Fimela.com, Jakarta Berat badan sering kali menjadi topik sensitif bagi ibu hamil, namun sejatinya angka di timbangan bukan sekadar soal penampilan. Bagi calon ibu, kenaikan berat badan adalah tanda penting bahwa tubuh sedang bekerja keras memberi nutrisi dan ruang tumbuh bagi janin. Meski begitu, terlalu sedikit atau terlalu banyak berat badan yang naik bisa berdampak pada kesehatan ibu maupun bayi.
Melansir laman www.thewomens.org.au kenaikan berat badan saat hamil tidak bisa disamakan untuk semua orang. Setiap ibu hamil memiliki kebutuhan yang berbeda tergantung pada berat badan sebelum hamil. Umumnya, ibu dengan indeks massa tubuh (IMT) rendah atau kurus dianjurkan untuk menambah berat lebih banyak dibandingkan ibu dengan IMT tinggi. Sebagai gambaran, ibu dengan IMT di bawah 18,5 disarankan menambah berat antara 12,5 hingga 18 kilogram selama kehamilan, sedangkan bagi yang memiliki IMT normal (18,5–24,9) cukup menambah 11,5 hingga 16 kilogram.
Sementara itu, ibu dengan berat badan berlebih sebelum hamil (IMT 25–29,9) sebaiknya menjaga kenaikan berat di kisaran 7–11,5 kilogram. Untuk kategori obesitas (IMT di atas 30), batas kenaikan ideal adalah 5–9 kilogram saja. Rekomendasi ini dapat berbeda sedikit bagi wanita Asia karena perbedaan komposisi tubuh. Meski terdengar seperti angka, pedoman ini penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi, mencegah komplikasi, dan memastikan perkembangan janin optimal.
Faktor yang mempengaruhi kenaikan berat badan dan cara menjaganya tetap sehat
Beberapa faktor dapat memengaruhi seberapa banyak berat badan ibu bertambah selama hamil. Pola makan harian, tingkat aktivitas fisik, serta gejala seperti mual dan muntah di trimester awal bisa memengaruhi asupan nutrisi. Selain itu, perubahan hormon yang menyebabkan nafsu makan meningkat atau munculnya ngidam juga berperan besar. Di trimester akhir, tubuh cenderung menahan cairan lebih banyak, yang dapat membuat berat naik lebih cepat.
Untuk menjaga kenaikan berat badan tetap sehat, ibu hamil disarankan makan dengan pola teratur tiga kali sehari, dilengkapi dengan camilan bernutrisi di antara waktu makan. Pastikan piring berisi beragam makanan seperti sumber karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, sayur, buah, dan produk susu. Kurangi konsumsi makanan cepat saji, gorengan, atau minuman manis seperti soda dan jus kemasan yang tinggi gula. Selain itu, porsi makan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, bukan keinginan semata.
Aktivitas fisik ringan juga memiliki peran penting. Jika tidak ada komplikasi medis, olahraga seperti jalan kaki, berenang, atau prenatal yoga bisa membantu menjaga berat badan stabil, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi keluhan kehamilan seperti pegal atau kram. Namun, sebelum memulai rutinitas olahraga, selalu konsultasikan dulu dengan dokter atau bidan untuk memastikan keamanan aktivitas tersebut.
Pemantauan berat badan dan kesadaran nutrisi selama kehamilan
Selain mengatur pola makan dan aktivitas, penting bagi ibu untuk memantau kenaikan berat badan secara berkala. Pencatatan rutin setiap minggu atau bulan dapat membantu melihat apakah kenaikan masih dalam batas sehat. Bila berat badan naik terlalu cepat atau justru stagnan, dokter atau ahli gizi dapat membantu menilai penyebabnya dan memberikan saran penyesuaian nutrisi yang tepat.
Untuk mengetahui panduan yang sesuai, ibu dapat menghitung indeks massa tubuh (IMT) sebelum hamil. Rumusnya sederhana yaitu berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat. Misalnya, berat badan 60 kg dengan tinggi 1,6 m, maka IMT = 60 ÷ (1,6 × 1,6) = 23,4, yang termasuk kategori normal. Dengan mengetahui IMT, ibu dapat menyesuaikan target kenaikan berat badan berdasarkan rekomendasi medis.
Pada akhirnya, menjaga berat badan selama kehamilan bukan soal diet ketat atau menahan makan, melainkan tentang menyeimbangkan asupan nutrisi demi kesehatan ibu dan bayi. Setiap kilogram yang bertambah memiliki makna penting bukan hanya untuk pertumbuhan janin, tetapi juga untuk mempersiapkan tubuh ibu menghadapi persalinan dan masa menyusui nanti. Dengan pemantauan dan bimbingan yang tepat, kehamilan bisa menjadi perjalanan yang sehat, nyaman, dan penuh kesadaran.
Penulis: Alyaa Hasna Hunafa