Mengapa Balita Semakin Dilarang Justru Semakin Dilakukan? Simak 7 Alasannya

Siti Nur ArishaDiterbitkan 14 Mei 2026, 16:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, pernahkah kamu melarang balita melakukan sesuatu, tapi justru larangan itu membuatnya semakin penasaran? Misalnya, ketika kita melarang mereka menyentuh benda tertentu, malah benda itu yang terus mereka dekati. Fenomena ini bukan sekadar kenakalan anak kecil, melainkan bagian dari proses tumbuh kembang yang alami.

Balita sedang berada di tahap eksplorasi dunia. Rasa ingin tahu yang tinggi membuat mereka sering kali sulit memahami arti larangan. Justru saat kita melarang, mereka merasa ada hal baru yang menarik untuk dicoba. Di sisi lain, balita juga belum sepenuhnya bisa mengatur emosi dan dorongan diri, sehingga larangan sering ditanggapi dengan rasa frustrasi yang berujung pada tantrum atau sikap menantang.

Dilansir dari The Royal Children, perilaku balita yang semakin dilarang semakin dilakukan bisa terjadi karena keterbatasan kemampuan mereka dalam mengelola emosi, mencari perhatian dari orang tua, hingga sekadar menguji batas. Orang tua perlu memahami bahwa hal ini normal terjadi dalam proses perkembangan sosial dan emosional anak. Dengan pendekatan yang tepat, kebiasaan ini bisa diarahkan menjadi pengalaman belajar yang positif bagi si kecil. Yuk, simak penjelasan lengkapnya.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mengapa Balita Sering Menentang Larangan?

Balita sering kali menentang larangan bukan semata-mata karena mereka “nakal”, melainkan karena pada usia tersebut mereka belum sepenuhnya memahami konsep bahaya. (foto/dok: freepik/senivpetro)

Balita sering kali menentang larangan bukan semata-mata karena mereka “nakal”, melainkan karena pada usia tersebut mereka belum sepenuhnya memahami konsep bahaya. Setiap larangan yang diberikan orang tua justru bisa dianggap sebagai tantangan baru atau hal menarik yang layak dicoba. Selain itu, dorongan alami untuk menjadi mandiri juga membuat mereka lebih sering melawan. Saat balita berhasil melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, mereka merasa bangga, sehingga semakin bersemangat untuk mengulanginya, meskipun itu bertentangan dengan aturan.

Gunakan Kalimat Positif

Cara kita menyampaikan larangan sangat berpengaruh pada respons anak. Alih-alih berkata keras “jangan” atau “tidak boleh”, gunakan instruksi positif yang lebih jelas dan mudah dipahami. Misalnya, daripada mengatakan “jangan lari di dalam rumah”, coba katakan “ayo jalan pelan-pelan supaya tidak jatuh”. Dengan kalimat positif, anak merasa lebih diarahkan daripada dilarang, sehingga ia tidak merasa terkekang.

Berikan Alternatif yang Aman

Rasa ingin tahu anak sebaiknya tidak dimatikan dengan larangan keras, melainkan diarahkan ke hal-hal yang lebih aman. Misalnya, ketika mereka ingin menyentuh stop kontak yang berbahaya, segera alihkan perhatian dengan mainan interaktif atau benda lain yang bisa memenuhi rasa penasaran mereka. Dengan begitu, anak tetap bisa bereksplorasi tanpa harus masuk ke area yang berisiko.

Konsisten dengan Aturan

Salah satu kunci keberhasilan dalam mendidik balita adalah konsistensi. Anak bisa merasa bingung jika suatu saat larangan ditegakkan, tetapi di lain waktu dibiarkan. Misalnya, jika orang tua sudah menetapkan aturan bahwa tidak boleh makan sambil menonton televisi, maka aturan ini sebaiknya berlaku setiap hari dan dalam situasi apa pun. Konsistensi membantu anak memahami batasan dengan lebih jelas sekaligus melatih disiplin sejak dini.

Tunjukkan Empati

Ketika balita ngotot melakukan sesuatu yang dilarang, coba dengarkan dulu keinginannya dan tunjukkan bahwa kita memahami perasaannya. Misalnya, ucapkan kalimat sederhana seperti, “Mama tahu kamu ingin main air, tapi sekarang sudah malam dan waktunya tidur.” Dengan menunjukkan empati, anak akan merasa didengar, lebih dihargai, dan pada akhirnya lebih mudah menerima alasan di balik larangan yang diberikan.

3 dari 3 halaman

Jadilah Role Model

Balita belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat dibandingkan dengan apa yang mereka dengar. Karena itu, orang tua perlu menjadi contoh nyata dalam mengontrol emosi dan perilaku sehari-hari. (foto/dok: freepik/tirachardz)

Balita belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat dibandingkan dengan apa yang mereka dengar. Karena itu, orang tua perlu menjadi contoh nyata dalam mengontrol emosi dan perilaku sehari-hari. Jika ingin anak tidak terbiasa berteriak, orang tua juga sebaiknya menghindari membentak ketika marah. Dengan menunjukkan sikap tenang, sabar, dan penuh perhatian, anak akan meniru perilaku positif tersebut dalam kesehariannya.

Tips Agar Orang Tua Tetap Tenang

Menghadapi balita yang semakin dilarang semakin dilakukan tentu bisa melelahkan, apalagi jika terjadi berulang kali dalam satu hari. Namun, menjaga ketenangan diri sangat penting agar orang tua bisa tetap berpikir jernih. Luangkan waktu untuk me time, berbagi cerita dengan pasangan, atau berdiskusi dengan sesama orang tua agar tidak merasa sendirian. Dengan kondisi emosi yang lebih stabil, orang tua akan lebih sabar menghadapi tingkah laku si kecil.

Sahabat Fimela, balita yang semakin dilarang justru semakin dilakukan bukan berarti mereka bandel, melainkan bagian dari proses belajar memahami dunia. Dengan kesabaran, empati, dan konsistensi, orang tua bisa membantu anak tumbuh dengan kontrol diri yang lebih baik serta rasa percaya diri yang kuat. Pada akhirnya, cara orang tua merespons jauh lebih berpengaruh daripada seberapa sering larangan diberikan. Yuk Sahabat Fimela, jnangan lupa diterapkan untuk si kecil ya!

Penulis: Siti Nur Arisha