Strategi Efektif Hadapi Tantrum Anak Usia Prasekolah

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 10 Mei 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Pernahkah kamu mengalami momen ketika anak tiba-tiba menangis keras, berteriak, atau bahkan berguling di lantai saat berada di pusat perbelanjaan atau ruang publik lainnya? Situasi seperti ini terkadang membuat banyak orang tua merasa malu sekaligus kewalahan. Pertanyaan yang paling sering muncul dari para orang tua adalah: apakah tantrum itu wajar, dan mungkinkah dicegah? 

Melansir laman cincinnatichildren.org tantrum pada dasarnya merupakan bagian normal dari perkembangan anak meskipun terasa melelahkan saat menghadapinya. Saat anak sedang mengamuk di tempat umum, sulit untuk meredakannya tetapi yang harus diingat, tantrum adalah salah satu ciri khas masa kanak-kanak awal.

Data menunjukkan bahwa sekitar 84% anak prasekolah mengalami tantrum setidaknya sekali dalam sebulan. Bentuk tantrum bisa bermacam-macam mulai dari menghentakkan kaki, berteriak, menahan napas, mudah marah, sampai menjatuhkan diri ke lantai. Biasanya ini terjadi ketika anak merasa lapar, lelah, sakit, marah, tidak mendapatkan keinginannya, atau saat menghadapi rutinitas seperti waktu tidur.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Apakah tantrum bisa dicegah?

Tantrum pada anak bisa dicegah dengan langkah sederhana yang dilakukan orang tua. (foto: user15285612/freepik)

“Apakah tantrum bisa dicegah?” pertanyaan ini memiliki jawaban yang lebih rumit. Namun, dengan memahami penyebabnya, orang tua bisa lebih siap mengantisipasi. Tantrum dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebutuhan fisik yang belum terpenuhi, perbedaan temperamen, hingga kurangnya persiapan sebelum menghadapi situasi tertentu.

Kebutuhan dasar seperti rasa lapar, kurang tidur, atau kondisi tubuh yang tidak fit sering menjadi pemicu utama tantrum. Anak juga bisa lebih rewel jika aktivitas yang diberikan tidak sesuai dengan karakternya. Misalnya, anak yang memiliki energi tinggi sebaiknya diberi kesempatan bermain dulu sebelum diajak berbelanja.

Selain itu, ekspektasi orang tua juga memegang peranan penting. Menuntut anak duduk diam selama dua jam di restoran jelas tidak realistis. Namun, mengajak mereka makan selama 30 menit di restoran ramah keluarga, sambil menyediakan aktivitas kecil sebagai distraksi, adalah hal yang masih masuk akal. Persiapan sederhana seperti membawa camilan, mainan favorit, atau buku aktivitas juga sangat membantu mencegah tantrum.

3 dari 3 halaman

Hal-hal sederhana yang bisa diantisipasi oleh orang tua sebelum tantrum anak memuncak

Orang tua berperan penting dalam proses pembentukan karakter anak usia prasekolah. (foto: pch.vector/freepik)

Yang tak kalah penting adalah persiapan mental. Orang tua bisa memberi tahu anak lebih dulu bagaimana sebaiknya mereka bersikap di sebuah acara, misalnya saat ulang tahun teman. Namun, waktu pemberitahuan perlu disesuaikan dengan temperamen anak, terlalu jauh-jauh hari justru membuat sebagian anak cemas. Konsistensi aturan juga penting, karena anak prasekolah lebih mudah memahami batasan bila aturan yang sama selalu diterapkan.

Sebagai orang tua, kita juga perlu jeli membaca tanda-tanda awal sebelum tantrum benar-benar memuncak. Tangisan kecil atau rengekan adalah sinyal awal yang jika ditangani lebih cepat, bisa mencegah amukan besar. Anak juga perlu mendapat apresiasi saat menunjukkan perilaku positif. Apresiasi tersebut bisa berupa hal sederhana, seperti memilih lagu di mobil atau mendapat waktu ekstra bermain dengan mainan khusus.

Pada akhirnya, tidak semua tantrum bisa dicegah. Namun, dengan mengenali pola dan pemicunya, orang tua bisa mengurangi frekuensi maupun intensitas tantrum. Jika tantrum terasa terlalu sering, mengganggu aktivitas keluarga, atau menyita energi berlebih, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog. Dukungan profesional dapat membantu menemukan strategi yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarga.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa