Fimela.com, Jakarta - Menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh cinta, niat baik, dan usaha terbaik. Setiap ibu dan ayah tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak, mulai dari perlindungan, pendidikan, hingga dukungan emosional. Namun dalam praktiknya, tidak semua pola asuh yang terlihat “benar” benar-benar berdampak positif bagi perkembangan mental dan emosional anak.
Tanpa disadari, kebiasaan kecil yang dilakukan sehari-hari bisa meninggalkan jejak jangka panjang pada kepercayaan diri anak. Mulai dari terlalu sering membantu, membandingkan, hingga kurang memberi ruang bagi anak untuk mengambil keputusan sendiri. Hal-hal ini sering terjadi karena orang tua ingin segalanya berjalan lancar, aman, dan sempurna untuk sang buah hati.
Padahal, kepercayaan diri anak tumbuh dari proses mencoba, gagal, belajar, dan merasa dihargai apa adanya. Dilansir dari modern The Artful Parent, banyak pola asuh yang tampak sepele justru dapat mengikis rasa percaya diri anak secara perlahan jika dilakukan terus-menerus. Berikut delapan kesalahan pola asuh yang perlu diwaspadai orang tua.
1. Terlalu Sering Melakukan Segalanya untuk Anak
Membantu anak memang bentuk kasih sayang, tetapi terlalu sering mengambil alih tugas yang sebenarnya bisa mereka lakukan sendiri justru menghambat kemandirian. Anak bisa merasa dirinya tidak mampu atau tidak dipercaya.
Biarkan anak mencoba hal sederhana sesuai usianya, seperti memakai sepatu, membereskan mainan, atau menuang minuman sendiri. Dari situlah rasa “aku bisa” mulai tumbuh.
2. Hanya Memuji Hasil, Bukan Proses
Pujian seperti “pintar sekali” atau “hebat karena menang” memang menyenangkan, tetapi jika hanya fokus pada hasil, anak akan mengaitkan nilai dirinya dengan pencapaian semata. Lebih baik apresiasi usaha anak, seperti ketekunan, keberanian mencoba, dan kerja keras. Dengan begitu, anak belajar bahwa proses sama berharganya dengan hasil.
3. Selalu Menyelamatkan Anak dari Kesalahan
Melihat anak gagal atau kecewa memang tidak mudah, tetapi terlalu sering menyelamatkan mereka dari konsekuensi justru menghambat pembelajaran hidup.
Kesalahan mengajarkan anak tentang tanggung jawab, ketahanan mental, dan cara bangkit kembali. Orang tua cukup mendampingi dan memberi arahan, bukan selalu menyelesaikan masalah untuk anak.
4. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Ucapan seperti “adikmu lebih rapi” atau “temanmu sudah bisa membaca” dapat membuat anak merasa tidak cukup baik. Perbandingan menumbuhkan rasa rendah diri dan kebutuhan akan validasi eksternal. Fokuslah pada perkembangan anak itu sendiri. Bandingkan kemajuan mereka hari ini dengan dirinya di masa lalu, bukan dengan orang lain.
5. Mengabaikan atau Meremehkan Perasaan Anak
Mengatakan “ah, itu sepele” atau “jangan lebay” saat anak sedih atau marah dapat membuat mereka merasa emosinya tidak penting. Anak pun belajar memendam perasaan dan meragukan emosinya sendiri.
Validasi perasaan anak dengan kalimat sederhana seperti, “Ibu tahu kamu sedang kesal” atau “Sepertinya itu membuatmu sedih.” Anak yang merasa dipahami akan tumbuh lebih percaya diri secara emosional.
6. Terlalu Mengontrol Setiap Pilihan Anak
Mengatur semua keputusan anak, mulai dari pakaian hingga aktivitas, dapat membuat anak kurang percaya pada kemampuannya sendiri dalam mengambil keputusan. Berikan pilihan sederhana yang sesuai usia agar anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya dan merasa suaranya dihargai.
7. Lebih Sering Mengkritik daripada Terhubung
Terlalu sering menegur tanpa diimbangi kedekatan emosional bisa membuat anak merasa selalu salah. Ini perlahan mengikis rasa aman dan kepercayaan dirinya. Bangun koneksi melalui pelukan, pujian tulus, dan waktu berkualitas. Disiplin tetap penting, tetapi harus dibalut dengan empati.
8. Memberi Contoh Self-Talk Negatif
Anak belajar cara berbicara pada diri sendiri dari orang tuanya. Ketika orang tua sering merendahkan diri sendiri, anak akan meniru pola tersebut. Tunjukkan bagaimana bersikap lembut pada diri sendiri, terutama saat melakukan kesalahan. Sikap ini mengajarkan anak bahwa tidak apa-apa untuk tidak sempurna.
Sahabat Fimela, kepercayaan diri anak tidak terbentuk dari kata-kata motivasi semata, melainkan dari pengalaman sehari-hari yang aman, suportif, dan penuh kepercayaan. Pola asuh yang tepat bukan soal kesempurnaan, melainkan kesediaan orang tua untuk belajar, memperbaiki diri, dan terhubung dengan anak secara emosional.
Dengan menghindari kesalahan pola asuh di atas dan mulai menerapkan pendekatan yang lebih empatik, orang tua telah membantu anak membangun fondasi kepercayaan diri yang kuat—bekal penting untuk menghadapi kehidupan hingga dewasa nanti.
Penulis: Siti Nur Arisha