Perjuangan Linda Agum Gumelar Sembuh dari Kanker Payudara Hingga Dirikan YKPI

Anisha Saktian Putri diperbarui 15 Okt 2021, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap bulan Oktober diperingati dengan bulan peduli kanker payudara internasional (Breast Cancer Awareness Month). Kampanye yang indentik dengan pita pink bertujuan agar masyarakat peduli akan isu kanker payudara.

Kejadian kanker payudara secara global masih meningkat setiap tahunnya. Data GLOBOCAN 2020 menyatakan terdapat 2.261.419 kasus baru kanker payudara dengan 684.996 kematian di seluruh dunia; di 11 negara Asia Tenggara terdapat 158.939 kasus baru kanker payudara dengan 58.616 kematian; sementara di Indonesia, terdapat 65.858 kasus baru kanker payudara dengan 22.430 kematian.

"WHO menyatakan jika 30 detik sekali di suatu lokasi seseorang terdiagnosis kanker payudara. Bahkan, setiap 53 menit satu orang meninggal akibat kanker payudara, ini bisa terjadi di mana saja. Indonesia sendiri menempati peringkat paling tinggi di ASEAN untuk kejadian kanker payudara," ujar Linda Agum Gumelar Pendiri dan Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) saat Fimela Talks.

Untuk itu, Periksa Payudara Sendiri (SADARI) sangat penting dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini. SADARI bertujuan untuk mengetahui apakah ada benjolan sekitar payudara, sebab benjolan menjadi gejala kanker ini.

Ibu Linda mengatakan jika SADARI ini penting dikarenakan kanker payudara jenis kanker yang mudah untuk disembuhkan jika diketahui sejak stadium awal.

Ia mengatakan waktu yang tepat melakukan SADARI sejak perempuan sudah mulai menstruasi. Lakukan satu bulan sekali, setelah menstruasi hari ke 7 sampai 10.

Manfaat SADARI ini pun sangat dirasakan Linda Agum Gumelar. 25 tahun lalu tepatnya pada tahun 1996, beliau pun divonis mengidap kanker payudara.

"Saat itu ada benjolan selama tiga bulan posisinya tidak berubah, di situ-situ saja. Dulu di tahun 96 itu kanker payudara masih tabu, jadi tidak berfikir kanker payudara apalagi tidak ada riwat keluarga, namun di bulan Februari saat itu, saya langsung cek ke dokter hasilnya harus melakukan tindak lanjut, kemudian Mammografi dan hasilnya kelenjar ganas," cerita Linda.

2 dari 3 halaman

Dunia bagai runtuh saat terdiagnosis kanker payudara

Benarkah Kanker Payudara Bisa Terjadi pada Wanita Muda? (Astock Productions/Shutterstock)

Di usia yang menginjak 46 tahun saat itu, dunia bagai runtuh bagi ibu Linda setelah mendengar diagnosis dokter. Apalagi ia sedang menikmati kariernya sebagai anggota DPR, memimpin organisasi Kowani, hingga menemani sang suami, Agum Gumelar. Ia pun masih memiliki impian untuk melihat anak-anaknya sukses hingga memiliki cucu.

Bahkan, Linda pun sempat berdiam diri selama kurang lebih 10 hari karena larut dalam kesedihan. Namun, berkat dukungan keluarga dan teman sekitar Linda pun bangkit dan memacu diri untuk sembuh dengan melakukan pengobatan medis.

"Saat itu anak masih kecil, tentu pasti sedih. Namun waktu itu anak saya paling kecil masih SMP ke atas untuk sholat dan mendoakan saya. Dari situlah memacu saya untuk semangat berobat. Memang diri sendiri yang harus bangkit, saya mikir tidak boleh larut, karena nangis trus tidak akan menyelesaikan masalah. Kasihan dengan orang yang sudah mendukung," ungkapnya.

Linda pun memulai pengobatan dengan mengikuti jejak Rima Melati yang berawal ketika ia membaca suatu majalah. Dalam artikel tersebut, dijelaskan bagaimana Rima Melati melakukan pengobatan kanker payudaranya.

"Sebelum saya sakit, udah baca artikel tentang pengobatan Rima Melati. Saat sakit saya langsung inget artikel itu dan mencoba menghubunginya," tuturnya.

Setelah menghubungi Rima Melati, Linda pun mengikuti semua arahan Rima, mulai dari diperkenalkan oleh dokter yang merawatnya, hingga terbang ke Belanda untuk pengobatan yang maksimal. Sebab di Indonesia saat itu pengobatan kanker payudara masih langka.

"5 tahun bulak balik Belanda untuk pengobatan. Saya memutuskan pergi kesana selain dulu di sini masih sulit pengobatannya, saya bisa istirahat dulu dari karier di Indonesia dan fokus pengobatan. Setiap berangkat juga saya takut, apakah kanker menyebar, apakah organ yang lain masih sehat tapi saya tetap semangat," ujarnya.

Namun berkat diketahui pada stadium awal, kanker payudara Linda pun tidak menyebar. Hingga pengobatan pun berjalan lancar. Hal ini membuktikan jika diketahui sejak dini, kanker payudara masih bisa disembuhkan.

"Jadi saat ada benjolan jangan takut karena belum tentu itu kanker, tapi sebaiknya kita memeriksakan diri pada dokter untuk ditindak lanjuti," ujar Linda. 

3 dari 3 halaman

Mendirikan Yayasan Kanker Payudara Indonesia

yayasan kanker payudara indonesia

Linda mengatakan memang tidak mudah menghadapi penyakit ini, perlu waktu untuk bangkit. Namun, jangan larut dalam kesedihan dan kecewa sebab akan merugikan diri sendiri dan proses penyembuhan akan sulit.

"Kunci itu kita jangan stres, kalau masih stadium awal kita sudah stres jusru akan meningkat stadiumnya. Jadi balik lagi ke diri kita sendiri, bangun pikiran positif, ikuti proses pengobatannya, itu yang membuat kita tidak stres," tuturnya.

Untuk menyemangati para pasien hingga survivor kanker payudara, Linda pun mendirikan Yayasan Kanker Payudara Indonesia. YKPI dikukuhkan secara resmi pada 2015, didirikan pada 19 Agustus 2003 oleh Linda Agum Gumelar, Tati A.M. Hendropriyono, Rima Melati Tumbuan, Andy Endriartono Sutarto dan (Alm) Dr. Sutjipto, Sp.B(K) Onk.

Sebagai organisasi nirlaba, YKPI adalah mitra pemerintah untuk menggalakkan kegiatan penyuluhan dan penanggulangan "breast cancer" di Indonesia, hingga memberi semangat bagi para pengidap kanker payudara.