Fimela.com, Jakarta - Menjadi orangtua sering kali datang bersama harapan besar. Kita membayangkan anak tumbuh sesuai rencana, berperilaku “sebagaimana mestinya”, dan memenuhi standar tertentu di usia tertentu. Namun, pada kenyataannya, setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda. Terlebih bagi anak dengan tantangan seperti ADHD, kecemasan, atau kebutuhan khusus lainnya, ekspektasi yang keliru justru dapat menjadi sumber stres bagi anak maupun orang tua.
Tanpa disadari, ekspektasi yang terlalu tinggi atau tidak sesuai tahap perkembangan dapat memicu konflik, tantrum, hingga rasa gagal pada anak. Orangtua pun kerap merasa lelah dan frustrasi karena usahanya seolah tak pernah cukup. Padahal, pengasuhan yang lebih tenang bukan soal menurunkan harapan, melainkan menyesuaikannya dengan kondisi anak saat ini.
Dilansir dari Impact Parents, menggeser ekspektasi orangtua bukan berarti menyerah, melainkan bentuk penerimaan yang realistis terhadap kemampuan dan kebutuhan anak. Dengan ekspektasi yang lebih selaras, orang tua dapat menetapkan tujuan yang masuk akal, memberi dukungan yang tepat, dan menciptakan lingkungan emosional yang aman agar anak dapat berkembang sesuai kapasitas dan ritmenya.
Tips Parenting Mengelola Ekspektasi Tanpa Membebani Anak
1. Lepaskan Pola Pikir “Seharusnya”
Kata “seharusnya” sering menjadi sumber tekanan. Anak “seharusnya” sudah mandiri, “seharusnya” bisa mengatur emosi, atau “seharusnya” lebih bertanggung jawab. Pola pikir ini membuat orang tua terjebak pada standar ideal, bukan realita. Mengganti “seharusnya” dengan “saat ini anak saya mampu sampai di mana” membantu menciptakan ekspektasi yang lebih sehat.
2. Bedakan Antara Menurunkan dan Menyesuaikan Ekspektasi
Menyesuaikan ekspektasi bukan berarti berharap lebih sedikit dari anak. Justru, orangtua tetap boleh memiliki harapan tinggi, tetapi disesuaikan dengan tahap perkembangan dan tantangan yang dihadapi anak. Anak dengan kebutuhan tertentu mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai target yang sama, dan itu bukan kegagalan.
3. Gunakan Perspektif Perkembangan Anak
Banyak anak dengan tantangan emosional atau atensi berkembang lebih lambat 3–5 tahun dibanding teman seusianya dalam aspek tertentu. Dengan memahami hal ini, orangtua dapat menetapkan target yang realistis agar anak lebih sering merasakan keberhasilan, bukan kegagalan berulang.
4. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Alih-alih menuntut hasil instan, perhatikan usaha kecil yang anak lakukan setiap hari. Kemajuan sekecil apa pun layak diapresiasi. Pendekatan ini membantu anak membangun rasa percaya diri dan motivasi dari dalam, bukan karena tekanan eksternal.
5. Pilih Pertempuran dengan Bijak
Tidak semua hal harus diperjuangkan. Orangtua perlu menentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa ditoleransi. Sikap ini membantu menjaga hubungan tetap hangat dan mengurangi ketegangan di rumah.
6. Bangun Komunikasi yang Jelas dan Empatik
Pastikan anak memahami apa yang diharapkan dari mereka. Instruksi yang jelas, sederhana, dan sesuai usia akan lebih mudah diterima. Sertakan empati agar anak merasa didukung, bukan dihakimi.
7. Lepaskan Kekhawatiran tentang Penilaian Orang Lain
Salah satu beban terbesar orangtua adalah takut dinilai gagal oleh lingkungan sekitar. Padahal, fokus utama seharusnya adalah kebutuhan anak, bukan pandangan orang lain. Ketika orangtua merasa lebih tenang, anak pun akan ikut merasakan rasa aman tersebut.
Mengelola ekspektasi adalah proses yang membutuhkan kesadaran dan latihan. Dengan menyesuaikan harapan sesuai kondisi anak, orangtua tidak hanya membantu anak tumbuh lebih percaya diri, tetapi juga menciptakan suasana keluarga yang lebih sehat dan penuh pengertian.
Penulis: Siti Nur Arisha