Mendapati Suaminya Meninggal karena Penyakit Autoimun, Perempuan Ini Bertahan Hidup dalam Penyangkalan

Annissa Wulan diperbarui 22 Sep 2020, 14:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Kristin Crane mendapati sang suami, Ian Donald Maclean Blevins meninggal di usia 34 tahun. Hari Jumat, tanggal 19 Juni 2020, pukul 12.50, Kristin kehilangan suami tercintanya dan sampai sekarang ia masih menghitung hari, seakan-akan apa yang terjadi tidak nyata.

Otopsi sudah selesai, abunya sudah dikembalikan kepada Kristin, berita kematian sudah diunggah, dan Kristin sudah menerima sertifikat kematian. Namun ia masih berharap Ian pulang kepadanya. Bagi Kristin, rasanya masih seperti saat Ian di rumah sakit dan ia tidak boleh mengunjunginya selama berminggu-minggu karena pandemi, bukannya menerima bahwa sang suami telah meninggal.

Setiap bangun di pagi hari, selama sepersekian detik, Kristin lupa bahwa suaminya telah pergi dan tidak akan kembali. Minggu terakhir dalam hidup Ian, Kristin tahu bahwa suaminya sedang sekarat.

Setelah mengatakan tidak ingin diintubasi, Ian akhirnya mengaku bahwa dirinya ingin hidup, jadi Kristin berjuang. Kristin berdebat dengan dokter Ian, berbicara dengan spesialis, dan memohon kepada perawat untuk melakukan sesuatu, apapun itu untuk mencegah suaminya meninggal.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Ian menderita penyakit autoimun yang langka

Ilustrasi orang sedih. Sumber foto: unsplash.com/Kristina Tripkovic.

Ian dirawat di rumah sakit pada tanggal 12 Maret dan setelah diintubasi, ia mengalami serangan jantung. Ketika suaminya meninggal, Kristin baru berhenti menyangkal ketika ia memegang tangan Ia, mencium dahinya, dan memeluk tubuhnya yang dingin.

Kristin duduk bersama keluarga Ian selama berjam-jam dan menangis bersama. Sampai menjelang fajar, Kristin baru beranjak dari sisi Ian, menyadari bahwa suaminya telah meninggal.

Ian menderita kelainan autoimun langka dan Kristin berharap ketika ia memberitahu para dokter, mereka akan bisa mengatasinya. Ahli hematologi menghubungi Kristin beberapa hari setelah kematian Ian, memberitahu tentang hasil otopsi.

Dokter tersebut menceritakan tentang pembekuan darah di jantung, otak, kelenjar adrenal, pendarahan dan infeksi di paru-paru suaminya. Kristin juga diberitahu bagaimana ginjal Ian berhenti bekerja karena alasan yang masih belum diketahui.

3 dari 3 halaman

Kristin masih bertahan dengan penyangkalannya

Ilustrasi orang sedih. Sumber foto: unsplash.com/Sandy Millar.

Penyangkalan yang dilakukan oleh Kristin adalah cara tubuhnya mencoba mengurangi rasa sakit. Tubuhnya tahu bahwa ia tidak dapat menangani kesedihan karena kehilangan sang suami dan berusaha melindunginya.

Penyangkalan membuat Kristin tidak percaya pada apa yang telah terjadi sampai tubuh dan hatinya siap. Di sinilah, Kristin menyadari bahwa seseorang benar-benar bisa meninggal karena patah hati dan ada peningkatan kemungkinan dalam 3 bulan pertama setelah kematian pasangan.

Ini paling sering terjadi pada orangtua. Kesedihan menyebabkan kerusakan fisik yang nyata pada tubuh.

Selain depresi, rasa cemas, dan perasaan bersalah, penyakit fisik juga bisa terjadi. Kristin tidak nafsu makan, sulit tidur, dan sakit kepala karena menangis terus menerus.

Kristin merasa bahwa kesedihan yang dialaminya berbeda dengan yang dialami oleh orang lain. Orangtua dan saudara Ian berduka atas putra dan saudara mereka, namun Kristin berduka atas orang yang menghabiskan hampir setiap hari dalam 8 tahun terakhir bersamanya.

Kristin berduka atas orang yang dinikahinya, membeli rumah, berkeliling dunia bersama, dan memelihara 2 anjing corgi. Kristin menyadari bahwa jalannya masih panjang dan ia lega bahwa dirinya masih berada di tahap penyangkalan bahwa semuanya tidak benar-benar terjadi.

#ChangeMaker