Cara Menjawab Pertanyaan “Kenapa Keluar dari Pekerjaan Sebelumnya?”

Vallerie Angelique EffendiDiterbitkan 13 November 2025, 16:45 WIB

Fimela.com, Malang Kalau kamu sedang bersiap untuk interview kerja, pertanyaan satu ini hampir pasti akan muncul, “Boleh tahu, kenapa kamu keluar dari pekerjaan sebelumnya?”

Kedengarannya sederhana, tapi pertanyaan ini sering bikin banyak kandidat salah langkah. Padahal, bagi HR, jawabanmu bisa menunjukkan seberapa matang kamu dalam mengambil keputusan karier, bagaimana kamu menghadapi tantangan, dan apakah kamu cocok dengan budaya kerja mereka.

Supaya kamu bisa menjawab dengan tenang dan tetap memberikan kesan profesional, berikut panduan lengkap dan contoh cara menjawab pertanyaan “kenapa resign” dengan elegan dan meyakinkan.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

Jujur tapi Diplomatis

jawaban tidak perlu bohong, tapi tetap bijaksana./copyright pexels/Christina Morillo

Kejujuran adalah kunci, tapi penyampaiannya harus tetap bijak. Kalau kamu keluar karena alasan yang sensitif, seperti konflik di kantor atau pemutusan hubungan kerja, hindari menyalahkan pihak lain.

Kamu bisa fokus pada perbedaan visi atau kebutuhan pribadi yang berubah. Contoh, “Saya dan manajemen punya pendekatan kerja yang berbeda, dan saya merasa ingin mencari lingkungan yang lebih sesuai dengan gaya kerja saya.”

Kesan yang muncul? Kamu dewasa, reflektif, dan tetap menjaga profesionalitas.

3 dari 6 halaman

Fokus pada Hal Positif yang Kamu Pelajari

cari hal positif yang bisa dibagikan./copyright pexels/nappy

Meski alasanmu keluar karena situasi yang sulit, tetap bicarakan pengalaman baik dan pelajaran yang kamu dapat. Hal ini menunjukkan kamu bukan orang yang mudah menyerah, tapi justru mampu tumbuh dari pengalaman.

Contoh, “Selama di tempat lama, saya belajar banyak tentang manajemen proyek dan kerja tim lintas divisi. Tapi sekarang saya ingin mencari peran yang memberi ruang lebih besar untuk mengembangkan kemampuan strategis saya.”

Dengan begitu, HR akan melihat kamu sebagai kandidat yang reflektif dan punya growth mindset.

4 dari 6 halaman

Tekankan Tujuan dan Pengembangan Diri

cari hal pribadi yang bisa dikembangkan dari tempat kerja baru./copyright pexels/Sora Shimazaki

Perpindahan kerja idealnya bukan karena lari dari masalah, tapi karena kamu ingin bertumbuh. Tunjukkan bahwa keputusanmu adalah langkah terencana untuk mencapai tujuan karier.

Contoh, “Saya merasa sudah mencapai titik maksimal di posisi sebelumnya, dan ingin mencari tantangan baru yang bisa memperluas pengalaman saya di bidang pengembangan produk.”

Atau, “Saya ingin pindah ke perusahaan yang punya nilai dan visi yang lebih sejalan dengan saya, terutama dalam hal inovasi dan kolaborasi.”

Kalimat seperti ini menggambarkan arah karier yang jelas dan niat profesional yang kuat.

5 dari 6 halaman

Tetap Singkat dan To the Point

jawaban tidak bertele-tele saat interview./copyright pexels/Alex Green

Kamu tidak perlu menjelaskan semua kronologi resign atau alasan personal secara detail.Cukup dua sampai tiga kalimat yang menjawab pertanyaan dengan jelas, lalu arahkan pembicaraan ke hal yang lebih positif seperti:

  • Ketertarikanmu terhadap posisi baru
  • Nilai-nilai yang kamu temukan di perusahaan tersebut
  • atau kontribusi yang bisa kamu bawa

Contoh, “Saya ingin bergabung di perusahaan ini karena saya melihat budaya kerjanya sangat kolaboratif, dan saya ingin membawa pengalaman saya di marketing untuk mendukung tim ini berkembang lebih cepat.”

6 dari 6 halaman

Hindari Nada Negatif walau Alasannya Kurang Menyenangkan

tetap bijaksana saat membagikan pengalaman buruk./copyright pexels/Edmond Dantes

Kalau kamu keluar karena tekanan kerja, hubungan dengan atasan, atau lingkungan yang tidak sehat, tetap bungkus dengan nada yang positif. Ingat, HR lebih tertarik pada bagaimana kamu mengelola situasi sulit daripada detail masalahnya.

Daripada bilang, “Saya gak tahan sama bos saya,” lebih baik ubah jadi, “Saya belajar banyak dari dinamika kerja di tim sebelumnya, dan sekarang ingin mencari lingkungan yang lebih terbuka terhadap kolaborasi.”

Pertanyaan “kenapa keluar dari pekerjaan sebelumnya” bukan jebakan, tapi kesempatan buat menunjukkan bahwa kamu punya arah karier yang jelas, bisa belajar dari pengalaman, dan siap tumbuh di tempat baru.

Selama kamu bisa menjawab dengan jujur, tenang, dan positif, recruiter akan melihat kamu sebagai kandidat yang profesional dan matang dalam mengambil keputusan.