Ujian Masuk Perguruan Tinggi Seharusnya Dihapuskan Selamanya, Perempuan Ini Gunakan Waktunya Lebih Baik daripada Belajar

Annissa Wulan diperbarui 13 Nov 2020, 20:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Pembatalan ujian terjadi 36 jam sebelum Sophie Adams-Smith mengikuti ujian masuk perguruan tinggi bulan Juni lalu. Emailnya sangat tidak jelas, sehingga ia meminta sang ayah untuk mengantarkannya ke lokasi pengujian untuk memastikan agar tidak ada salah paham.

Sophie telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk belajar dan mengikuti tes latihan. Dan ini adalah keempat kalinya salah satu tes standarnya untuk masuk ke perguruan tinggi dibatalkan karena pandemi COVID-19.

Sebelum pembatalan terjadi, Sophie sudah mulai mempertanyakan logika dan kegunaan ujian masuk perguruan tinggi yang berisiko tinggi. Siswa yang berprestasi dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan 3 jam yang diperlukan untuk mengisi pertanyaan matematika, bahasa inggris, dan sains untuk bisa masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Menghabiskan waktu lama untuk belajar masuk perguruan tinggi bukan hal yang efektif

Ilustrasi ujian. Sumber foto: unsplash.com/Ben Mullins.

Beberapa keluarga menyewa tutor atau mendaftarkan anak-anak mereka dalam kursus persiapan yang seringkali membuat anak-anak tersebut justru mendapatkan kesempatan lebih sedikit atau memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Intinya, mereka dirugikan.

Beberapa orangtua akan melakukan tindakan yang lebih ekstrem, baik secara legal atau ilegal untuk meningkatkan nilai anak mereka. Sophie menghabiskan 2 jam dalam sehari untuk mengerjakan tes latihan dan mengerjakan buku persiapan.

Apa yang didapatkan perguruan tinggi dan universitas dari ini semua? Mereka mendapatkan kemudahan membandingkan puluhan ribu pelamar dan peningkatan prestise di berbagai daftar peringkat perguruan tinggi jika nilai siswa yang bersekolah tinggi.

Setelah ujian masuknya dibatalkan, Sophie menghabiskan waktunya dengan hal lain, bukan lagi dengan belajar berjam-jam dalam sehari. Ia belajar tentang kepemimpinan dan keterampilan yang pada akhirnya akan membantunya di perguruan tinggi.

3 dari 3 halaman

Sophie melakukan aktivitas nyata yang bisa mengubah komunitasnya

Ilustrasi ujian. Sumber foto: unsplash.com/Siora Photography.

Lebih penting lagi, bagi Sophie, ia menggunakan waktunya untuk membuat perbedaan yang nyata di komunitasnya. Mengingat krisis sosial yang dihadapi negaranya saat ini, Sophie merasa bahwa anak muda perlu dilibatkan dalam pelayanan publik.

Sekolah yang ditutup dan pembelajaran online justru membuat banyak siswa tertinggal jauh. Sophie bicara tentang jutaan jam yang sebenarnya dapat digunakan untuk penggunaan yang lebih bermanfaat secara sosial.

Perguruan tinggi harus membebaskan pelamar dari kebutuhan untuk belajar terus menerus, bukan hanya saat pandemi, namun juga untuk selamanya. Perguruan tinggi harus mendorong para pelamar untuk meluangkan waktu, dihabiskan untuk mengabdi pada komunitas mereka.

Refleksi pelayanan mereka kemudian dapat diaplikasikan di perguruan tinggi. Dengan perubahan ini, Sophie merasa bahwa perguruan tinggi akan benar-benar melakukan pelayanan publik, jutaan jam tidak lagi dihabiskan untuk belajar mempersiapkan ujian. Bagaimana menurutmu?

#ChangeMaker