Demi menghemat, awalnya aku sering membawa bekal ke kampus. Tiap pukul 12.00, aku makan bekal itu sambil duduk-duduk santai bersama temanku. Sesekali di antara mereka, ada juga yang ikut makan denganku, katanya masakan mamaku enak. Tapi kadang, mereka pun menggodaku untuk ikut serta makan di luar dan menyimpan bekal yang sudah aku bawa. Ingin rasanya mengikuti rayuan teman-temanku itu, sayangnya aku tidak bisa. Aku tetap harus makan bekal ini, walaupun hanya makan sendirian di tempat berkumpul mahasiswa kampus. Dalam hatiku, wah pasti seru ya makan bareng teman di tempat makan yang enak dan bisa sambil ngobrol-ngobrol juga. Hm, aku harus tetap sabar dan semangat, toh ini semua aku lakukan demi kuliahku lancar. Satu sampai dua hari awalnya malu-malu, tapi berikutnya aku justru nyaman dengan membawa bekal sendiri.

Kebiasaan membawa bekal ini masih berlanjut hingga aku lulus kuliah dan bekerja. Bahkan kini aku kurang nafsu makan bila beli di luar. Rasanya aku kurang selera melihat warung makan yang membuka lebar-lebar makanan yang dijual, melihat minyak goreng hitam di penggorengan yang masih digunakan, serta melihat tangan sang penjual yang bebas memegang ini itu sambil melayani pesanan makanan. Itu semua sudah cukup mengurangi bahkan menghilangkan nafsu makanku.

2 dari 2 halaman

Jaga Tubuh Tetap Sehat

Ilustrasi./copyright shutterstock

Nah kini, karena aku sudah bekerja dan lebih sering beraktivitas di luar kantor, aku pun memilih untuk mencoba kebiasaan baru yakni puasa sunnah Senin Kamis. Untuk kebiasaan ini, aku tidak menemui kendala yang cukup berarti sampai akhirnya aku rutin menjalaninya. Bahkan karena sudah rutin puasa Sunnah, menjalani puasa Ramadan pun rasanya enak sekali.

Oh ya, aku pernah menjalani puasa Ramadan di daerah Papua yang cuacanya super panas dan pernah juga puasa Ramadan sambil menjalani tes menyelam di laut, wah tenggorokan kering sekali itu. Ya walaupun bekerja di luar ruangan sangat melelahkan, tapi aku tetap nyaman menjalaninya puasa sunnah,  karena makanan yang masuk ke tubuh aku tidak sembarangan, berat badanku stabil, pikiran juga tenang dan yang paling penting aku bisa sambil ibadah juga. Sungguh nikmat sekali.

Sempat aku bertemu dengan temanku. Lepas wisudanya, ia didiagnosa penyakit yang serius. Sejak saat itu, praktis ia harus menjaga ketat asupan makananya. Dari yang biasanya makan makanan enak di luar, kemudian berubah drastis makan makanan tanpa gula, garam, gorengan dan daging.

Dari perjalanan panjang perubahan kebiasaanku, aku jadi sadar bahwa menjaga badan harus dilakukan secara pelan-pelan dan bertahap. Semoga usahaku dan kebiasaanku ini tidak sia-sia untuk investasi usia hingga lanjut usia. Amin.

#ChangeMaker