Sukses

FimelaMom

Mendidik Tanpa Marah: Mengenal Segitiga Restitusi, Cara Lembut Ajarkan Anak Bertanggung Jawab

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, setiap orang tua tentu pernah merasa kesal ketika anak melakukan kesalahan, entah karena memecahkan barang, berbohong, atau bertengkar dengan temannya. Namun, tahukah kamu bahwa ada cara yang lebih lembut dan efektif untuk membantu anak belajar dari kesalahannya tanpa harus dimarahi atau dihukum?

Dilansir dari konsep yang dikembangkan oleh Diane Gossen, pendekatan ini dikenal dengan nama Segitiga Restitusi (The Restitution Triangle), sebuah model disiplin positif yang berfokus pada pembentukan tanggung jawab dan kesadaran diri anak. Tujuannya bukan untuk membuat anak takut, tetapi untuk menumbuhkan pemahaman bahwa setiap kesalahan bisa menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Daripada menegur dengan nada tinggi, segitiga restitusi mengajak orang tua untuk menjadi pembimbing yang membantu anak memahami nilai-nilai yang ia yakini. Dengan begitu, anak belajar berbuat benar bukan karena takut dimarahi, tetapi karena ingin menjadi pribadi yang baik.

Apa Itu Segitiga Restitusi?

Segitiga restitusi adalah pendekatan yang berfokus pada pemulihan dan pembelajaran, bukan pada hukuman. Melalui tiga langkah sederhana, orang tua dapat membantu anak menghadapi kesalahannya dengan tenang, memahami dampaknya, dan menemukan cara memperbaiki situasi dengan kesadaran diri.

 

 

 

1. Menstabilkan Identitas Anak

Langkah pertama adalah membantu anak menenangkan diri. Saat anak baru saja melakukan kesalahan, mereka biasanya merasa takut, malu, atau bahkan marah. Di sinilah peran orang tua penting, bukan untuk langsung menegur, melainkan menenangkan.

Kamu bisa mengatakan, “Tidak apa-apa, semua orang bisa berbuat salah.”Kalimat sederhana ini membantu anak memahami bahwa kesalahan tidak membuatnya menjadi anak yang “nakal”, melainkan bagian dari proses belajar. Dengan begitu, anak merasa aman dan siap untuk memperbaiki diri.

 2. Memvalidasi Tindakannya yang Salah 

Setelah anak lebih tenang, ajak ia memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana tindakannya memengaruhi orang lain. Hindari nada menghakimi, fokuslah pada pemahaman.

Misalnya, “Kamu marah karena adik mengambil mainanmu, ya? Tapi saat kamu memukul adik, adik jadi sedih dan takut.”Langkah ini membantu anak menyadari hubungan antara perasaan, tindakan, dan akibatnya. Anak belajar bahwa setiap emosi bisa diterima, tapi tidak semua tindakan dibenarkan.

 

 

 

3. Menemukan Solusi Berdasarkan Keyakinan

Tahap terakhir adalah membantu anak menemukan solusi dari dalam dirinya sendiri. Kamu bisa bertanya, “Kamu ingin jadi kakak seperti apa?” atau “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki keadaan?”

Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab bukan karena disuruh, tetapi karena ia ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Ini juga menumbuhkan motivasi intrinsik dan rasa percaya diri.

Mengapa Segitiga Restitusi Efektif?

Pendekatan ini dapat membantu anak untuk mengelola emosi dengan cara yang sehat, memahami dampak tindakannya terhadap orang lain, mengembangkan disiplin diri tanpa tekanan, serta belajar memulihkan hubungan dan memperbaiki kesalahan. Bagi orang tua, segitiga restitusi menjadi pengingat bahwa setiap kesalahan anak adalah peluang untuk belajar, bukan alasan untuk menghukum.

Sahabat Fimela, membesarkan anak memang tidak selalu mudah, tapi selalu ada cara lembut yang bisa dipilih.Dengan menerapkan segitiga restitusi, kamu membantu anak memahami bahwa menjadi orang baik bukan berarti tidak pernah salah,tetapi berani bertanggung jawab dan memperbaikinya.

 

 

 

 

 

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading